Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 7


__ADS_3

"Rain?" Panggilnya dengan pandangan linglung ketika melihat orang yang masih berjuang dalam rasa kantuk di sampingnya adalah Rain- ini adalah Rain! Kakak dari kekasihnya sendiri.


"Bagaimana mungkin?" Panik, tanda-tanda merah bekas gigitan yang ada di tubuh Rain adalah bukti valid yang tidak akan pernah bisa Deon sanggah.


Ia benar-benar telah melakukannya dengan Rain!


"Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi!" Teriak Deon murka langsung membuat Rain bangun sepenuhnya.


Ia terkejut, menatap wajah gelap Deon yang kini sedang menatapnya dengan ekspresi frustasi.


"De-Deon..." Rain tidak mempunyai keberanian melihat Deon.


"Kenapa kamu bisa ada di dalam kamarku?" Tanya Deon dengan emosi di dada.


...🌼🌼🌼...


"Ya Tuhan, adiknya sedang berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit tapi dia malah diam-diam merebut calon suami adiknya! Katakan Kak, bagaimana bisa putri Kakak melakukan kejahatan ini kepada adiknya sendiri!" Teriakan kemarahan Bibi Mei langsung menusuk pendengaran semua orang.


Bibi Lara juga tidak kalah marahnya dengan Bibi Mei tapi ia masih bisa mengontrol dirinya agar tidak berteriak-teriak seperti Bibi Mei.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Kak? Keluarga Deon tidak mungkin mau bertanggungjawab menikahi Rain karena Kakak tahu sendiri kan bagaimana kondisi Rain!" Apa yang Bibi Lara katakan memang masuk akal.


Situasi Rain pasti membuat keluarga Deon enggan menyuarakan sebuah pertanggungjawaban.

__ADS_1


"Tentu saja mereka tidak mau Deon bertanggungjawab karena kecelakaan ini belum tentu murni sebuah kecelakaan. Bisa jadi ini adalah rencana Rain untuk mendapatkan calon adiknya sendiri!" Tuduh Bibi Mei kian membuat suasana tegang.


"Nak," Mama yang sedari tadi menangis akhirnya membuka suara.


Rain perlahan mengangkat kepalanya menatap wanita yang masih saja cantik meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Kecantikan yang dimiliki oleh Almira murni diturunkan dari Mama, adiknya sangat beruntung.


"Katakan kepada Mama kenapa kamu tega melakukan semua ini kepada adikmu sendiri? Bukankah kamu tahu jika Almira dan Deon saling mencintai? Mereka sudah bertunangan, Nak!"


"Aku sungguh tidak berniat menghancurkan hubungan mereka." Jawab Rain pada akhirnya dengan nada suara tertahan menahan kesedihan.


"Tadi malam Deon mabuk dan menganggap aku sebagai Almira-"


"Kamu memanfaatkan Deon yang sedang mabuk dan berpura-pura menjadi Almira, kan!" Potong Bibi Mei benar-benar membenci Rain.


Malahan dia mencoba melarikan diri semalam karena ia tahu hasil akhirnya akan seperti ini, mereka akan mengalahkannya dan bukan Deon.


"Alah, kamu pasti bohong-"


"Cukup." Potong Papa akhirnya angkat bicara.


Begitu Papa berbicara tidak ada yang berani membuka suara dan berteriak-teriak seperti sebelumnya.


Papa menatap wajah pucat Rain frustasi. Beberapa kali ia akan menghembuskan nafasnya berat sambil menatap putrinya dengan ekspresi kecewa.

__ADS_1


"Rain, bukankah Papa sebelumnya pernah memperingatkan kamu untuk tidak dekat-dekat dengan Deon?" Tanya Papa tidak mengerti.


Oh, Papa memang pernah memperingatkannya untuk tidak dekat-dekat dengan Deon lagi. Tepatnya 5 tahun yang lalu, Papa memintanya untuk berhenti menempeli Deon kemana-mana dengan alasan ia tidak boleh mengganggu masa pendekatan antara Deon dan Almira.


Rain masih mengingatnya dengan sangat baik.


"Aku tidak pernah mendekati Deon, Pa." Jawab Rain lemah.


Dia tidak pernah berani mendekati Deon sejak hari dimana Deon mengumumkan kepada mereka mengenai hubungannya dengan Almira.


"Lalu kenapa kalian berdua sampai terlibat... masalah ini?" Papa bertanya frustasi.


Rain sudah menjelaskannya, ini adalah murni kecelakaan Deon yang menganggapnya sebagai Almira.


"Deon mabuk dan mengira aku adalah Almira-"


"Lalu kenapa kamu diam saja dan tidak menjauh darinya jika kamu tahu dia sedang mabuk?" Mama menuntut jawaban Rain.


"Aku sudah melakukannya tapi Deon tidak mengizinkan ku keluar dari kamarnya!" Jawab Rain dengan nada tinggi.


Ia tidak tahan lagi dipojokkan oleh mereka semua. Bagaimana mungkin tidak ada sedikitpun kepercayaan dihati mereka untuknya?


Apakah keberadaannya sungguh tidak berarti apa-apa untuk mereka?

__ADS_1


"Beraninya kamu berteriak kepada kami? Dimana sopan santun mu, hah!" Teriak Bibi Lara naik pitam.


__ADS_2