
"Ke rumah sakit?" Rain langsung memikirkan Almira.
"Iya, Kak. Kita akan menjenguk Kak Almira."
Rain ingin tapi dia tidak bisa. Di tambah lagi kondisinya sedang tidak fit untuk keluar rumah.
"Maaf Sasa, aku tidak bisa pergi-"
"Jangan takut. Kak Deon sedang berada di luar kota jadi dia tidak mungkin mengetahui kedatangan Kakak." Sasa buru-buru memotong.
"Tapi-" Firasat Rain mengatakan bila Sasa sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa Kakak tidak merindukan Kak Almira?" Potong Sasa agak tidak sabar.
Rain terdiam, kelopak matanya merendah menatap permukaan meja di depannya yang sejujurnya tidak menarik.
"Baiklah, ayo pergi." Putusnya mengikuti keinginan Sasa.
Toh, Sila maupun Bibi Siti sedang tidak ada di rumah, dan Deon juga sedang berpergian maka tidak ada yang tahu tentang masalah ini.
Keputusan telah dibuat dan mereka langsung berangkat menuju rumah sakit tempat Almira di rawat. Di jalan menuju rumah sakit, Sasa sempat turun di toko buah untuk membeli buah dan beberapa makanan lembut yang cocok untuk kondisi Almira.
Melihat Sasa begitu sibuk, Rain tidak pernah mengatakan apa-apa dan hanya diam saja. Jantungnya masih tidak nyaman dan perutnya juga mulai membuat masalah, namun semua rasa ketidak nyamanan itu seakan terabaikan ketika Rain memikirkan bagaimana reaksi Almira saat melihatnya nanti.
Apakah itu kekecewaan?
Mana mungkin, Almira tidak tahu apa-apa mengenai pernikahan sirinya.
"Kak Rain?" Panggil Sasa di samping.
Rain menjawab,"Ya?"
__ADS_1
"Ayo masuk, Kak. Kita sudah sampai." Kata Sasa.
Rain mengernyit heran dan baru menyadari bila mereka kini sudah ada di depan pintu kamar Almira.
"...yah." Dengan gugup dia membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan.
Srek
Hatinya seketika berdenyut sakit saat melihat orang yang seharusnya berada di luar kota untuk perjalanan bisnis nyatanya ada di sini, duduk di depan bangsal Almira dengan tenang dan santai.
"Kamu?!" Deon menatap dingin kedatangan Rain yang tidak terduga.
Keningnya berkerut tidak senang dan bahkan sorot matanya pun menunjukkan warna permusuhan.
Membuat Rain tanpa sadar mengecilkan lehernya tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung ke arah mata Deon.
Tuhan, hatiku rasanya sangat sakit. Batin Rain sedih juga cemburu.
"Lho, Kak Deon kok ada di sini?" Sasa berpura-pura terkejut dihadapan Rain maupun Deon.
"Jangan bertanya yang aneh-aneh deh, tentu saja mereka datang untuk menemui ku." Sebelum Sasa mengatakan apa-apa, suara lembut Almira lebih dulu menjawab.
Wajah cantik Almira yang pucat membentuk sebuah senyuman manis dan menatap Rain dengan kasih sayang yang menyentuh hati.
"Kak Rain, sudah lama. Aku sangat merindukanmu."
Rain tertegun, dengan perasaan bersalah dia menatap adiknya yang terbaring di atas ranjang dan memberanikan diri untuk menghampirinya.
"Yah, sudah lama. Bagaimana kabarmu?" Tanya Rain hati-hati dibawah pengawasan intensif Deon.
Masih tersenyum, suasana bahagia terasa begitu kental di sekeliling Almira, jauh berbanding terbalik dengan keadaan Rain.
__ADS_1
Ironisnya, mereka sama-sama sakit tapi kebahagiaan tergambar jelas di wajah Almira yang jauh dari jangkauan Rain.
"Aku sangat baik. Untungnya Mama, Papa, dan semua orang di rumah menjagaku dengan baik. Dan ditambah lagi sekarang ada Deon yang menemaniku di sini sehingga tingkat kesembuhan ku sangat tinggi! Tidak lama lagi aku akan segera sembuh."
"Hati-hati, jangan terlalu bersemangat. Tubuhmu masih belum stabil." Deon mengingatkannya dengan cemas.
Almira tersenyum malu,"Aku tahu...aku tahu, aku hanya tidak bisa menahan kebahagiaan ku melihat kedatangan Kak Rain."
Mereka berbicara dengan suasana yang manis, bersikap seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. Sedangkan Rain diam terpaku di tempat. Kehadirannya sangat transparan dan terasa canggung.
Situasi ini semakin tidak nyaman saat melihat kedua orang tuanya dan kedua mertuanya datang. Awalnya mereka terkejut melihat Rain di dalam kamar Almira, namun setelah menilai situasi Almira yang masih bisa tertawa, untuk sementara waktu mereka menyampingkan keberadaan Rain di sana.
Mereka memang tidak mengatakan apa-apa tapi sorot mata telah mengatakan semuanya.
Rain tersenyum getir, dia tahu posisinya. Jadi setelah membuat alasan acak dia lalu keluar dari bangsal Almira dan langsung pulang ke rumah.
Entahlah, semuanya sangat kacau di dalam hati Rain. Dia ingin menangis, berteriak, tertawa, atau bahkan...ingin melarikan diri.
Dia ingin melarikan diri karena rumah kedua orang tuanya bukanlah rumahnya dan rumah Deon juga bukanlah rumahnya.
Dia tidak memiliki rumah untuk bersandar, menyembuhkan sakitnya, dan tempat untuk mengeluhkan ketidaknyamanan.
Dia tidak memilikinya.
Dia tidak punya rumah.
"Ikut aku!" Bentak Deon tiba-tiba sudah ada di samping Rain.
Deon menarik Rain masuk ke dalam rumah dengan tidak sabar dan melemparkannya ke sofa tanpa rasa belas kasih sedikitpun. Wajahnya memerah karena emosi yang siap meledak kapan saja.
"Akh!" Rain meringis karena posisi jatuhnya sedikit sedikit tidak beruntung.
__ADS_1
Lonjakan rasa sakit dan semua keluhan yang terpendam di dalam hatinya tak pelak menimbulkan sensasi asam di dalam matanya.
"Apa kamu tuli?! Apa kamu mengerti bahasa manusia?! Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya agar jangan pernah bertemu dengan Almira?!" Raungan marah Deon memenuhi rumah ini.