
Deg
Bola mataku spontan bergerak menatapnya, menatap Mama mertua yang kini tengah memalingkan wajahnya tidak ingin menatapku.
Papa mertua bilang jika Mama mertua tidak marah kepadaku, tapi hari ini aku melihat tindakan Mama mertua menunjukkan sebaliknya, dia tidak menyukaiku.
"Papa bilang Mama kemarin sedang tidak enak badan. Aku minta maaf karena tidak bisa datang menjenguk Mama-"
"Berhenti berbasa-basi, sudah kubilang tidak ingin membuang waktu berbicara dengan mu. Ingat, aku tidak pernah setuju kamu menikah dengan Deon karena bagiku menantuku hanya satu, yaitu Almira. Adapun kamu hanyalah seorang wanita perebut, wanita jahat yang tidak memiliki hati nurani. Kamu tega menghancurkan hubungan Deon dengan adikmu sendiri, padahal mereka berdua selalu memperlakukan kamu dengan baik tapi kamu memberikan mereka balasan yang kejam. Hah, baiklah, hari ini kamu menang tapi kemenangan ini tidak akan bertahan lama, Rain. Karena suatu hari nanti Tuhan akan memberikan mu ganjaran atas semua yang kamu lakukan hari ini. Ingat, orang jahat tidak akan pernah bisa hidup bahagia karena hati dan pikiran mereka sudah buta akan cahaya kebaikan. Jadi aku sarankan kamu segera mengakhiri semua ini sebelum Tuhan menghukum mu, wanita kotor!" Setelah mengatasi itu Mama mertua lalu menarik tangan Sasa pergi.
Kulihat dari jauh Sasa menoleh ke belakang untuk menatap ku, dia menjulurkan lidahnya dengan gaya mengejek tampak sangat puas dengan penghinaan yang kudapatkan hari ini.
Sedangkan aku sendiri?
Entahlah, sakit, sakit, dan sakit. Sudah berapa sakit yang kurasakan hari ini. Rasanya aku ini tidak ada bedanya dengan orang-orang sebatang kara di luar sana, ada tapi tidak dianggap ada, takut membuat kesalahan tapi selalu dianggap sebuah kesalahan, memiliki keluarga tapi sebenarnya tidak memiliki siapa-siapa karena tak ada yang perduli.
Jadi, aku ini apa?
"Rasanya melelahkan. Aku sangat lelah, aku ingin pulang dan tidur. Aku butuh istirahat, sebentar saja. Aku ingin mengistirahatkan tubuh dan hatiku sebentar saja, tidak apa-apa'kan, Tuhan?"
...🌪️🌪️🌪️...
Pulang ke rumah aku langsung masuk ke dalam kamar, mengunci pintu dan merosot jatuh ke lantai untuk melepaskan kelelahan yang menggerogoti hatiku.
"Berhenti berbasa-basi, sudah kubilang tidak ingin membuang waktu berbicara dengan mu. Ingat, aku tidak pernah setuju kamu menikah dengan Deon karena bagiku menantuku hanya satu, yaitu Almira. Adapun kamu hanyalah seorang wanita perebut, wanita jahat yang tidak memiliki hati nurani. Kamu tega menghancurkan hubungan Deon dengan adikmu sendiri, padahal mereka berdua selalu memperlakukan kamu dengan baik tapi kamu memberikan mereka balasan yang kejam. Hah, baiklah, hari ini kamu menang tapi kemenangan ini tidak akan bertahan lama, Rain. Karena suatu hari nanti Tuhan akan memberikan mu ganjaran atas semua yang kamu lakukan hari ini. Ingat, orang jahat tidak akan pernah bisa hidup bahagia karena hati dan pikiran mereka sudah buta akan cahaya kebaikan. Jadi aku sarankan kamu segera mengakhiri semua ini sebelum Tuhan menghukum mu, wanita kotor!"
Kata-kata Mama mertua terus menerus berputar di dalam kepalaku. Mengingatkan ku bahwa di sini, di rumah ini, dan bahkan di dalam keluarga ku sendiri dan di dalam keluarga Deon, tidak ada yang mau menerima kehadiran ku.
__ADS_1
"Apa salahku?" Perih, mataku terasa perih dan penglihatan ku menjadi buram.
Aku mengedipkan mata ku untuk menyamarkan rasa perih, hasilnya air mataku tak bisa dibendung lagi dan meluap dari sudut mataku.
Sakit rasanya.
Sakit rasanya, Tuhan.
"Aku memang bodoh karena setiap kali orang memarahiku, setiap kali orang menuduhku membuat kesalahan, setiap kali orang meragukan dan merendahkan ku....aku...aku tidak bisa melawan ataupun sekedar membantah semua perkataan mereka dengan keras. Aku...ingin...aku ingin mengatakan bahwa aku tidak bersalah, aku tidak sehina itu, aku tidak seburuk itu tapi...aku sakit, aku sakit! Mental ku rusak sejak kejadian itu! Mental ku rusak, tapi... mengapa Papa, Mama, Bibi Mei, Bibi Lara, dan semua orang di rumah tidak mengerti kondisi ku? Bukankah..." Rasanya sakit!
Hatiku sakit dan aku lelah. Kata-kata mereka semua bagaikan sebuah pisau tak kasat yang tanpa henti melukai ku, menggores hatiku sedalam mungkin.
".. keluargaku? Mereka adalah keluargaku tapi mengapa sikap dan tindakan mereka menunjukkan seolah-olah aku adalah orang asing di rumah itu?" Yang benar-benar tidak bisa ku mengerti.
Mereka semua bersikap apatis kepadaku dan lebih mempercayai Almira.
"Kalian tidak adil, kalian mencintai Almira tapi mengapa aku tidak? Tidak tahukah kalian bahwa aku sangat cemburu...aku cemburu dengan semua yang adikku dapatkan. Aku cemburu dengan semua yang adikku miliki sedangkan aku sendiri harus bersusah payah menjangkaunya...aku cemburu...aku cemburu, Tuhan!"
Tuhan tahu betapa aku cemburu dengan semua yang didapatkan dan miliki adikku. Aku sangat cemburu.
"Non Rain sudah pulang?" Suara Bibi Siti di luar kamar.
Aku langsung bangun dari lantai dan menggunakan kain bajuku untuk mengusap wajah basah ku. Seolah-olah Bibi Siti bisa masuk ke dalam dan melihat kepengecutan ku.
"Iya, Bibi. Aku baru saja pulang." Jawabku dengan suara sangau sehabis menangis.
Aku buru-buru berdehem untuk meringankan suaraku agar terdengar senormal mungkin. Saat pulang tadi aku lupa menyapa Bibi Siti karena mood ku sedang bermasalah.
__ADS_1
"Apa non Rain baik-baik saja?"
Aku tersenyum tipis,"Aku baik-baik saja, Bibi, tapi aku sedikit lelah. Aku ingin tidur sebentar di kamar."
"Non Rain belum makan siang, kenapa tidak makan siang dulu sebelum beristirahat?"
Tadi siang aku memang lupa makan siang karena Bibi Mei lebih dulu datang berkunjung dan setelah itu kami pergi ke tempat makam Paman walaupun aku tidak bisa masuk.
"Aku enggak lapar, Bibi. Mungkin setelah bangun nanti aku akan menyempatkan diri untuk makan siang." Padahal aku harus makan untuk mengisi tenagaku setelah donor darah tadi.
Kudengar Bibi Siti menghela nafas di luar sana,"Baiklah, non. Non Rain istirahat saja di dalam dan jika butuh apa-apa, jangan ragu untuk memanggil Bibi."
Aku hanya berdehem singkat sebagai jawaban. Saat mendengar langkah kaki Bibi Siti menjauh dari kamar, barulah aku bangun dan merebahkan diri di atas ranjang untuk melanjutkan istirahat ku.
Kali ini aku tidak menangis atau mengeluh karena rasa lelah lebih mendominasi ku sekarang.
Bersambung...
Sigh, saya penulis biasa dan memiliki banyak kekurangan. Saya tidak bisa memenuhi ekspektasi kalian sebagai pembaca karena apa yang saya tulis adalah apa yang saya sukai.
Mungkin ada beberapa orang yang keberatan karena saya selalu mengulang topik dan dialog yang sama, monoton istilahnya. Saya melakukan itu karena mengikuti karakter Rain, dia lembut dan pengecut tapi karena gangguan jiwa yang dia terima 5 tahun yang lalu.
Karena kejiwaannya terganggu, pikiran dan tindakannya sering berubah-ubah, dia lelah dan ingin menyerah tapi karena 'masa lalu' membuatnya enggan.
Yakin kok, dia memang memiliki kekurangan tapi tidak benar-benar bebal dan bodoh mau saja menerima luka.
Akan ada hari dimana dia mengatakan- ops, gak boleh spoiler wkwkwkw...
__ADS_1
Dan yah, karena banyak yang gak suka gaya penulisan saya, setelah ini mungkin saya akan berusaha mengurangi POV Rain, yah.. mungkin...
Tapi mungkin membutuhkan beberapa hari libur karena saya butuh waktu untuk menulis 😬