Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Punggung yang gatal


__ADS_3

Sonya dan Chandra kini tengah makan malam yang tadi dibawakan oleh bibi Yanti. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Sonya yang menyiapkan makanannya untuk Chandra. Melayani seperti halnya seorang istri, bukan sebagai atasannya.


"Terima kasih," ucap Chandra dan segera melahapnya.


Sonya tersenyum senang, lalu Sonya pun juga menghabiskan makanannya.


Selesai makan, Sonya langsung membereskan piring kotornya. Akan tetapi gerakan tangannya terhenti saat Chandra mencegahnya.


"Biar sa-, eh! Maksudku biar aku saja yang membereskannya. Kamu istirahat saja," ucap Chandra lembut.


"Nggak apa-apa. Lagian ini sudah tugasku."


"Tapi aku tidak mau kamu kelelahan." Bagaimana pun Sonya adalah tanggung jawabnya dan Tuan Yusuf sudah menitipkannya kepadanya. Bukan hanya sekedar status tapi juga Sonya adalah anak dari Tuan nya.


"Mas...." Akan tetapi Chandra membantu Sonya berdiri dan menggiring Sonya masuk ke kamar dan mendudukkan Sonya di tepi kasur.


"Jika kamu ingin menjadi istri yang baik, maka kamu harus menuruti perkataan ku." Chandra berkata tegas.


"Baiklah," jawab Sonya mengalah. Setelah itu Chandra pun meninggalkan Sonya.


Tidak lama, Chandra pun kini sudah kembali ke kamar sambil membawa tikar yang di pinjamkan oleh bibinya. Chandra menghamparkan tikarnya di lantai dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Kenapa tidur di bawah?" Ucap Sonya, sambil mengerutkan keningnya.


"Memang seharusnya aku tidur di bawah." Chandra tetap harus mematuhi surat perjanjian pranikah yang sudah disepakati bersama.


Sonya mendengus dan kini Sonya pun ikut merebahkan dirinya di samping Chandra.


"Kenapa Non-, eh! Kamu ikut tidur disini?"


"Memang kenapa? Apa ada yang salah? Bukannya kita ini sudah menikah. Jadi wajarlah kalau kita tidur bersama dan ini bukan yang pertama kita tidur bersama kan."


"I-iya... Tapikan---." Ucapan Chandra langsung dipotong dengan ciuman bibir ringan oleh Sonya. Padahal ia ingin mengingatkan lagi soal perjanjian pranikah nya. Meski Sonya lah yang sering melanggarnya.


"Sudah jangan banyak bicara. Pokoknya aku akan tetap tidur disamping kamu."


Chandra menghela nafasnya dan mengalah. Yang terpenting ia tidak menyentuh Sonya dan berharap tuan Yusuf tidak memarahinya, karena lagi-lagi harus tidur bersama dengan Sonya.


Pada akhirnya Chandra kini tidur di atas ranjang. Sonya langsung memeluk tubuh jangkung Chandra yang tampak kaku.


Malam pun semakin larut, Chandra yang belum tidur menyingkirkan tangan Sonya dari tubuhnya. Kemudian Chandra pindah tidurnya di atas tikar.


***

__ADS_1


Keesokan paginya, Sonya terbangun dan tidak mendapati Chandra disampingnya.


"Apa mas Chandra sudah bangun?"


Sonya segera keluar dari kamar dan mencari keberadaan Chandra. Akan tetapi Sonya tidak menemukan Chandra di dalam rumah.


"Mas Chandra kemana ya? Dicariin dimana-mana kok nggak ada?" Sonya kebingungan mencari Chandra. Lalu Sonya melangkah keluar dari rumah.


"Sebenarnya mas Chandra pergi kemana?" Sambil tengok kanan dan kiri.


Sonya pun memilih masuk lagi ke dalam rumah dan baru saja menutup pintu, suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah.


"Apa itu mas Chandra ya...." Sonya membuka lagi pintu rumahnya dan benar saja, Chandra keluar dari mobil sambil menenteng satu kantong plastik.


"Mas darimana?" Tanya Sonya, sambil menggandeng tangan Chandra.


"Aku habis cari sarapan, sekalian beli pulsa."


"Oh...."


Chandra mengambil tikar di kamar, lalu membentangkan tikarnya di ruang tengah.


"Ayo, kita sarapan dulu," ajak Chandra yang kini membuka makanannya.


Keduanya segera melahapnya. Selesai sarapan Chandra segera menelpon ibunya, sekaligus mengabarkan keadaannya sekarang.


Di deringan pertama langsung diangkat oleh ibunya.


"Halo, Chan...." Jawab ibu Meli di ujung telpon.


"Bu, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, ibu baik. Kapan kamu akan pulang?"


Chandra langsung berubah sedih mendengarnya dan ia juga sudah sangat merindukan ibu tercintanya itu.


"Chandra belum bisa pulang. Mm... Bu, bagaimana kalau ibu menyusul saja ke sini. Saat ini Chandra lagi kampungnya bibi Yanti."


"Loh! Ngapain kamu di sana?"


"Nanti Chandra jelaskan jika ibu ke sini."


"Baiklah, ibu akan menyusul kamu ke sana," jawab ibu Meli.

__ADS_1


Ada rasa senang mendengar ibunya bersedia datang ke sini.


"Ya sudah, telponnya sudah dulu. Kabarin Chandra jika ibu mau berangkat, agar nanti Chandra jemput ibu di stasiun."


"Iya... Titip salam buat bibi mu dan mang mu."


Panggilan telepon pun kini terputus. Chandra tersenyum karena sebentar lagi rasa rindunya terhadap ibunya akan terobati dan Chandra juga tidak akan terus kepikiran dengan ibunya yang tinggal seorang diri di Jakarta.


Chandra juga harus memberi kabar kepada tuan Yusuf, soal keberadaannya.


"Mas....." Panggil Sonya dari dalam kamarnya.


"Iya," jawab Chandra yang baru saja selesai menelpon tuan Yusuf.


Chandra segera melangkah ke dalam kamar. "Kenapa?"


"Punggung ku gatal banget dan gatalnya germet-germet. Tolong mas taburkan bedak dingin ini ke punggung ku," seraya menyerahkan bedaknya ke Chandra.


Chandra tertegun dengan apa yang di suruh Sonya.


"Mas Chandra, ini bedaknya...."


"I-iya...."


Dengan ragu-ragu Chandra mengambil bedaknya, lalu Sonya membalikkan badannya dan membuka pakaiannya. Chandra langsung mengalihkan pandangannya ketika kulit punggung Sonya terbuka. Jika boleh memilih, Chandra tidak mau melakukannya.


"Mas, cepatan taburin bedaknya. Ini gatel banget," keluh Sonya sambil menggaruk punggungnya.


"I-iya...."


Dengan ragu Chandra menaburkan bedaknya ke punggung Sonya, kemudian meratakan bedaknya. Nafas Chandra seolah berhenti ketika tangannya menyentuh kulit punggung Sonya yang merah-merah.


"Su-sudah...." Ucap Chandra.


"Terima kasih, mas," jawab Sonya, yang membalikkan badannya. Lagi-lagi Chandra harus menelan salivanya melihat bagian depan Sonya yang hanya tertutup selembar bra.


Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Sonya mencium pipi Chandra. Membuat Chandra kalang kabut dan jantung Chandra semakin berdetak tak karuan.


"Pa-pakai la-lagi bajumu," suruh Chandra sambil memalingkan wajahnya. Bagaimana pun Chandra lelaki normal, bagaimana kalau ia tidak bisa menahan diri.


"Pakaiin," canda Sonya sembari mengulum senyumnya, melihat wajah merah Chandra.


"Pakai sendiri." Chandra jelas menolaknya. Apa Sonya tidak tahu kalau Chandra tengah menahan diri agar tidak tergoda? Bahkan jantungnya saja bertalu-talu.

__ADS_1


"Baiklah...." Jawab Sonya mengalah.


__ADS_2