
"Rain." Suara magnetik Deon segera menjernihkan pikiran ku.
Aku tersadar dan menatap shock wajah tampan Deon yang terlihat sangat dekat dengan diriku. Entah sejak kapan aku berada di dalam pelukan Deon, bersandar nyaman di depan dada bidangnya. Dengan posisi ini selain bisa melihat wajah tampan Deon tapi aku juga bisa menghirup wangi tubuh Deon.
"Luruskan tubuhmu." Katanya masih dengan ekspresi datar tapi kali ini keningnya agak berkerut.
Deon hanya melirikku tampak tidak tertarik sebelum melihat ke arah tangan kiri ku.
"Dimana cincin mu?" Tanya Deon masih menatap tangan kiri ku.
"Cincin ku.. cincin ku ada di dalam pakaianku." Aku mengingatnya dan langsung mengeluarkannya di depan Deon.
"Kenapa kamu melepasnya?"
__ADS_1
Aku buru-buru menjelaskan,"Aku...aku tidak ingin cincin ini kotor sehingga aku melepaskannya." Jawabku tergagap, berbohong.
Dia lalu tidak mengatakan apa-apa, berjalan pergi ke lemari es dan membukanya untuk mencari sesuatu.
Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan kedua mata basah ku yang berteriak-teriak ingin dilepaskan. Di dalam hatiku yang terdalam aku mengetahui bila cinta Deon hanyalah untuk Almira. Aku juga tahu bila Deon tidak mau melepaskan adikku itu, buktinya dia lebih memilih menikahi ku secara siri daripada secara sah di mata hukum maupun agama.
Artinya pernikahan ini bisa dibubarkan kapan saja tanpa menunggu sidang atau surat cerai. Deon tidak benar-benar ingin bertanggungjawab, dia hanya menganggap bahwa pernikahan siri ini sudah cukup untukku karena kapanpun dia mau, aku bisa dicampakkan kapan saja.
Masakan sudah jadi dan sedang dipindahkan ke piring saji. Sambil menunggu Bi Imah dan Bi Dian menyiapkan makanan, aku secara proaktif membersihkan dapur. Semua barang kotor aku kumpulkan di wastafel dan semua pisau aku kumpulkan di dalam laci bawah.
Semua orang telah berkumpul di atas meja makan dan aku seharusnya duduk di samping Deon karena kami sekarang adalah pasangan suami-istri. Namun, di sisi Deon sudah ditempati oleh Sasa jadi aku tidak bisa duduk di sana. Aku tidak bisa meminta karena Sasa pasti tidak akan mau pindah duduk, selain itu Deon juga terlihat tidak keberatan dengan keberadaan Sasa di sampingnya.
"Kak Rain duduk di sini." Tanganku ditarik oleh Ari, adik sepupu Deon dan Kakak dari Sasa.
__ADS_1
Aku sering mendengar tentangnya. Dia adalah orang yang baik dan ramah. Setelah bertemu hari ini aku pikir apa yang orang-orang katakan itu semuanya tidak salah karena Ari memang orang yang ramah.
"Terima kasih." Aku mendudukkan diriku dengan kikuk di samping Ari.
Gugup, aku lalu memberanikan diri melihat Deon untuk memastikan apakah dia keberatan aku duduk dengan orang lain. Namun faktanya aku terlalu banyak berharap karena dia tidak hanya tidak keberatan tapi dia juga tidak perduli dimana dan dengan siapa aku duduk.
Aku kemudian merendahkan kepala ku, menyembunyikan malu yang tersirat. Ironis sekali, aku adalah seorang wanita yang sangat tidak beradab dan tidak berperasaan.
Padahal selama 5 tahun ini aku selalu mendikte diriku untuk tidak mengharapkan Deon, untuk tidak menumbuhkan ambisi menjadikan Deon menjadi milikku, dan untuk tidak merebut Deon dari kehidupan Almira.
Aku adalah seorang wanita yang munafik. Aku mengatakan tidak selama bertahun-tahun tapi pada akhirnya ketika Tuhan menguji, aku kehilangan akal dan dengan segera menerima pernikahan dadakan ini.
Seketika, janji-janji yang aku tanam di dalam hatiku segera menghilang digantikan oleh keserakahan. Bagaimana mungkin Deon jatuh cinta kepadaku disaat diriku adalah orang yang menghancurkan hubungannya dengan adikku.
__ADS_1