Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 51


__ADS_3

Setelah menghabiskan hampir 15 menit di perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan restoran ternama di kota ini. Jaraknya lumayan jauh dari pusat kota tapi namanya sudah melambung tinggi dan banyak didatangi oleh para remaja untuk berkumpul atau sekedar bersantai.


Rain menjadi gugup saat melihat keramaian di dalam restoran. Dia tidak nyaman dan merasa asing pada saat yang sama, ini adalah reaksi psikologisnya dan sejujurnya cukup normal. Karena alasan ini pula dia lebih suka mengurung diri di dalam rumah, jarang berinteraksi apalagi bertemu dengan banyak orang.


"Kak, Kak Rain?" Panggil Sila.


Rain tersadar dari lamunannya.


"Ya?" Tanyanya masih linglung.


Dia baru menyadari jika Sila sudah berada jauh beberapa meter di depannya.


"Ayo masuk, Kak. Teman-teman ku pasti sudah lama menunggu kita di dalam." Kata Sila tidak menyadari perubahan warna wajah Rain.


Kepala Rain berkeringat dingin merasakan siksaan batin yang menyakitkan. Tubuhnya seolah sedang ditusuk oleh duri-duri tajam sehingga tenaganya perlahan berkurang seperti orang yang kekurangan banyak darah.


Rain bingung, kakinya untuk sesaat tidak bisa digerakkan. Dia pikir Sila berbohong tentang bertemu dengan teman-temannya. Dia pikir itu hanya alasan klise Sila saja untuk mendebat Deon tapi ternyata dugaannya salah.


Jika aku masuk, apakah aku masih bisa bertahan di dalam? Batin Rain ragu.


Rain takut keramaian atau lebih tepatnya dia takut terjebak di dalam keramaian karena entah mengapa dia selalu merasa orang-orang di sekeliling akan mencemooh, mencela, dan meremehkan dirinya. Perasaan ini sudah ada sejak dia bangun dari komanya 5 tahun yang lalu.


"Kak?" Panggil Sila lagi.


Tapi Rain tidak menjawab, dia seolah terjebak dalam lamunan panjangnya.


"Kak Rain!" Teriak Sila mengagetkan Rain.


"Ya?" Jawaban yang sama dengan sorot mata linglung yang sama pula.


Sila mengernyit bingung. Sejak turun dari mobil Rain tiba-tiba menjadi aneh.


"Kak Rain gak apa-apa'kan?"


Rain mencoba tersenyum ditengah rasa sakit di kepalanya.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa, kok."


Sila menghela nafas lega,"Ya udah, kita masuk ke dalam yuk, Kak. Temen-temen aku udah pada di dalam semua dan aku juga lapar banget."


Rain mengepalkan kedua tangannya yang sudah berkeringat entah sejak kapan. Dengan ragu dia lalu memaksakan kakinya untuk bergerak mengikuti langkah Sila di depan.


"Hah..." Dadanya terasa sesak dan pandangannya menjadi goyah.


Namun karena tekadnya kuat untuk masuk dia berusaha menahan semua siksaan ini. Kepalanya terus menerus mendengungkan alarm peringatan agar segera mundur tapi tekad Rain tidak tergoyahkan.


Dia ingin menjadi orang normal kembali, tidak takut pada keramaian dan bisa bersosialisasi dengan baik. Maka anggap saja dia datang ke sini untuk melakukan terapi.


Mereka berdua masuk ke dalam restoran dan mendatangi meja yang paling banyak penghuninya. Meja itu ditempati oleh tiga perempuan dan dua laki-laki. Meskipun berusaha berbicara rendah tapi suara mereka sangat riuh dibandingkan meja-meja yang lain.


"Akh...sakit." Bisik Rain sambil memegangi perutnya.


Telinganya mulai berdengung saat mendengar suara goresan pisau di atas piring dan kesadarannya pun mulai menguap ketika matanya tidak sengaja menangkap keberadaan pisau tajam itu.


Ingatan akan hari itu mulai berkelebat di dalam kepalanya. Kucuran darah segar mengalir deras dari luka di perutnya, sedangkan benda tajam yang telah menyebabkan perutnya terluka tertancap kuat di perut-


Dia tersadar, menatap linglung wajah tampan yang sangat dekat dengannya. Bingung, Rain melihat sekelilingnya dan baru menyadari bila posisinya saat ini tidak benar.


"Apa kamu bisa mendengar ku?" Suara laki-laki itu lagi menarik perhatian Rain.


"Aku...mendengar mu." Jawab Rain pusing.


"Apa kamu bisa berdiri?" Tanya laki-laki itu lagi.


"Ya...aku bisa." Rain berusaha melepaskan diri dari tangan laki-laki itu tapi kedua kakinya sangat lemah.


"Yon, kayaknya Kak Rain gak bisa berdiri jadi lebih baik dudukkan saja dia di kursi." Kata Sila khawatir.


Dia baru saja menyapa teman-temannya dan akan memperkenalkan Rain kepada mereka semua. Tapi sebelum dia bisa melakukannya Rain tiba-tiba limbung dan hampir jatuh ke lantai. Untung saja salah satu teman laki-lakinya, yaitu Yon sangat tanggap dan segera menangkap Rain sebelum benar-benar jatuh ke lantai.


"Kamu benar." Yon kemudian membawa Rain ke kursi dan mendudukkannya dengan hati-hati.

__ADS_1


Sejujurnya Yon bisa merasakan ada sesuatu yang salah dengan Rain dari pertama kali melihatnya tadi. Oleh karena itu saat Rain tidak sadarkan diri tadi dia langsung bergerak cepat menangkapnya.


"Sila, berikan Kakak mu air putih." Salah satu gadis memberikan Sila segelas air putih yang masih belum disentuh.


Sila mengambilnya.


"Terima kasih." Dia lalu membantu Rain meminumnya.


Rain tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung menyesap air putih itu untuk menghilangkan dahaganya.


"Kamu sangat pucat dan sempat tidak sadarkan diri jadi lebih baik kamu pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan." Kata Yon kepada Rain.


Ke rumah sakit?


Rain menggelengkan kepalanya menolak gagasan ini. Penyakitnya spesial dan cukup rahasia. Apalagi Sila juga ada di sini jadi bagaimana mungkin dia berani mengekspos rahasianya ini?


"Tidak, aku tidak butuh rumah sakit." Tolak Rain.


Tapi Yon tidak menyerah,"Kamu harus pergi karena situasi mu sangat buruk. Rasakan baik-baik, bukankah detak jantung mu melemah dan nafas mu juga terputus-putus?" Katanya sambil menunjukkan letak nadi Rain.


Sedari tadi tangannya tidak pernah meninggalkan pergelangan tangan Rain.


"Aku-"


"Tanganmu, tolong singkirkan dari tangannya."


Deg


Rain dan semua orang sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Di sana berdiri seorang laki-laki jangkung depan bentuk tubuh yang proporsional. Lipatan jas formal yang melingkari tubuhnya terlihat sangat serasi dan pas. Apalagi wajahnya yang tampan dan terkesan cuek, para gadis yang memperhatikannya sangat enggan untuk berkedip.


"Kak Deon kok ada di sini?"


Bersambung..


Kali ini serius wkwkwkw

__ADS_1


__ADS_2