
"Aku gak apa-apa, Kak. Oh ya, kita jadi pergi'kan ke panti asuhan?" Mungkin dengan bertemu anak-anak ia bisa menenangkan hatinya.
Bimo mengangguk cepat.
"Jadi, dong. Ya udah, kita pergi ke toko boneka dulu yah sebelum berangkat ke panti asuhan."
Rain menganggukkan kepalanya bersemangat. Setelah itu ia dan Bimo pergi ke toko boneka di dalam mall. Namun, karena boneka di sana terlalu mahal mereka memutuskan untuk membeli di luar saja yang lebih murah dan terjangkau.
30 menit kemudian mereka akhirnya terbebas dari kemacetan dan berhasil sampai di panti asuhan sebelum malam tiba. Ketika mobil Bimo masuk ke dalam halaman panti asuhan, anak-anak panti yang sedang bermain diluar langsung berlari penuh semangat memanggil nama Bimo.
Tawa-tawa penuh harapan mereka begitu menghidupi suasana. Bimo dan Rain keluar dari mobil yang langsung disambut oleh pelukan hangat mereka.
Bahkan Rain, orang asing yang baru bertemu pun tidak luput dari kehangatan mereka.
"Kak Bimo bawa teman yah," Suara lembut anak kecil menarik perhatian Bimo.
Bimo tersenyum, mengusap kepalanya sambil memperkenalkan Rain kepada mereka.
"Anak-anak, kenalin ini Kakak Rain. Dia datang ke sini ingin bertemu dengan kalian semua. Eh, dia juga bawain kalian semua buku cerita lho, bukunya banyak banget dan bagus-bagus." Kata Bimo dengan nada suara kekanak-kanakan yang dibuat-buat.
__ADS_1
Rain tersenyum malu,"Hallo semuanya."
Anak-anak begitu antusias melihat kedatangan Rain. Mereka membawa Rain ke halaman depan untuk bermain, membaca buku-buku yang Rain beli satu persatu untuk mereka semua.
Tidak terasa waktu sudah berlalu banyak dan sudah saatnya anak-anak panti makan malam. Ibu panti memanggil semua orang termasuk Rain dan Bimo. Meminta mereka ikut bergabung bersama anak-anak sampai akhirnya waktu tidur pun datang.
Tidak terasa, sudah jam 9 malam di sini dan hujan di luar turun dengan derasnya.
Rain benar-benar menikmati waktunya bersama anak-anak dan tanpa sadar ia lupa jika tidak boleh pulang larut malam.
"Aku ingin menginap, apakah boleh?" Tanya Rain pada Bimo.
Dia senang tinggal berlama-lama dengan Rain.
Rain malu,"Hem, aku ingin menginap di sini beberapa hari saja karena aku sangat senang bermain dengan mereka. Apa boleh?" Akui Rain jujur.
Bimo kian senang saja rasanya.
"Boleh banget kok, Rain. Malahan Ibu panti sempat ngomong sama aku kalau kamu nginap aja di sini soalnya anak-anak sangat menyukai kamu. Ibu panti juga bilang kamu adalah orang pertama yang membuat anak-anak seantusias ini bertemu dengan orang asing. Biasanya mereka akan berani tapi tidak terlalu antusias. Sama sepertiku. Awal-awal bertemu, mereka tidak terlalu antusias sampai akhirnya aku menjadi tamu tetap mereka dan membawa banyak hadiah, barulah mereka menjadi akrab denganku." Cerita Bimo bersemangat.
__ADS_1
Ia sangat senang Rain menginap di sini karena dengan begitu ia memiliki banyak waktu untuk berbicara bersama.
"Benarkah? Jadi aku boleh menginap?" Tanya Rain senang seraya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Papa.
Bahkan sudah jam 9 malam tapi ia tidak menemukan satu pesan pun dari orang tuanya. Membuat dirinya bertanya-tanya apakah mereka tidak mengkhawatirkannya?
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Bimo melihat senyuman Rain agak meredup.
Rain tersenyum malu,"Aku akan memberitahu kedua orang tuaku di rumah."
Dia hanya mengirim sebuah pesan singkat sebelum mematikan ponselnya. Entahlah, mungkin karena sudah tidak tahan lagi diperlakukan sebelah mata oleh keluarganya membuat Rain memiliki keberanian untuk melakukan ini.
Melanggar perintah Papa dan bahkan mengabaikannya.
"Kak Bimo, aku sangat menyukai anak-anak. Sering kali aku bermimpi mendirikan sebuah rumah panti asuhan untuk mereka yang tidak memiliki orang tua dan hidup terlantar di jalanan." Katanya mengalihkan topik pembicaraan yang lebih hangat.
"Papa bilang ketika dia sudah memiliki uang yang cukup, Papa akan mendirikan sebuah rumah panti asuhan untukku dan membiarkan ku mengelolanya sampai berkembang pesat. Aku sangat senang mendengarnya dan sudah tidak sabar melihat panti asuhan impianku. Tapi itu masih agak lama untuk bisa mewujudkannya, karena meskipun uang Papa sudah ada usiaku yang masih terbilang muda tidak memiliki jaminan apakah aku bisa mengelolanya atau tidak. Maka dari itu aku harus menunggu di waktu yang tepat agar bisa mewujudkan impianku tersebut."
Tersenyum lembut menatap air hujan turun menodai kaca jendela panti, ia lalu berkata,"Karena kebahagiaan ku hanya bisa diwujudkan bila bersama anak-anak."
__ADS_1
Bersambung...