
"Nggak, Ma... Mas Chandra nggak mungkin ninggalin aku," ucap Sonya dengan suara bergetar.
Tidak... Chandra-nya tidak akan meninggalkannya. Chandra-nya sudah berjanji akan pulang.
Nyonya Puspa mengusap punggung Sonya, mencoba menenangkan Sonya yang semakin terisak-isak.
Nyonya Puspa juga ikut bersedih atas apa yang menimpa Chandra. Pasti sangat berat bagi Sonya menerima kenyataan ini.
"Sabar, Sayang...." Ucap Nyonya Puspa.
***
Sonya berjalan tergesa-gesa menuju tempat dimana Chandra berada. Air matanya semakin deras bercucuran. Hatinya sangatlah hancur.
Sebelumnya Sonya menelpon Ezar, menanyakan dimana Chandra berada.
Ditemani Nyonya Puspa, Sonya terus melangkahkan kakinya cepat. Ia sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Chandra, lelaki yang sangat ia cintai.
Dari jarak beberapa meter, Sonya sudah melihat Ezar berdiri bersama seorang polisi. Jantungnya semakin berdegup kencang. Sonya harus menelan salivanya berkali-kali, walau terasa sangat sulit.
"Sonya...." Ezar menatap sedih wajah Sonya.
"Bang. Mana Mas Chandra?" Tanya Sonya ketika sudah menghampiri nya.
"Di dalam sana." Tunjuk ke arah pintu yang tertutup.
"Aku ingin menemui nya?" Ucap Sonya dengan derai air mata.
Ezar mengangguk. "Tapi kamu harus kuat," ujar Ezar.
Entahlah... Apa ia sanggup?
Perlahan Sonya melangkah ke arah ruangan tersebut, dengan hati yang bergemuruh. Rasanya kakinya semakin berat melangkah. Ia takut... Sangat takut dan tidak sanggup.
Sebelum membuka pintunya, Ezar menatapnya dan menepuk pelan lengannya.
"Kamu siap bertemu dengannya?"
Sonya mengangguk kecil.
Kemudian Ezar membuka pintunya, mempersilahkan Sonya masuk. Sebelum masuk, Sonya berusaha meneguhkan hatinya, mencoba untuk kuat. Walau rasanya kaki ini sangat berat melangkah ke dalam.
Sonya masuk ke dalam dan tangisannya semakin pecah. Sonya membekap mulutnya, melihat apa yang ada didepannya.
"Mas...." Lirih Sonya.
Seorang lelaki tengah menatapnya intens. Lalu, lelaki itu mendekati Sonya. Sedangkan Sonya terpaku melihat lelaki yang kini sudah berdiri didepannya. Lelaki itu adalah...
"Selamat ulang tahun," ucap Chandra, dengan senyum terkembang.
Bukan pelukan yang di dapat Chandra, tapi sebuah pukulan yang Chandra terima.
__ADS_1
Bugh... Bugh... Bugh...
Sonya memukul Chandra menggunakan tasnya.
Apa Chandra tidak tahu, berapa takutnya ia saat tahu kalau Chandra meninggalkannya dan seperti apa sedihnya ia kehilangannya, tapi ternyata ia di prank. Sangat menyebalkan dan keterlaluan.
"Sayang...! Sakit," ringis Chandra, karena Sonya terus saja memukulnya.
"Biarin!" Salak Sonya kesal.
"Ampun sayang ampun!"
Sonya menghentikan pukulannya. Napasnya naik turun karena kesal, marah, dan juga lega.
"Maaf," ucap Chandra sungguh-sungguh. Lalu Chandra memeluk Sonya, tapi Sonya tak mau di peluk. Ia masih sangat kesal bin marah.
"Nggak lucu!" Sentak Sonya, seraya mengusap air matanya yang sialnya terus saja mengalir.
"Maaf...." Chandra mencoba meraih tubuh Sonya, tapi lagi-lagi Sonya menolaknya.
"Kamu tahu... Gimana sedih dan hancurnya aku, saat tahu kalau kamu meninggal."
Chandra diam dan membiarkan Sonya meluapkan kemarahannya. Chandra tak berniat menyela setiap ucapan yang keluar dari mulut Sonya.
"Aku nggak suka lelucon mu! Bagiku ini sudah keterlaluan!" Sonya terus saja meluapkan kekesalannya.
Tapi sedetik kemudian Sonya langsung menubruk tubuh Chandra, sembari memukul dada Chandra.
"Maaf... Aku janji nggak akan mengulangi lagi." Ucap Chandra sungguh-sungguh. Sebenarnya Chandra tak berniat membuat rencana seperti ini. Semua ini ide dari Tuan Yusuf.
Chandra semakin mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Sonya.
Dan seketika seluruh lampu di ruangan itu menyala terang benderang. Sonya yang berada di pelukan Chandra terperangah melihat semua orang yang dia sayangi kumpul. Jangan ketinggalan dengan kue ulang tahunnya.
Semuanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Walau kesal dan marah, tapi Sonya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Selesai tiup lilin. Semuanya mengucapkan selamat kepada Sonya.
"Maafin mama ya, sudah buat kamu sedih," ucap Nyonya Puspa dengan senyum dikulum.
Sonya mendelik sebal.
Hebat... Akting mama-nya sangat sempurna. Kalau ada penghargaan, pasti mama-nya yang jadi pemenang.
***
"Kita akan menginap disini?" Tanya Sonya, yang saat ini tengah menyusuri lorong hotel.
Chandra mengangguk, sambil terus menggenggam tangan Sonya.
__ADS_1
Tidak lama, keduanya sudah sampai di depan pintu suite room. Chandra menempelkan cardlock dan membuka pintunya. Sonya lebih dulu masuk di susul Chandra sambil menutup pintu.
Sonya berdiri menatap sekeliling kamar hotel tersebut. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya.
"Maaf untuk hari ini," ucap Chandra.
Sonya mengangguk kecil. "Iya... Tapi jangan diulangi lagi, aku nggak suka."
Chandra mengangguk sambil mencium kepalanya.
Kemudian Chandra memiringkan kepalanya Sonya. "Selamat ulang tahun Non Sonya," bisik Chandra mesra dan menatap bola mata Sonya penuh cinta.
Chandra langsung mengulum bibir Sonya lembut.
"Terima kasih sudah mencintai ku. Lelaki yang dulunya hanya seorang sopir dan tidak pernah bermimpi bisa memilikimu."
Sonya mengubah posisinya menghadap Chandra. "Karena Tuhan kita bisa bersatu," balas Sonya.
"Berjanjilah satu hal sama aku."
"Apa?" Sahut Chandra, sambil mengelus pipi Sonya yang halus.
"Kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku."
Chandra tersenyum dan mengangguk. "Aku janji...."
Chandra melirik ranjang yang masih rapi, lalu menatap Sonya yang tengah tersenyum. Tanpa pikir panjang Chandra langsung mengangkat tubuh Sonya.
"Aargh...!" Pekik Sonya.
"Sstt... Jangan teriak. Teriaknya nanti saja kalau aku berhasil menjebol gawang," ucap Chandra sambil mengedipkan matanya.
Sonya merona mendengar perkataan Chandra.
Chandra membaringkan tubuh Sonya di ranjang, yang langsung ia tindih tubuhnya Sonya.
Diciumnya kening Sonya, lalu kedua matanya, kemudian turun ke bibir. Mengisapnya penuh dengan kelembutan.
Malam ini, Chandra menginginkan Sonya terus memanggil namanya berkali-kali dan mengajak Sonya menuju indahnya cakrawala. Berpetualang menyusuri indahnya telaga cinta.
Chandra bergerak di setiap jengkal tubuh Sonya. Merayu kulit tubuh Sonya dengan mesra. Meraih apa yang ingin ia raih, menikmati keindahan yang dimiliki Sonya dan Sonya menikmati setiap sentuhan manisnya.
"Mas...." Sonya mendesah disela-sela ia tengah mengayunkan tubuhnya.
Berkali-kali pula Sonya menjerit memanggilnya. Hingga tiba waktunya untuh meledakkan benih cintanya.
"Terima kasih, Sayang...."
( TAMAT )
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI CERITA INI. MAAF, JIKA ENDINGNYA KURANG MEMUASKAN.
SALAM HANGAT DARI OTHOR ππ