
Diam, Almira tidak segera menjawab pertanyaannya. Namun Deon tidak terburu-buru. Dia tidak mendesak Almira untuk segera memberikan jawaban karena dia pikir Almira pasti cukup trauma mengingat kejadian hari itu.
"Kamu...mengapa kamu tiba-tiba menanyakan ini kepadaku?" Almira tidak menjawab tapi malah melemparkan pertanyaan.
Aneh,
Nada suaranya jelas tidak setenang sebelumnya. Bukan karena ketakutan tapi lebih kepada gelisah. Deon tidak bodoh untuk tidak menyadarinya. Jelas, ada sesuatu yang sedang disembunyikan Almira.
"Apa...apa kamu mengingat sesuatu?"
Deon mengernyit,"Aku tidak mengingat apa-apa." Katanya bohong.
Almira di ujung sana tanpa sadar menghela nafas lega yang juga diperhatikan oleh Deon. Sikap Almira semakin memperkuat kecurigaannya.
"Lalu kenapa kamu menanyakan pertanyaan ini kepadaku? Uh, aku sangat takut saat pertama kali mendengarnya." Keluh Almira.
"Kenapa kamu takut mendengarnya?"
"Itu...itu karena aku takut kepalamu sakit." Almira menjawab cepat,"Lalu, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?"
Deon tidak langsung menjawab. Matanya sekali lagi memandangi pintu kamar Rain yang masih tertutup rapat tanpa kehidupan. Rasanya sangat sunyi seperti malam-malam sebelumnya yang dia lewati tapi...ada yang berbeda karena meskipun sunyi, sejujurnya dia merasa jauh lebih nyaman dan tenang.
Mungkin karena ada Sila di sini-ah, atau mungkin lebih tepatnya itu karena ada Rain di rumah ini.
"Deon?" Panggil Almira di seberang sana.
"Hem."
"Kenapa kamu diam saja." Kata Almira dengan nada mengeluh.
"Aku mengantuk."
"Oh," Suara Almira menjadi lesu. Pada akhirnya dia tidak bisa berbicara banyak dengan Deon.
"Apa kamu akan datang ke rumah sakit besok?" Implikasinya jelas, dia berharap Deon datang menjenguknya ke rumah sakit.
Karena dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu.
"Aku tidak tahu." Kata Deon tidak pasti dan menambahkan,"Perusahaan sangat sibuk."
"Kamu... jangan terlalu bekerja keras dan perhatikanlah kesehatan mu. Aku tidak mau kamu jatuh sakit juga. Dan...dan aku harap bisa melihat kamu lagi karena aku sudah sangat merindukanmu. Aku ingin sekali bertemu denganmu karena sejak tinggal di rumah sakit, aku tidak pernah melihat bayangan mu." Katanya sedih.
Deon sangat sibuk di kantornya sehingga dia tidak punya waktu untuk datang berkunjung ke rumah sakit. Ini sangat mencurigakan bukan?
__ADS_1
Pada awalnya Almira curiga bila Deon berselingkuh di luar sana, tapi semua kecurigaannya segera menguap saat dia bertanya kepada calon Mama mertuanya.
Mama Deon bilang jika Deon saat ini sangat sibuk mengurus sebuah proyek besar bersama Ari.
"Maaf, tapi aku benar-benar sibuk. Lain kali, bila ada waktu luang aku akan datang mengunjungi mu."
Setelah itu sambungan mereka terputus. Deon melemparkan ponselnya ke atas nakas tanpa niat untuk beranjak dari sofa. Kedua tangannya menahan kepalanya di atas sandaran sofa. Diam, mulutnya tertutup rapat namun kedua matanya berkedip lambat masih memperhatikan pintu kamar Rain.
Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Cklack
Tiba-tiba pintu kamar Rain terbuka. Deon tertegun, punggung tegapnya spontan memperbaiki duduknya selurus mungkin dengan kedua mata yang masih memperhatikan tempat yang sama. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Deon tidak lagi memperhatikan pintu namun kini tertuju pada sosok ramping yang baru saja keluar dari celah pintu tersebut.
"Kamu mau kemana?" Deon langsung menyesali pertanyaannya yang terburu-buru.
Sosok ramping itu segera membeku di tempat.
"Aku...ingin ke dapur." Bisik Rain tidak lagi melangkah.
Kedua matanya menyipit memperhatikan siluet lurus Deon di atas sofa.
Deon masih belum tidur pikirnya gugup.
Dia langsung pergi ke dalam dapur tanpa menunggu respon Rain. Rain linglung di tempat dengan kedua tangan terangkat menyentuh dadanya yang sedang berdegup kencang mengalirkan rasa manis yang telah lama mengakar di dalam hatinya.
"Kenapa kamu diam saja?" Suara Deon dari dapur.
Rain tersadar dari linglung nya dan buru-buru menyusul Deon ke dalam dapur.
Di dapur dia melihat Deon sedang menyesap air putih sambil berdiri di depan lemari es. Rain kian gugup rasanya. Pasalnya dia ingin mengambil sesuatu dari lemari es tapi tubuh Deon menghalangi.
Deon melirik kegugupannya.
"Bicaralah jika kamu membutuhkan sesuatu." Nada suara Deon tanpa sadar melembut.
Mungkin karena dia tidak tahan melihat wajah cantik Rain kini diwarnai dengan gambar pesakitan seperti pasien kurang darah. Dia sangat pucat.
"Aku ingin mengambil telur di dalam kulkas." Kata Rain tidak berani melihat Deon.
"Kamu-" Dia tiba-tiba ingat bila Rain belum sempat makan malam dan langsung beristirahat di kamar setelah siuman.
"Kamu ingin memasak apa?" Tanya Deon seraya menarik pintu kulkas.
__ADS_1
"Mie instan dan telur sudah cukup."
Deon mengernyit,"Itu tidak sehat, makan saja yang lain." Tolak Deon tidak setuju.
Rain malu,"Tapi aku tidak bisa memasak." Katanya ragu-ragu.
"Tidak masalah, aku yang akan memasak." Lagi-lagi Deon merutuki dirinya sendiri karena bersikap lembut kepada Rain.
Tapi jika dia tidak melakukannya maka Rain akan berakhir makan mie instan.
Rain panik sekaligus senang,"Jangan...kamu tidak perlu melakukannya-"
"Rain-"
"Akh!"
"Maaf, apa kamu baik-baik saja?"
Sebenarnya ini bukan salah Deon karena Rain sendirilah yang tiba-tiba mundur ke belakang dan tidak sengaja mengenai bufet. Sudut tajam bufet mengenai pinggang Rain dan meninggalkan rasa sakit yang tidak ringan.
"Aku baik-baik saja." Rain sangat malu di depan Deon, tapi rasa sakit menyengat di atas kulit pinggangnya benar-benar tidak tertahankan.
Itu sangat sakit.
"Benarkah? Biarkan aku melihatnya." Deon tidak mempercayainya.
Apalagi pinggang Rain sangat tipis dan pasti mudah terluka.
"Aku sungguh tidak apa-apa." Rain mencoba terlihat normal tapi riak tipis di dalam matanya jelas telah mengatakan semuanya.
Deon semakin terpacu untuk melihat pinggang Rain sehingga dia tanpa sabar menarik pakaian tidur Rain. Tapi,
"Biarkan aku melihatnya-" Gerakan tangan Deon membeku saat melihat bekas luka jahit memanjang di atas permukaan perut Rain.
Mungkin luka itu sudah lama tapi warnanya masih belum menghilang sepenuhnya.
"Kapan kamu mendapatkan luka ini?!"
Bersambung...
Marhaban ya Ramadhan, Alhamdulillah akhirnya masuk bulan suci Ramadhan 💚
Maaf baru update hari ini karena kemarin saya kurang enak badan. Hari ini satu chapter dulu yah, terima kasih 🍃
__ADS_1