Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 52


__ADS_3

"Kak Deon kok ada di sini?" Orang pertama yang bereaksi adalah Sila.


Dia agak shock melihat Deon tiba-tiba ada di sini dengan pakaian formal melingkari tubuhnya. Pasalnya Sila masih mengingat bila Deon di rumah tadi masih menggunakan pakaian rumahan dengan setumpuk dokumen di atas meja.


Maka bagaimana mungkin Deon bisa berganti baju secepat ini dan kini sudah ada di sini beberapa menit setelah mereka berdua sampai?


Deon melirik Sila datar sebelum kembali menatap Yon yang masih belum melepaskan tangannya dari tangan Rain.


"Mas?" Panggil Rain bingung.


"Kemari lah." Perintah Deon kepada Rain.


"Rain gak bisa jalan, Kak. Dia tadi sempat pingsan." Kata Yon menjelaskan kondisi Rain.


Yon tidak tahu apa hubungan Rain dan Deon tapi yang pasti, dia yakin jika mereka tidak terlibat hubungan asmara karena bukan rahasia lagi jika Deon sudah bertunangan dengan seorang model cantik bernama Almira.


Pingsan?


Kening Deon mengernyit, menatap tangan Yon yang masih belum ditarik dan beralih melihat wajah pucat Rain yang telah kehilangan warna. Rain terlihat lemah dan agak linglung.


"Cek, dasar menyusahkan. Jika kamu tahu kondisi tubuhmu tidak baik lalu kenapa memaksakan diri untuk ikut keluar?" Ucap Deon sarkas seraya mendekati kursi Rain.


Rain malu, terlebih lagi kesadarannya masih belum jernih karena bayang-bayang merah itu masih menghantuinya, menekan psikologis pada titik letih.


"Maafkan aku, Mas..." Hanya kata-kata ini yang bisa dia katakan untuk saat ini.


"Apa maaf bisa mengembalikan kondisi mu?" Tanya Deon bernada rendah, melembutkan cara bicaranya yang selalu bernada tajam.


Begitu sampai di depan Rain, dia merendahkan tubuhnya. Membawa tangan kanannya ke bawah lutut Rain sedangkan tangan kirinya melingkari punggung Rain. Hanya dalam satu tarikan nafas Deon mengangkat tubuh lemas Rain ke dalam gendongan bridal style-nya, membuat teman-teman Sila tercengang karena tidak pernah menyangka Deon akan mengambil tindakan ini.

__ADS_1


Rain terkejut,"Aku-"


"Diam lah." Potong Deon tidak ingin mendengarkan.


Dia lalu melirik Yon datar,"Singkirkan tanganmu."


Yon terkejut, dia langsung menarik tangannya dari tangan Rain.


Suasana tiba-tiba menjadi tegang sejak kedatangan Deon. Mungkin diantara mereka Sila adalah orang yang paling mengerti situasi Kakaknya tapi tidak dengan yang lain. Terutama untuk Yon sendiri. Dia bingung dengan sikap dominan Deon. Entah mengapa dia merasa bila Deon sangat memusuhinya, tapi untuk alasan apa?


Karena faktanya mereka baru saja bertemu malam ini dan tidak saling mengenal. Kecuali jika ini ada hubungannya dengan Rain?


Yon melirik Rain yang kini mulai memejamkan matanya di dalam pelukan Deon. Yon tidak tahu Rain sedang tertidur atau justru kembali pingsan karena semenjak Deon menggendongnya, Rain seolah menjadi transparan tanpa suara.


Yah, dia akui Rain memang gadis yang cantik dan mungkin memiliki perilaku yang lembut pula, jadi bukan tidak mungkin para laki-laki di sini tidak tertarik. Hanya saja secantik apapun Rain, tentunya Deon tidak akan pernah tertarik'kan karena dua sudah memiliki Almira?


Sila menarik sudut mulutnya memikirkan sesuatu,"Tidak, tapi kenapa Kakak ada di sini?"


"Urusan kantor, kebetulan aku ada pertemuan malam ini dengan klien dari perusahaan H." Jawab Deon tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.


"Oh," Sila ber'oh ria.


"Aneh, kok aku baru tahu yah Kak Deon suka datang ke restoran ini apalagi untuk urusan pekerjaan. Padahal biasanya Kakak akan pergi ke restoran hotel kalau menyangkut pekerjaan." Ada tuduhan samar di dalam kata-katanya.


Deon tidak bodoh, dia tahu kemana tujuan pembicaraan adiknya dan dia juga bisa merasakan bila adiknya baru saja mengolok-oloknya.


Deon menjawab datar,"Ini adalah permintaan klien, bukan aku."


Sila memutar bola matanya agak jengah,"Ya sudah kalau begitu. Kakak kan harus pergi bekerja jadi biarkan saja aku dan teman-teman ku membawa Kak Rain pulang-"

__ADS_1


"Aku sudah membatalkannya." Potong Deon tidak tertarik.


"Oh, ya?" Tanya Sila main-main.


Deon semakin tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan dengan Sila.


"Aku pulang." Katanya seraya berbalik 180 derajat, mengabaikan tatapan pemujaan dari teman-teman adiknya.


Sila terhenyak,"Eh, Kak Deon jangan tinggalin aku dong!" Teriak Sila seraya mengejar Kakaknya.


Sebelum pergi dia melambaikan tangannya kepada teman-temannya karena pertemuan mereka harus terganggu karena dirinya.


Di depan, tubuh jangkung Deon bergerak secepat mungkin untuk menghindari keramaian karena tidak ingin tertangkap kamera sedang membawa Rain. Jika situasinya saat ini masuk ke dalam surat kabar atau pemberitaan, Deon yakin tunangannya yang kini sedang menjalani perawatan juga akan mengetahuinya.


Sampai hari itu terjadi, Deon tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya kepada Almira karena sejujurnya dia tidak ingin menyakiti hati tunangannya itu.


"Sakit..." Rain mengigau dalam tidurnya.


Keningnya berkeringat dingin dan kedua alisnya pun mengkerut tidak nyaman.


"Jika kamu tahu sakit maka jangan pernah ceroboh lagi di masa depan." Dengus Deon tidak senang.


Meskipun dia mengomel namun langkah kakinya secara perlahan melambat dan pelukannya pun agak lebih erat dari sebelumnya.


Deon membencinya tapi dia sangat bodoh masih saja dibuat luluh olehnya. Padahal dia pernah bertekad untuk menjauh Rain sama seperti yang Rain lakukan selama ini kepadanya, tapi Tuhan ternyata telah menyiapkan skenario untuk mereka berdua, terikat dalam sebuah pernikahan yang bodohnya lagi dimulai oleh Deon sendiri.


"Jangan tinggalin aku Deon... jangan..." Igau Rain lagi langsung membuat langkah kaki Deon berhenti.


Deg

__ADS_1


__ADS_2