Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Tuan Yusuf


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, Chandra saat ini tengah menemani tuan Yusuf pergi ke luar kota. Sejak berangkat, perasaan Chandra terus merasa gelisah dan Chandra tidak tahu kenapa hatinya sangat gelisah.


Setibanya di Bandung, Chandra beristirahat dulu di mobil. Sedangkan tuan Yusuf, tengah menemui kliennya di dalam restoran.


Saat sedang beristirahat, ponselnya Chandra berdering. Cepat-cepat Chandra mengangkat telpon yang ternyata dari ibunya.


"Halo, Bu...."


"Chan...." Terdengar suara Isak tangis Bu Meli di ujung telepon.


"Ada apa, Bu? Kenapa ibu menangis?" Perasaan Chandra menjadi tak menentu mendengar ibunya menangis dan perasaan gelisah yang sejak tadi dirasakannya semakin kuat.


"Riri, Chan...." Suara Bu Meli terdengar tersendat-sendat dan tangisan Bu Meli begitu menyayat hati.


"Kenapa dengan Riri, Bu?"


"Riri meninggal...." Bu Meli menangis tersedu-sedu.


"Apa?" Tanpa terasa air matanya menetes dan rasanya saat ini juga Chandra ingin langsung menemui Riri untuk terakhir kalinya, tapi apalah daya, saat ini dirinya tengah berada di luar kota.


"Bu... Chandra coba minta izin ke bos-nya Chandra untuk pulang ke Jakarta."


"Iya, nak. Ibu tunggu kamu."


Setelah itu sambungan teleponnya mati. Chandra lalu keluar dari mobil dan mencari tuan Yusuf.


"Maaf Tuan, saya mengganggu. Boleh bicara sebentar, tuan?" Kata Chandra, lalu tuan Yusuf meminta izin kepada kliennya untuk berbicara dengan Chandra di luar restoran.


"Mau bicara apa?"


"Mm... Apa saya boleh balik ke Jakarta sekarang juga? Soalnya... Adik saya meninggal." Chandra berbicara dengan sangat hati-hati, karena tuan Yusuf itu sangat tidak suka bila pekerjaannya terganggu.


"Meninggal?"


"Iya, tuan. Apa saya boleh balik ke Jakarta?" ucap Chandra dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Kalau kamu balik ke Jakarta sekarang, terus saya pulang sama siapa? Nanti saja kamu balik ke Jakarta-nya. Suruh saja ibu kamu untuk menunda adik kamu dikuburkan," jawab tuan Yusuf tanpa memikirkan perasaan Chandra.


"Tapi, tuan...."


"Tidak ada tapi-tapian! Sudah, kamu ikuti saja apa kata saya!"


Ucapan tuan Yusuf benar-benar tidak mau di bantah. Chandra hanya pasrah dan menuruti perkataan tuan Yusuf, meski dirinya tengah dirundung rasa sedih.


"Sana! Kamu tunggu lagi di mobil. " Titah tuan Yusuf sembari mengibaskan tangannya, lalu tuan Yusuf kembali masuk ke dalam restoran.


Chandra mendesah samar dan mengusap wajahnya. "Adek, maafin mas...." Lirih Chandra, yang gagal bisa balik cepat ke Jakarta.


Chandra segera menelpon ibunya dan deringan pertama, langsung diangkat oleh Bu Meli.


"Halo, nak. Gimana? Apa kamu diizinkan pulang?" Kali ini ibunya tidak lagi menangis, tapi suara ibunya tetap terdengar sendu.


"Maaf, Bu. Chandra tidak bisa pulang." Sesal Chandra.


"Ya sudah nggak apa-apa, ibu ngerti kok. Kalau gitu ibu tutup dulu telponnya, ibu harus segera urus pemakaman Riri."


"Iya, nak. Selesaikan saja dulu pekerjaanmu dan jangan terlalu dipikirkan," sambung Bu Meli.


Setelah mengakhiri telponnya, Chandra perlahan membuang nafasnya, mengurangi rasa sesak di dadanya.


***


Chandra pikir, setelah pekerjaannya tuan Yusuf selesai bisa segera balik ke Jakarta, tapi ternyata tuan Yusuf memilih menginap di hotel dan tidak peduli dengan keadaan dirinya yang tengah berduka.


Chandra juga sudah mengikhlaskan kepergian Riri, walau tidak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya. Chandra hanya bisa mendoakan Riri dan berharap Riri tenang di alam sana.


Chandra menatap langit-langit kamar hotel dengan tatapan sendu. Chandra mengingat kembali momen kebersamaan dengan adik tercintanya dan setetes air mata jatuh, mengenang sang adik.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Chandra segera membukakan pintunya.


"Chandra, ikut saya keluar."

__ADS_1


"Baik, tuan. Saya ambil jaket dulu," jawab Chandra.


"Iya, saya tunggu kamu di lobby."


Chandra mengangguk dan segera menyambar jaketnya. Kini Chandra dan tuan Yusuf sudah berada di dalam mobil.


"Maaf, tuan. Kita pergi kemana?" Tanya Chandra, karena sampai detik ini tuan Yusuf belum memberitahukan kalau mau pergi kemana.


"Kita pergi ke jalan Sukajadi."


Chandra mengangguk dan segera mengarahkan mobilnya ke daerah Sukajadi. Tiba di daerah sana, Chandra di arahkan ke komplek mewah dan berhenti di sebuah rumah besar dan mewah.


"Kamu tunggu disini." Perintah tuan Yusuf.


"Iya, tuan."


Tuan Yusuf segera keluar dari mobil dan kedatangannya di sambut oleh wanita cantik, yang usianya tidak jauh dari Sonya.


Hampir empat jam Chandra menunggu tuan Yusuf di teras rumah, bahkan Chandra sampai terkantuk-kantuk menunggu tuan Yusuf.


Setelah lama menunggu, akhirnya tuan Yusuf pun keluar dengan seorang anak kecil yang sedang digendongnya. Wanita cantik itu juga mengantarkan tuan Yusuf sampai depan rumahnya.


"Mas balik lagi ke hotel ya...." Kata tuan Yusuf, tapi wanita itu hanya merengut manyun.


"Jangan ngambek. Besok pagi mas balik lagi kesini," sambung tuan Yusuf.


"Tapi janji, besok harus datang lagi kesini." Wanita itu berkata dengan nada tegas.


"Iya, mas janji." Lalu tuan Yusuf mengalihkan pandangannya ke anak kecil yang tengah digendongnya.


"Sayang, Om pulang dulu ya."


"Iya, papa." Jawab anak kecil itu.


Chandra terhenyak mendengar perkataan anak kecil itu. "Papa?" Gumam Chandra, lalu Chandra kembali melihat interaksi antara tuan Yusuf dengan anak kecil itu. Keduanya terlihat sangat akrab.

__ADS_1


Apa selama ini tuan Yusuf berselingkuh dan menghasilkan seorang anak dari selingkuhannya?


__ADS_2