
Hari pun sudah beranjak malam. Sonya yang saat ini tengah berada di atas kasur, uring-uringan karena merasa sangat tidak nyaman tidur di tempat seperti ini. Sedangkan Chandra sudah terlelap tidur di kursi plastik, tidak peduli dengan posisi tidurnya yang duduk.
"Argh...." Teriak Sonya, yang tidak bisa tidur.
Sonya menatap kesal wajah Chandra yang terlelap, sedangkan dirinya yang tidur di kasur tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Karena tidak dapat tidur Sonya memilih keluar dari kamar.
Tiba di luar hotel, Sonya memilih duduk di sebuah taman kecil dengan penerangan yang minim. Berniat untuk mencari udara segar, justru Sonya bertemu dengan seorang lelaki yang sepertinya setengah mabuk. Lelaki itu kini mendekati Sonya dan mencolek lengan mulus Sonya.
"Ngapain sendirian disini, neng?" Ucap lelaki itu dengan senyum menyeringai, bahkan lelaki itu membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Tatapan mesum pun kini Sonya rasakan dari lelaki itu. "Pergi sana! Jangan ganggu aku!" Usir Sonya dengan suara keras.
Bukannya pergi, lelaki itu justru tertawa keras." Kenapa? Takut ya sama Abang." Lelaki itu semakin mendekati Sonya.
Sonya jelas menahan tubuh lelaki itu agar tidak semakin mendekatinya. " Jangan dekat-dekat!" hardik Sonya, yang harus waspada terhadap lelaki itu, yang bisa saja melecehkan dirinya. Sedangkan di sekitar sana tidak ada siapa-siapa.
*Sial! Kenapa ketemu sama orang brengsek sih. Keluh Sonya di dalam hati.
Sonya ambil ancang-ancang untuk pergi dari sana dan berharap lelaki itu tidak menahannya. Pelan-pelan Sonya mulai melangkah mundur dari hadapan lelaki itu dan disaat sudah tepat Sonya pun mengambil langkah seribu.
"Hey! Mau kemana? Sini temani Abang!" Teriak lelaki itu.
Sonya secepatnya masuk ke dalam hotel dan berlari menuju kamar hotelnya dan membuka pintunya dengan kasar.
Sonya ngos-ngosan dan melangkah lemas ke arah kasur. Sedangkan Candra di buat terkejut mendengar suara pintu terbuka kesar dan menatap heran wajah Sonya.
"Non, kenapa? Kayak habis di kejar-kejar hantu?" Kata Candra, dengan suara seraknya.
"Bukan hantu, tapi aku habis olahraga malam," elak Sonya.
"Oh... Kirain kenapa?" Kemudian Chandra kembali tidur.
Sonya merebahkan tubuhnya dan berharap dirinya bisa tidur.
***
Sayup-sayup, Sonya mendengar suara Chandra yang terdengar khawatir. Sonya membuka matanya dan mengucek matanya. Sorot matanya Sonya menangkap kegelisahan di wajah Chandra, membuat Sonya bertanya-tanya.
"Ada apa?" Tanya Sonya.
__ADS_1
" Baguslah Non sudah bangun. Kita harus secepatnya kembali ke kota, Non," ucap Chandra gelisah.
"Memangnya ada apa, buru-buru ke Jakarta?"
"Adikku masuk rumah sakit dan kondisinya semakin drop," kata Chandra sembari merapikan rambutnya.
"Memangnya adik kamu sakit apa?"
"Kanker. Cepat Non, saya harus segera menemui ibu dan adik saya."
Sonya pun mengangguk dan secepatnya berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah itu Chandra dan Sonya meninggalkan hotel tersebut.
Untuk sampai ke Jakarta, Chandra dan Sonya naik bus kota dan sesampainya di Jakarta, Chandra langsung menuju rumah sakit Medika hospital.
Dengan langkah lebar, Chandra memasuki rumah tersebut. Sonya berusaha mengimbangi langkah kaki Chandra yang cepat.
"Bu...." Panggil Chandra, ketika sudah berada di kamar inap sang adik.
"Chandra!" Bu Meli langsung menubruk tubuh jangkung Chandra dan Bu Meli pun langsung terisak di pelukan Chandra.
"Chan... Riri, Chan...." Ucap Bu Meli tersedu-sedu.
"Gimana kondisi Riri, Bu?"
"Ibu takut kehilangan Riri, Chan...."
"Kita berdoa saja, semoga Riri cepat membaik," kata Chandra berusaha menenangkan sang ibu yang begitu sedih dengan kondisi Riri.
Sonya diam menatap Chandra dan ibunya. Ada rasa kasihan dengan adiknya Chandra.
Chandra kemudian meregangkan pelukannya, lalu melangkah mendekati Riri yang tengah tertidur di ranjang.
"Dek, cepatlah sembuh. Kakak nggak mau melihat adek terus-terusan sakit." Bisik Chandra kepada Riri.
Chandra menatap sendu wajah Riri yang terlihat sangat pucat pasi. Chandra mengelus kepala Riri dengan penuh sayang.
"Kapan jadwal kemoterapi nya Riri?" Tanya Chandra.
"Dokter bilang, nanti sore Riri harus melakukan kemoterapi lagi." Jawab ibunya Chandra dengan suara berat. Sebab beliau sangat tidak tega melihat Riri menjalani kemoterapi dan Riri sudah melakukan kemoterapi sebanyak 5 kali. Akan tetapi kondisi Riri semakin hari semakin menurun.
__ADS_1
Tiba-tiba suara ponselnya Sonya berdering dan itu panggilan dari tuan Yusuf.
"Baik, pa. Aku akan pulang sama Chandra." Jawab Sonya, setelah itu panggilan teleponnya mati.
"Chand. Kita disuruh pulang sama papa," kata Sonya.
"Iya, Non."
"Bu, maaf Chandra harus balik kerja dulu. Chandra titip Riri sama ibu, kalau ada apa-apa segera kabarin Chandra." Ibu Meli mengangguk, lalu Chandra dan Sonya meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Sonya melirik Chandra yang sejak keluar dari rumah sakit tidak berbicara sepatah katapun.
"E'hem... Aku boleh tanya?" Ucap Sonya dan Chandra mengangguk.
"Sejak kapan adik kamu sakit?"
"Sudah ada setahun lebih."
"Aku juga mau tanya, rumah yang ada puncak itu rumah kamu?"
"Seharusnya sih iya, tapi keluarga almarhum bapak tidak setuju kalau rumah itu jadi milik rumah kami, jadi terpaksa kami meninggalkan rumah itu," terang Chandra dan selama tinggal di Jakarta, Chandra dan keluarganya mengontrak. Ia baru bisa beli rumah, setelah menikah dengan Sonya, yaitu dari uang imbalan dari tuan Yusuf.
"Oh...."
Sekitar tiga puluh menit, taksi yang mereka tumpangi tiba di rumah Tuan Yusuf. Keduanya bergegas turun dari mobil dan segera menemui tuan Yusuf.
"Pa...."
"Masuk kamu ke kamar!" Suruh tuan Yusuf kepada Sonya.
"Iya, pa...." Sonya pun menuruti dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Kemudian tuan Yusuf menatap tajam wajah Chandra.
"Dari mana kalian pergi?" Tanya tuan Yusuf.
"Dari puncak, tuan," jawab Chandra, tanpa berani mengangkat kepalanya.
"Kamu tidak melanggar perjanjiannya?"
"Tidak, tuan." Jawab Chandra tegas.
__ADS_1
"Bagus. Saya harap kamu dapat memegang perjanjian itu dengan baik. Kalau sampai kamu melanggarnya, kamu akan saya pecat! Sekarang kamu boleh pergi dari sini."
"Baik, tuan. Kalau gitu saya permisi dulu...."