
Seorang lelaki kini tengah menatap rumah yang tampak sepi, karena sang pemilik rumah sudah terlelap tidur. Lelaki itu adalah Regi.
"Kalian yakin kalau rumah ini tempat persembunyiannya?" Tanya Regi.
"Iya, bos. Saya sangat yakin. Sebab Pak Yusuf dan istrinya ada di dalam rumah tersebut," jawab bawahannya, yang berambut gondrong.
Regi tersenyum miring dan akhirnya penantiannya selama berbulan-bulan membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan tempat persembunyian Sonya selama ini. Pastinya, Tuan Yusuf tidak mencurigainya kalau selama ini dia sudah diintai oleh bawahannya.
"Kaliaan berdua terus berada disini dan pantau mereka semua, tapi ingat jangan sampai ketahuan."
"Siap, bos."
Regi tersenyum miring sambil menatap rumah tersebut. "Siap-siap kamu Sonya, karena sebentar lagi kamu akan merasakan siksaan dariku."
Setelah itu, Regi pergi meninggalkan tempat tersebut dan jika situasi aman, Regi akan membawa paksa Sonya.
Sonya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya yang sudah menghilangkan nyawa kekasihnya dan kali ini Regi tidak akan melepaskan Sonya.
Pagi pun menjelang. Chandra sudah bangun sebelum Tuan Yusuf dan istrinya bangun. Chandra tidak mau membuat Tuan Yusuf curiga, karena sudah berani tidur bersama dengan Sonya.
Chandra kini tengah memasak air. Sonya yang baru bangun tidur mendekatinya sambil menggelung rambutnya.
"Mas mau buat kopi?" Tanya Sonya.
"Iya," jawab Chandra.
Kemudian Sonya melangkah menuju kamar mandi.
Air pun sudah mendidih dan segera dituangkan ke dalam gelas yang sudah ada kopinya, lalu Chandra membawa kopinya ke depan. Chandra duduk di teras sambil menghirup udara segar di pagi hari.
Matahari pun belum menampakkan sinarnya dan suara ayam sudah berkokok menyambut pagi ini. Sonya yang sudah selesai mandi, kini tengah bersiap untuk pergi ke warung sayur.
__ADS_1
"Mas, aku ke warung dulu ya," ucap Sonya.
"Mau aku antar?" Tawar Chandra.
"Nggak usah, cuma ke warung doang. Kalau ke pasar baru minta anterin."
"Iya-iya, hati-hati di jalan," ucap Chandra yang dianggukin oleh Sonya.
Setelah kepergian Sonya, Chandra pun masuk ke dalam rumah.
***
Melihat Sonya tengah pergi sendiri, bawahan Regi segera menelpon Regi.
"Halo, bos. Perempuan yang kita incar tengah pergi sendirian," lapornya.
"Ikutin dia dan jika situasi aman, kalian culik Sonya. Bawa Sonya ke tempat yang sudah kita sewa."
"Baik, bos." Telpon pun mati dan segera menjalankan tugasnya tanpa harus dicurigai oleh orang-orang.
"Aku akan membuat sarapan yang paling enak," gumam Sonya sambil mengangkat kantong plastik berisi sayuran. Sonya tersenyum mengingatkan semalam mamanya memuji masakannya.
Sonya segera pulang. Perjalanan menuju pulang, Sonya tidak menyadari kalau ia tengah diikuti oleh bawahannya Regi.
Saat akan berbelok ke arah jalan rumahnya dan kebetulan disekitar sana sepi. Bawahan Regi yang berambut gondrong segera membekap Sonya.
"Mmm...." Sonya memberontak dan berusaha melepaskan diri.
Melihat si gondrong berhasil menangkap Sonya, Ucok cepat-cepat membantu si gondrong membawa Sonya ke dalam mobil.
"Ucok, cepat bawa mobilnya," suruh si gondrong sambil memperhatikan sekitarnya, takut aksinya ketahuan oleh warga.
__ADS_1
Ucok pun mengangguk dan segera menjalankan mobilnya.
"Lepaskan aku! Tolong...!" Teriak Sonya, berharap teriakannya didengar oleh warga.
"Diam!" Bentak si gondrong, yang kini mengeluarkan sebilah pisau untuk mengancam Sonya.
"Siapa kalian! Siapa yang suruh kalian?!" Sonya bertanya penuh emosi.
"Nanti juga kamu tahu," jawab si gondrong, yang kini meletakkan pisaunya di dekat leher Sonya.
Sonya mendengus penuh kesal dan percuma jika dirinya memberontak. Sonya diam dan mengikutinya, walau sebenarnya Sonya sangat penasaran siapa dalang dibalik penculikannya.
Sekitar dua puluh menit, mobil yang membawa Sonya tiba di sebuah villa.
"Cepat turun!"
Sonya menatap tajam wajah si rambut gondrong dan turun dari mobil. Sonya kemudian disuruh masuk ke dalam villa tersebut.
Tiba di dalam, Sonya membulatkan matanya ketika melihat Regi tengah berdiri tidak jauh dari dirinya. Sonya menelan salivanya melihat Regi yang menatapnya penuh dendam. Sonya jadi teringat dengan mimpinya dan Sonya kini memeluk perutnya. Sonya takut kalau Regi akan menyakiti buah hatinya.
Regi kemudian melangkah mendekati Sonya. Regi tersenyum miring melihat wajah Sonya yang terlihat syok, apalagi melihat Sonya memeluk perutnya.
"Hai, apa kabar?" Tanya Regi.
"Apa mau mu?" Justru Sonya balik bertanya. Meski takut Regi menyakitinya, Sonya harus terlihat berani dan tidak boleh lemah dihadapan Regi.
Regi langsung tertawa, sambil memutari tubuh Sonya.
"Kamu mau tahu apa mau ku?" Regi berhenti dibelakang Sonya.
"Aku mau kamu menderita dan aku juga mau kamu merasakan seperti yang Maya rasakan." Bisik Regi.
__ADS_1
Deg.
Sonya kembali menelan salivanya mendengar ucapan Regi. Akan tetapi Sonya tidak akan tinggal diam dan Sonya tidak boleh kalah ditangan Regi. Bagaimana pun caranya ia harus terbebas dari jeratan Regi.