
Seminggu sudah Chandra dan Sonya tinggal di sana dan kemarin sore ibu Meli mengatakan kalau beliau akan datang menemuinya dan ibu Meli akan berangkat pagi-pagi sekali.
Sonya yang mendengar kalau mertuanya mau datang, kini tengah disibukkan dengan berbenah rumah. Selesai beres-beres rumah, Sonya pergi ke warung sayur. Ia ingin menyajikan masakan yang istimewa dan ia sudah belajar memasak sama bibi Yanti.
Selesai belanja sayuran, Sonya kini tengah berada di dapur. Chandra tersenyum simpul melihat Sonya yang begitu sibuk pagi ini. Kemudian Chandra duduk di samping Sonya.
"Aku bantuin ya...."
"Boleh," jawab Sonya.
"Memangnya mau masak apa?" Tanya Chandra, sambil mengupasi bawang putih.
"Mau masak kentang balado, ayam goreng dan sayur capcay."
Chandra manggut-manggut dan berharap masakan Sonya kali ini rasanya lebih baik dari sebelumnya dan mudah-mudahan ibunya tidak berkomentar banyak soal masakan Sonya.
Selama proses memasak, Chandra selalu membantu Sonya sampai Sonya selesai memasak.
Sonya tidak mau nantinya mengecewakan ibu mertuanya dan Sonya berharap masakannya enak.
Kurang lebih dua jam, Sonya dan Chandra memasak. Setelah itu Chandra bersiap-siap untuk menjemput ibunya yang dua jam lagi sampai di stasiun kereta api.
Sonya mendengus melihat Chandra begitu rapi dengan pakaian kemeja yang dipadukan dengan jaket kulit, padahal Chandra hanya menjemput ibunya, tapi pakaian Chandra begitu keren di mata Sonya.
"Aku ikut ya...." Pinta Sonya.
"Nggak usah, kamu tunggu saja di rumah."
"Pokoknya aku mau ikut," kekeuh Sonya, karena Sonya tidak mau kalau nanti ada perempuan yang mendekati Chandra dan bila dirinya ikut, otomatis ia akan memberi peringatan kepada perempuan-perempuan ganjen yang melirik Chandra.
"Oke... Kamu boleh ikut."
Sonya tersenyum senang dan cepat-cepat Sonya bersiap-siap.
"Sudah, ayo...." Kata Sonya.
Sekitar setengah jam perjalanan menuju stasiun kereta api dan kini keduanya sudah sampai di stasiun.
"Ibu sampai jam berapa?" Tanya Sonya.
"Sekitar jam satuan."
"Oh...." Seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kita tunggu di sana," ujar Chandra.
"Tunggu dulu!" Sonya mencegah Chandra yang mau melangkahkan kakinya
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tangannya mana?" Pinta Sonya.
"Untuk apa?" Meski bingung Chandra mengangkat tangannya dan Sonya langsung meraih tangannya Chandra, lalu Sonya menggenggam tangan Chandra.
"Lain kali, kalau kita lagi di luar rumah Mas harus menggandeng tanganku." Sonya memberi peringatan. "Coba... Kalau seandainya aku di gondol sama laki-laki bagaimana?" Alibi Sonya, yang sebenarnya ia yang takut kalau Chandra di ambil perempuan lain.
Chandra tersenyum mengerti, kemudian Chandra mengelus kepala Sonya. "Iya... Lain kali aku akan peka."
Perlakuan manis Chandra yang mengelus kepalanya, membuat hati Sonya berbunga-bunga. Ah... Senangnya hati Sonya.
Chandra dan Sonya kini tengah menunggu di dekat pintu keluar stasiun.
"Mau aku belikan makanan?" Tawar Chandra. Takut kalau Sonya kelaparan, sebab sudah waktunya jam makan siang.
"Aku nggak lapar, tapi kalau minum aku mau, Mas."
"Kalau gitu aku beli minum dulu."
Chandra segera membeli minuman untuk Sonya dan Sonya terus saja memperhatikan Chandra dari kejauhan. Baru saja Sonya mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya, seorang perempuan muda menghampiri Chandra.
"Hai, Mas... Boleh kenalan?" Kata perempuan itu, dengan senyum manisnya.
"Kenalan?"
"Iya... Namaku Miera. Kalau Mas namanya siapa?"
"Sayang...." Sonya langsung melingkarkan tangannya di lengan Chandra. Sonya menatap tajam wajah perempuan itu. Baru saja ditinggal beberapa menit saja, langsung ada perempuan gatel yang mau mendekati Chandra.
"Mana minumnya? Aku haus Mas." Sonya berkata dengan nada manja dan Sonya melingkarkan tangannya posesif. Ia tengah menunjukkan kalau lelaki dihadapannya adalah miliknya.
"Ini minumnya." Chandra membuka botol air minumnya dan perempuan itu perlahan mundur pergi dari hadapan Chandra dan Sonya.
Sonya tersenyum samar, karena berhasil menghalau perempuan-perempuan ganjen yang ingin dekat dengan Chandra.
***
Setelah lama menunggu, akhirnya ibu Meli sudah tiba di stasiun dengan selamat. Chandra menyongsong kedatangan sang ibu tercintanya.
Chandra langsung memeluk ibu Meli. Akhirnya rasa rindu terhadap sang ibu kini terobati.
"Aku senang bisa bertemu dengan ibu lagi," kata Sonya, yang langsung memeluk ibu Meli.
"Ibu juga senang bisa bertemu dengan kalian," jawab Bu Meli, tak kalah senangnya.
"Ayo kita pulang," ajak Chandra. Lalu ketiganya segera pulang ke rumah.
Kini Chandra, Sonya dan ibu Meli sudah tiba di rumah. Bu Meli menatap bangunan rumah tersebut. Rumah yang sangat sederhana dan juga tidak besar.
"Ayo, Bu masuk...." Ajak Sonya, yang langsung menggandeng tangan ibu Meli. Sedangkan Chandra menurunkan barang bawaan ibunya.
__ADS_1
"Ibu duduk dulu. Aku buatkan minum dulu," ujar Sonya yang langsung melangkah ke dapur.
Sebenarnya di dalam hati ibu Meli, banyak sekali pertanyaan. Kenapa anak dan menantunya harus tinggal di kampung? Apa mungkin mertuanya Chandra masih sangat marah terhadap anak dan mantunya, sehingga keduanya harus tinggal di kampung ini.
Sonya keluar dari dapur dan membawa minuman untuk ibu Meli dan Chandra, serta setoples makanan ringan.
"Ini Bu, minumannya...." Seraya meletakkan minuman tersebut di meja. Kemudian Sonya duduk di samping ibu Meli.
"Rumah Yanti jauh nggak dari sini?" Tanya ibu Meli.
"Lumayan." Chandra yang menjawabnya dan meminum minuman yang di buat oleh Sonya.
"Ibu mau ke sana?" Tanya Sonya.
"Iya, tapi nanti. Ibu masih capek."
Satu jam melepas rindu dengan ibu tersayangnya, dan di lanjutkan untuk makan siang yang sudah lewat.
"Ini semua kamu yang masak?" tanya ibu Meli kepada Sonya.
"Iya, Bu... Maaf jika makanannya tidak enak," tukas Sonya rendah diri.
"Masakan menantu ibu pasti enak."
Walau Sonya sudah berusaha sebaik mungkin memasaknya, tetap saja rasa masakannya kurang pas dan untung saja ibu Meli tidak mempermasalahkannya.
Selesai makan siang, Bu Meli memilih untuk beristirahat sejenak. Chandra dan Sonya pun kini tengah berada di kamar.
"Aku senang ibu tinggal sama kita," ucap Sonya, yang kini menyandarkan kepalanya di dada Chandra. Entah sejak kapan Sonya sangat suka bersandar di dada Chandra dan itu membuat Sonya nyaman.
"Sama. Aku juga senang dan setidaknya aku tidak mencemaskan ibu yang tinggal sendirian di Jakarta."
"Semoga saja ibu mau tinggal sama kita selamanya," balas Sonya dengan senyum kecil. Kemudian Sonya mendongakkan kepalanya menatap wajah Chandra yang kini tengah mengelus kepalanya.
Pandangan Sonya kini jatuh ke bibir tebal Chandra. Kemudian Sonya mendekatkan wajahnya ke bibir Chandra dan memagut bibir Chandra lembut.
Chandra yang mendapatkan ciuman mendadak hanya bisa pasrah dan jika ia menolaknya pasti Sonya akan ngambek dan pastinya susah dibujuk.
"Balas ciuman aku...." Bisik Sonya, karena Chandra tidak membalasnya dan juga Chandra masih sangat kaku soal cium mencium.
Chandra mengangguk dan Sonya kembali menyambar bibir Chandra dan kali ini Chandra membalasnya meski sangat kaku. Maklum, selama ini Chandra tidak pernah berciuman dengan lawan jenisnya.
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1