
Setelah Sonya keluar dari kamar mandi, Chandra berusaha menetralkan degup jantungnya yang sejak tadi berdetak tak karuan.
"Untung saja tongkatku nggak bangun," gumam Chandra, padahal saat Sonya tiba-tiba naik ke tubuhnya, kaki Sonya menyenggol tongkat nya.
Chandra kemudian keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju kamar. Sebelum masuk ke kamar, Chandra terlebih dulu menarik nafasnya dalam-dalam dan hembuskan perlahan.
Chandra berusaha bersikap biasa saja, saat kedua kakinya melangkah masuk ke dalam kamar. Sonya yang mengetahui Chandra masuk ke kamar, memilih berpura-pura tidur dan pastinya membelakangi Chandra.
Hampir satu jam Sonya berusaha untuk tidur, tapi ternyata sampai detik ini Sonya tidak bisa tidur. Apalagi Sonya sudah merasa pegal dengan posisi tidurnya yang membelakangi Chandra, Sonya kemudian merubah posisi tidurnya menghadap Chandra dan berharap Chandra sudah terlelap tidur.
Sonya terkejut saat membalikkan badannya, ternyata Chandra juga masih membuka matanya. Sonya maupun Chandra kini tampak canggung. Sonya masih merasa malu dengan kejadian dikamar mandi dan Chandra tidak bisa melupakan bayangan area sensitifnya Sonya.
Keduanya hanya saling tatap dan bingung mau bicara apa. Pada akhirnya Chandra bersuara.
"Tidur lagi," suruh Chandra.
"Iya," jawab Sonya. Kemudian Chandra mendekati Sonya, karena setiap tidur Sonya selalu minta di peluk olehnya. Sonya pun tersenyum kecil, karena Chandra mengerti kalau dirinya membutuhkan pelukannya untuk tidur.
****
Hari-hari terus berlanjut dan tanpa terasa sekarang usia kandungan Sonya sudah tujuh bulan. Sonya tengah tersenyum lebar ketika ia dan Chandra memeriksakan diri ke dokter dan melihat berkembangan si kecil yang tengah bergerak di layar monitor.
"Semuanya bagus ya, Bu dan tidak ada masalah," kata dokter sambil menatap layar monitor.
Sonya merasa lega karena kandungannya baik-baik saja dan sehat. Lalu Chandra membantu Sonya bangun dari tempat tidur dan mempersilahkan Sonya untuk duduk di depan dokter.
"Vitaminnya jangan lupa diminum ya, Bu. Untuk bulan depan ibu harus cek kandungan dua minggu sekali," kata dokter sambil menulis kesehatan ibu hamil.
"Iya, dok," jawab Sonya.
"Ini bukunya dan ini resep obatnya," sembari menyerahkan buku kesehatan milik Sonya.
__ADS_1
"Terima kasih, dok. Kalau gitu kamu permisi dulu," pamit Sonya.
Setelah itu Sonya dan Chandra keluar dari ruangan dokter dan menebus obatnya terlebih dahulu.
"Mau pulang atau mau kemana dulu?" Tanya Chandra sambil menggandeng tangan Sonya.
"Pulang deh," jawab Sonya.
Sesampainya di luar klinik, Chandra membukakan pintu mobil dan saat akan naik ke dalam mobil, dering ponsel Sonya bunyi. Sonya buru-buru masuk dan duduk di mobil, setelah itu Sonya mengambil ponselnya di dalam tas.
"Mama...." Gumam Sonya sambil tersenyum senang. Sonya segera mengangkat telponnya.
"Halo, ma...." Jawab Sonya riang.
"Halo juga, nak. Gimana kabar kamu?"
"Baik. Mama sendiri gimana kabarnya?" Sonya balik bertanya.
"Mama juga baik. Mama telpon kamu mau bilang kalau mama sama papa, lusa mau menemui kamu."
"Iya... Mama serius."
"Aku tunggu mama sama papa ke sini."
"Ya sudah ya, nanti mama sambung lagi telponnya."
"Iya ma...." Sambungan telepon pun mati. Kemudian Sonya memeluk Chandra dengan penuh bahagia.
"Mama sama papa mau ke sini," ujar Sonya dengan senyum sumringah.
"Akhirnya mama sama papa kamu datang juga ke sini," sahut Chandra, tak kalah senangnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju pulang, Sonya terus menyunggingkan senyumnya. Sonya sungguh tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, karena sebentar lagi akan bertemu dengan orang tuanya yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu.
***
Hari yang di nanti pun tiba. Dimana orang tua Sonya akan datang. Dengan penuh antusias, Sonya sudah bangun sejak pagi dan ia mempersiapkan makanan spesial untuk kedua orang tuanya.
Selesai memasak, Sonya bergegas untuk mandi dan menyambut kedatangan orang tuanya.
Tepat pukul sembilan pagi, tuan Yusuf dan Nyonya Puspa tiba di rumah kontrakannya. Sonya segera menyongsong kedatangan orang tuanya penuh bahagia.
"Mama...!" Sonya langsung memeluk tubuh Nyonya Puspa.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan mama lagi. Aku kangen banget sama mama," ucap Sonya penuh haru. Bahkan air matanya kini jatuh membasahi pipinya.
"Mama juga kangen banget sama kamu, sayang," sahut Nyonya Puspa. Kemudian Nyonya Puspa melerai pelukannya dan menatap wajah putrinya yang sangat ia rindukan, lalu pandangannya kini jatuh ke perut besarnya Sonya dan mengelusnya.
"Apa cucu mama sehat?"
"Tentu saja sehat, ma," jawab Sonya sambil tersenyum.
"Ayo masuk, ma," ajak Sonya sembari menggandeng tangan Nyonya Puspa, begitu juga dengan Tuan Yusuf yang mengekori kedua wanitanya itu.
Setibanya di dalam rumah, Nyonya Puspa memperhatikan seluruh rumah yang ditempati oleh putrinya itu. Rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumah yang selama ini mereka tempati.
Kasihan sekali Sonya, harus tinggal di rumah seperti ini dan apa selama ini hidup Sonya terjamin?
Nyonya Puspa menjadi sedih dengan nasib anaknya. Sebagai seorang ibu, ingin melihat anaknya hidup dengan layak dan terjamin. Padahal selama ini Sonya selalu hidup dengan kemewahan, tapi gara-gara mencelakai Regi, Sonya harus tinggal ditempat yang tidak seharusnya Sonya rasakan.
🌺🌺🌺
__ADS_1