Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 38


__ADS_3

"Bawa aku ke kamarmu." Perintah Bibi Mei sembari memalingkan wajahnya dari Rain.


Rain semakin sedih. Kepalanya terkulai lemah di belakang Bibi Mei. Tersenyum tipis, dia lalu melangkah ke depan untuk memimpin jalan tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Bibi Mei.


Kesedihannya tidak berarti apa-apa untuk Bibi Mei ataupun anggota keluarga yang lain karena Rain menyadari posisinya yang tidak terlalu berharga.


Bibi Mei melihat kamar Rain hanya sebentar saja. 5 menit kemudian dia keluar dari kamar Rain tanpa mengatakan penilaiannya. Sambil bersedekap dada Bibi Mei memperhatikan bila rumah ini banyak meninggalkan jejak Almira. Entah itu melalui foto, dekorasi flamboyan yang sama dengan kamar Almira di rumah, dan tata letak barang yang juga memiliki kemiripan seperti di rumah.


Semua ini menunjukkan bila Almira seringkali datang ke sini dan bahkan memiliki hak istimewa untuk mengatur rumah ini. Bibi Mei jelas terlihat sangat puas. Dia tersenyum lebar dengan kepala menganggukkan ringan. Puas, dia lalu melirik Rain dari sudut matanya.


"Ikut aku keluar."


"Mau kemana, Bibi?" Rain tidak terlalu bersemangat.


Ditanya kemana wajah Bibi Mei menjadi muram,"Ikut aku ke tempat suamiku." Jawabnya dingin.


"Paman?" Rain buru-buru membuka layar ponselnya untuk melihat tanggal.


"Sekarang sudah tanggal 1?" Gumam Rain kaget.


Rain sangat terkejut juga kesal pada diri sendiri karena bisa-bisanya melupakan hal yang penting.


"Cepatlah." Desak Bibi Mei sudah berada di depan pintu.


"Tunggu, Bibi Mei." Dia berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas dan dompet sebelum keluar menyusul Bibi Mei.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil pribadi Bibi Mei yang sudah terparkir di depan halaman apartemen. Biasanya Bibi Mei akan menyetir tapi untuk hari ini dia akan menggunakan supir karena setiap tanggal 1 suasana hatinya akan mengalami titik terendah dalam hidup.

__ADS_1


...🌪️🌪️🌪️...


Suhu di dalam mobil sangat rendah mengikuti suasana hati Bibi Mei yang kini tengah duduk di sampingku. Di atas pangkuan Bibi Mei dia memegang sebuket bunga mawar merah yang sangat harum dan masih segar, seperti baru dipetik hari ini.


Bibi memegang bunga mawar yang indah tapi sorot matanya tampak meredup. Ku perhatikan Bibi Mei lebih banyak melihat ke arah buket bunga daripada melihat ke tempat atau arah lain untuk meredakan suasana hatinya.


Tanggal 1 bulan ini Pamanku lahir dan berulangtahun. Tidak ada pesta ataupun perayaan ulang tahun untuk Pamanku karena dia sudah mati. Benar, Paman meninggal tanpa sepengetahuanku 5 tahun yang lalu dan aku tidak tahu penyebab pastinya kenapa Paman meninggal. Sebab sepanjang bersama dengan Paman, aku sangat ingat jika Paman adalah polisi yang kuat dan selalu sehat, dia seharusnya tidak mudah meninggalkan dunia ini.


"Kakak bilang jika trauma bisa dihilangkan oleh Deon, benarkah?"


"Oh..." Aku pernah mengatakannya kepada Papa, tapi masalah ini diabaikan. Kupikir Papa melupakannya tapi ternyata dia tidak.


"Aku rasa... traumaku bisa dikendalikan saat aku bersama dengan Deon. Karena.. karena di dekat Deon, aku tidak apa-apa saat menyentuh pisau dapur kemarin. Aku tidak sakit...jadi aku akan memberitahu dokter Bimo masalah ini." Jawabku ragu-ragu.


Aku memang berencana memberitahu dokter Bimo, dokter jiwa yang sudah 5 tahun ini menemaniku lepas dari ikatan masa lalu- yang sayangnya masih belum menunjukkan perubahan besar sampai dengan detik ini.


Bibi Mei terdiam. Dengan kepala menunduk aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresi Bibi Mei saat ini dan apa yang sedang dia pikirkan sekarang.


"Dia adalah orang yang menciptakan trauma itu maka tidak mengherankan jika dia pula yang bisa mengobati trauma mu." Nada Bibi Mei terdengar cukup sinis, apa aku mungkin salah dengar?


Tidak, anggap saja aku salah dengar.


Aku tidak berbicara lagi, oh, mungkin lebih tepatnya aku tidak tahu harus berkata kepada Bibi Mei karena otak ku tiba-tiba menemukan jalan buntu dan lidahku pun terasa kelu tidak bisa mengatakan apa-apa.


Bibi Mei selalu menanggapi ku sinis dan culas sehingga aku tidak memiliki cukup keberanian untuk berbicara dengannya.


"Nyonya, kita sudah sampai."

__ADS_1


"Hem." Bibi Mei kemudian keluar dengan buket bunga mawar merah di tangannya.


Tanpa bertanya aku langsung mengikutinya turun dari mobil. Begitu kakiku benar-benar berpijak di tanah, kedua mataku lalu dengan liar mengawasi lingkungan kami.


Ini adalah tanah pekuburan, terlihat hijau dan terawat dengan baik. Sekali pandang saja aku tahu jika tanah pekuburan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berasal dari keluarga kaya.


"Kamu tidak bisa masuk ke dalam, Rain." Aku tercengang saat mendengar perkataan Bibi Mei, jika aku tidak bisa masuk ke dalam lalu kenapa Bibi Mei membawaku ke sini?


"Karena aku tidak ingin suamiku bertemu dengan pembunuhnya."


Deg


Pembunuh?


Pembunuh Paman, apa yang Bibi Mei maksud adalah aku?


"Aku..." Dadaku tiba-tiba terasa sesak entah kenapa.


"Jangan berpura-pura bodoh, Rain. Hanya karena kamu pernah koma bukan berarti kamu bisa melupakan semuanya! Hanya karena kamu pernah tertidur lama bukan berarti kamu melupakan kematian suamiku!"


Aku bernafas cepat, dadaku berdebar dengan gemuruh yang membingungkan.


"Tapi aku benar-benar tidak tahu kenapa Paman meninggal, Bibi.." Aku berusaha mengatakan ketidaktahuan ku kepada Bibi karena aku benar-benar tidak tahu.


"Aku bilang jangan menipuku, Rain." Suara Bibi Mei terdengar gemetaran entah karena marah atau mungkin karena sedih, aku tidak tahu.


Tapi aku belum pernah melihat Bibi Mei seperti ini.

__ADS_1


"Hari itu kamu menelpon suamiku yang baru saja keluar dari bandara setelah melakukan dinas di luar kota." Suara Bibi tidak keras juga tidak ringan tapi begitu menusuk di dalam pendengaran ku, hatiku rasanya tersayat.


Aneh, aku tiba-tiba mulai mengingat apa yang seharusnya ku ingat dan entah kenapa ku lupakan.


__ADS_2