Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Tempat baru


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya kini Chandra sudah berada di kampung salah satu kerabatnya. Mereka tiba saat matahari sudah mulai terbit.


Chandra menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kerabatnya. Chandra menoleh ke samping dan membangunkan Sonya yang selama perjalanan hanya tertidur.


"Non... Bangun, kita sudah sampai." Sembari menggoyangkan bahunya Sonya.


"Hmm...." Sonya mengerjapkan matanya. "Sudah sampai ya...."


"Iya. Ayo kita turun."


Chandra dan Sonya kini turun dari mobil. Sonya mengedarkan pandangannya di tempat baru, tempat yang tak jauh berbeda dengan sebelumnya.


"Kita dimana?" Tanya Sonya.


"Di kampung saudara saya, Non." Jawab Chandra, kemudian Chandra segera melangkahkan kakinya ke rumah saudaranya.


Tok tok tok.


Chandra mengetuk pintu yang sudah terbuka dan keluarlah anak saudara Chandra sambil menggendong bayi.


"Mas Chandra?" Ucap Dewi terkejut. Chandra tersenyum lebar kepada Dewi.


"Emak...! Ada Mas Chandra!" Teriak Dewi. Ibunya Dewi segera menghampirinya dan terkejut melihat Chandra datang ke rumahnya.


"Ya Allah, Chandra... Masuk-masuk." Suruh bibi Yanti.


Chandra dan Sonya pun masuk, lalu Chandra mencium tangan bibi Yanti, begitu juga dengan Sonya yang ikut mencium tangan bibi Yanti.


"Ini siapa?" Tanya bibi Yanti kepada Sonya.


"Dia istriku, Bi. Namanya Sonya."


"Masya Allah... Cantik sekali istrimu, Chan," puji bibi Yanti.


Sonya tersenyum dan tersipu mendengar pujian dari bibi Yanti. Entah kenapa hatinya merasa sangat bangga menjadi istri dari Chandra.


"O iya... Gimana kabar Mba Meli?"


"Kabar ibu baik, tapi... Kalau Riri sudah meninggal beberapa bulan yang lalu," ucap Chandra sedih.


"Riri meninggal?"


"Iya...." Jawab Chandra seraya menganggukkan kepalanya pelan dan raut wajah Chandra berubah muram.


"Kamu yang sabar ya... Maaf, bibi nggak tahu soal Riri."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bi. Yang penting doakan saja semoga Riri ditempatkan di surga."


"Aamiin...."


Setelah berbincang-bincang dengan bibinya, kini Chandra dan Sonya di suruh istirahat dulu di kamar. Chandra yang semalaman menyetir mobil kini sudah jatuh ke alam mimpi. Sonya memandangi wajah damai Chandra, hatinya merasa menghangat melihat Chandra.


Terima kasih karena kamu selalu ada buat aku dan kamu juga selalu menjaga aku. Tanpa kamu, mungkin aku masih dalam rasa ketakutan. Semoga selamanya kamu bersamaku.


Kemudian Sonya ikut merebahkan dirinya di samping Chandra dan terus memandangi wajah Chandra. Sonya melingkarkan tangannya di perut Chandra dan ikut memejamkan matanya untuk tidur.


***


Siang harinya, Chandra terbangun karena mendengar suara adzan Dzuhur. Chandra terperanjat melihat Sonya tidur disampingnya.


"Kasihan Non Sonya, pasti Non sangat lelah." Gumam Chandra, yang kemudian menyingkirkan tangan Sonya dari tubuhnya.


Chandra pun kini keluar dari kamar dan bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.


Sonya mengerjapkan matanya karena merasakan pipinya di elus lembut oleh seseorang. Sonya tersenyum kepada Chandra, begitu juga dengan Chandra yang juga tersenyum manis kepadanya.


"Bangun, sudah waktunya makan siang," kata Chandra lembut.


"Iya," jawab Sonya yang langsung berdiri.


Selesai sholat, Sonya kini ikut bergabung dengan keluarga Chandra untuk makan siang bersama.


"Makannya yang banyak. Apalagi kalau lagi hamil, pasti bawaannya pengen makan terus," kata bibi Yanti.


"Iya, Bi," jawab Sonya.


Sonya kini sudah terbiasa dengan makanan ala kampung dan rasanya sungguh nikmat di lidah.


Selesai makan siang bersama, Chandra kini duduk dengan pamannya yang bernama Mang Supri.


"Mang, sebenarnya Chandra datang ke sini mau tinggal di kampung ini. Kira-kira ada nggak di kampung ini yang menyewakan rumahnya?"


Mang Supri mengingat-ingat dulu, beberapa detik kemudian mang Supri tersenyum.


"Kayaknya ada, tapi beda RT. Gimana, kamu mau?"


"Boleh, Mang. Kalau bisa hari ini juga kita ke sana," ujar Chandra.


Chandra dan mang Supri langsung berangkat ke rumah yang akan di sewa. Sesampainya di sana, Chandra bertemu dengan pemilik rumah tersebut, lalu melihat rumahnya.


"Gimana? Apa kamu mau menyewa rumah ini?" Tanya mang Supri.

__ADS_1


"Iya, mang. Saya mau nempatin rumah ini."


"Kira-kira kapan mau nempatin nya?" Tanya pemilik rumah.


"Pengennya sih hari ini," jawab Chandra.


"Kalau gitu, rumahnya mau saya bersihkan dulu. Biar nanti mas nya tinggal nempatin aja," tukas pemilik rumah.


Menjelang malamnya, Chandra dan Sonya langsung menempati rumah tersebut dan kebetulan rumah tersebut sudah ada kasur dan lemari.


Keduanya di antara oleh bibi Yanti dan mang Supri. Sonya tidak mempermasalahkan tempat tinggalnya yang tidak besar, yang penting dirinya selalu bersama Chandra.


"Semoga kalian betah tinggal disini," kata bibi Yanti. , setelah melihat-lihat rumahnya.


"Iya, Bi," jawab Sonya.


"Ini. Bibi bawakan makan malam buat kalian, jangan lupa nanti di makan ya?"


"Iya, Bi. Terima kasih...."


"Ayo, Pak. Kita pulang, Chandra dan Sonya pasti mau beristirahat." Ajak bibi Yanti yang langsung dianggukin oleh suaminya.


Setelah kepulangan bibi Yanti dan mang Supri, Sonya kini tengah membereskan pakaiannya di kamar. Chandra ikut duduk di samping Sonya.


"Sudah, jangan dibereskan. Biar nanti sama saya saja beresinnya, Non," kata Chandra, mencegah gerakan tangan Sonya.


"Nggak apa-apa. Lagian ini tugasku sebagai seorang istri."


Chandra tertegun mendengar perkataan Sonya dan ini pertama kalinya Sonya mengatakan kalau ia adalah istrinya.


"Saya tidak--." Tiba-tiba Sonya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya Chandra.


"Mulai sekarang kamu biasakan panggil aku dan kamu. Rasanya tak pantas jika seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan Non. Mas ngerti kan?"


"Mmmaass?" Cicit Chandra.


"Mulai sekarang aku juga akan panggil kamu, Mas," ujar Sonya.


"Ba-baiklah...."


Sonya pun tersenyum simpul, lalu Sonya meletakkan kepalanya di bahu Chandra.


"Terima kasih, karena Mas selalu menjagaku," kata Sonya dan Chandra hanya menganggukkan kepalanya.


Sonya kemudian mencium pipi Chandra dan hal itu membuat jantungnya Chandra berdetak kencang, seolah mau loncat dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2