Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 10


__ADS_3

"Mau ikut ke toko boneka, enggak?" Mereka sudah keluar dari toko es krim.


Rain menyendok kan es krim ke dalam mulutnya untuk yang kesekian kalinya.


"Boneka?" Rain tidak tahu jika Bimo suka hal-hal seperti itu.


Bimo tertawa,"Jangan mikir yang aneh-aneh, deh. Aku mau beli boneka buat anak-anak panti karena kemarin aku udah janji mau beliin mereka boneka." Bimo menjelaskan singkat.


Mendengar kata panti, kedua mata Rain langsung bersinar terang. Dia sangat menyukai anak-anak.


"Kak Bimo suka pergi ke panti asuhan?"


"Wah, pasti menyenangkan bertemu dengan mereka." Rain menjadi cemburu.


Jika di sini ia hanya bisa melihat maka di panti asuhan dia bisa berinteraksi ataupun bermain dengan mereka. Ah, betapa ia cemburu kepada Bimo.


"Sangat menyenangkan, apa kamu mau ikut?" Bimo iseng bertanya dan telah menduga jika Rain akan menolaknya.


"Aku mau, Kak!" Rain menjawab cepat dengan satu sendok kecil es krim telah dimasukkan ke dalam mulut.


Rain tampak sangat menggemaskan saat ini.


"Okay, kita akan pergi setelah membelikan mereka boneka. Tapi sebelum itu," Bimo mengangkat tangannya menyentuh pipi Rain yang telah ternoda cairan hijau susu dari es krim matcha.

__ADS_1


Rain tertangkap tidak siap dan seketika menjadi kaku ketika merasakan usapan lembut di pipinya.


"Ini harus dibersihkan dulu." Kata Bimo dengan wajah yang masih tersenyum.


Mereka tampak intim, sudah seperti orang yang sedang berpacaran saja. Untuk beberapa orang yang lewat ini bukanlah sebuah pertunjukan yang menarik untuk dilihat tapi tidak dengan yang lainnya.


Terutama untuk seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan jas hitam formal di badannya. Bersama-sama dengan beberapa orang yang mengelilinginya tanpa berhenti mengoceh, mata almond laki-laki itu menatap ke tempat Rain dan Bimo berdiri bersama.


Deon berjalan lurus mendekati Rain dan Bimo dengan sikap angkuh yang mencolok.


"Rain, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tanyanya langsung mengejutkan Rain.


Rain sangat terkejut ketika melihat Deon di sini. Ia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya setelah satu minggu menghilang tanpa kabar. Bayangan malam 'kecelakaan' itu kembali hidup di dalam kepalanya, membangkitkan rasa sakit hatinya sebagai korban yang dicurigai sebagai pelaku.


"Dia siapa, Rain?" Bimo ingin diperkenalkan dengan laki-laki tampan yang ada di depan mereka sekarang.


"Oh, aku lupa memperkenalkan kalian." Kata Rain sambil memasukkan setengah sendok es krim ke dalam mulutnya.


"Kak Bimo, perkenalkan namanya Deon, dia adalah calon adik ipar ku." Katanya tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.


"Dan Deon, perkenalkan ini Kak Bimo. Dia adalah senior ku saat kuliah dulu."


Tidak ada yang salah dari ucapannya tapi Bimo entah kenapa merasa jika Deon tampak kesal saat ini.

__ADS_1


Kesal, tapi karena apa?


"Oh, kamu di sini bersenang-senang dengan seorang laki-laki sedangkan adik kamu masih berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit, apa kamu tidak memiliki hati nurani?"


Seketika suasana santai yang Rain buat-buat langsung menguap. Di tersenyum pahit, menekan perasaan sesak di dadanya.


Lagi-lagi tentang Almira,


"Aku ingin ke rumah sakit tapi...tapi Mama melarang ku pergi." Kata Rain tidak lagi tertarik pada es krim yang ada di tangannya.


"Hem, dasar pembohong." Ucap Deon dingin sebelum pergi dari hadapan Rain dan Bimo.


Rain menundukkan kepalanya, menatap es krim yang sudah meleleh banyak.


"Padahal kamu sendiri yang meminta mereka untuk tidak membiarkan ku pergi ke rumah sakit." Gumamnya miris.


"Rain, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Bimo khawatir.


Sekarang ia mengerti alasan kenapa laki-laki itu marah. Ternyata itu semua karena adik Rain yang notabene menjadi kekasihnya ada di rumah sakit.


Yah, wajar saja moodnya menjadi buruk.


Rain mengangkat kepalanya dengan senyuman lebar yang kembali terbentuk.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa, Kak. Oh ya, kita jadi pergi'kan ke panti asuhan?" Mungkin dengan bertemu anak-anak ia bisa menenangkan hatinya.


__ADS_2