Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 47


__ADS_3

Sementara Deon tenggelam dalam pikirannya, Rain justru diam-diam mencuri pandang ke arah Deon. Dia memperhatikan wajah tampan Deon yang kini tengah sibuk memperhatikan langit-langit ruang tengah, entah apa yang dipikirkan suaminya pikir Rain.


"Ini yang terakhir, Rain." Lamunan Rain segera buyar.


Dia tanpa sadar menegakkan punggungnya karena diliputi perasaan tegang.


Menatap Rain,"Aku tidak ingin mendengar masalah ini untuk yang kedua kalinya lagi."


Rain tersenyum tipis,"Aku tidak akan menemui Almira." Janji Rain.


Deon mendengus,"Jangan menemui siapapun tanpa seizin ku, terutama menemui seniormu itu!" Ralat Deon dengan ekspresi sembelit di wajahnya,


Aneh, entah mengapa Rain merasa bila suaminya sedang cemburu.


"Dan itu.. ekhem," Deon berdehem ringan, tampak canggung.


"Ya?" Sahut Rain tidak menyadari kecanggungan suaminya.


"Mulai sekarang kamu harus belajar memanggil aku dengan sebutan 'Mas' karena aku adalah suamimu."


Rain tercengang, untuk sesaat dia tidak bisa mempercayai pendengarannya.


Melihat reaksi lambat Rain, Deon menjadi lebih gugup dan tidak sabaran.


"Apa kamu mendengar ku?!" Tanyanya membentak- Deon tidak bisa mengendalikan emosinya.


Pastinya rasa asam dihatinya masih belum hilang saat menebak bila teman yang Rain datangi di rumah sakit adalah Bimo.


Tersentak kaget, mulut Rain berkedut tertahan antara kaget juga salah tingkah. Dia merasa manis untuk hal yang sangat sepele, namun bagi Rain ini adalah sesuatu yang sangat penting.


Deon Dirgantara yang tiada lain adalah suaminya meminta untuk mengubah panggilannya di masa depan.


Hati Rain dibuatnya menghangat. Manis rasanya, dan setelah sekian tahun dia akhirnya kembali merasakan momentum manis ini.


"Aku...aku mendengar mu, Mas." Jawab Rain terbata-bata seraya menundukkan kepalanya mengelak dari tatapan tajam suaminya.


Deon untuk beberapa alasan terdiam melihat sikap pemalu Rain. Kedua matanya bersinar aneh dengan makna tertentu, namun sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Rain.


Aneh.


Kami seolah kembali ke masa-masa itu, waktu dimana Rain masih menjadi Rain yang ku kenal, manis dan pemalu. Batin Deon mengenang.

__ADS_1


Deon tiba-tiba menjadi kesal saat mengingat kenangan 5 tahun yang lalu. Dia marah karena belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Rain.


"Ingatlah untuk tidak mengulangi-"


"Kak Rain!" Suara teriakan nyaring seorang gadis memotong ucapan Deon.


Dari arah pintu masuk muncullah seorang gadis cantik dengan dress biru langit yang terlihat serasi di tubuh rampingnya. Kelopak mata gadis itu berkibar antusias saat bola matanya menangkap keberadaan Rain di ruang tengah. Dia lantas berlari kencang, mengabaikan penampilan anggunnya bak putri keluarga bangsawan yang menyenangkan mata.


"Kak Rain! Aku kangen banget sama Kakak!" Teriak gadis itu begitu sampai di depan Rain.


Gadis cantik itu tanpa ragu-ragu melemparkan dirinya ke depan Rain dan memeluknya kuat. Dalam pelukan ini gadis itu bisa merasakan bila tubuh Rain menegang namun tidak menolak sentuhannya.


Mata gadis itu seketika memerah tidak ingin melepaskan Rain, bukannya melepaskan tapi gadis itu malah semakin mempererat pelukannya kepada Rain.


Berbeda dengan sikap antusias gadis itu, Deon yang sedari tadi menonton pertunjukan tiba-tiba merasa pusing dengan kedatangan gadis itu.


"Sila, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tanya Deon dengan nada malas tapi tidak bisa menyembunyikan sorot lembut di bola matanya.


Benar, gadis itu adalah Sila, satu-satunya adik Deon yang tiada lain adalah tersangka yang memergoki Deon dan Rain di pagi itu.


Sila mendelik terganggu,"Jangan besar kepala, Kak. Satu-satunya alasanku di sini adalah untuk menemui Kak Rain, Kakak ipar ku! Apa Kak Deon keberatan?"


Kakak ipar?


"Siapa yang-"


"Hus!" Potong Sila jengkel,"Aku gak mau dengerin omong kosong Kak Deon, basi tahu, gak." Katanya sambil memutar bola matanya malas.


Deon,"...." Adiknya tiba-tiba menyalakan mood singa betina tanpa alasan.


Biasanya Sila akan mudah tersinggung saat sedang mentruasi atau sedang terjebak dalam sebuah masalah.


Sila membawa fokusnya kembali kepada Rain yang sejak awal kedatangannya belum pernah mengatakan apa-apa.


"Kak, Kakak pasti tersiksa banget'kan tinggal sama Kak Deon?" Tanya Sila perihatin.


Rain tercengang, sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya membantah.


"Mas.. Mas Deon orangnya baik-"


"Jangan bohong deh, Kak. Aku tahu banget orang seperti apa Kak Deon itu." Potong Sila sok tahu.

__ADS_1


Dia adalah adik Deon, satu-satunya. Segala baik dan keburukannya sudah diketahui oleh Sila luar dalam jadi bagaimana mungkin dia percaya dengan jawaban pembelaan Rain?


"Emang aku orangnya kayak gimana, hem?" Deon di seberang gatal ingin menguliti adiknya.


Merasakan tatapan penuh ambisi Kakaknya, Sila lantas tidak takut dan semakin menantang kesabaran Deon.


"Kak Deon tuh orangnya nyebelin, sok berkuasa, sok ganteng, sok paling benar, dan yang paling membuat aku marah tuh Kak Deon orangnya plin plan. Padahal kalau masih suka sama orang tuh jangan sok jual mahal karena kesempatan gak datang sering-sering amat-"


"Cukup, Sila. Kamu sudah keterlaluan." Potong Deon marah.


Bila mereka hanya berdua saja mungkin Deon tidak akan marah dan menganggap apa yang dikatakan adiknya hanyalah angin lalu saja. Tapi saat ini ada rain diantara mereka berdua. Deon memiliki kekhawatiran bila Rain mempercayai semua yang dikatakan oleh adiknya tadi.


"Berlebihan?" Sila mencibir."Jelas-jelas orang yang berlebihan di sini adalah Kakak sendiri! Coba jelaskan kepadaku apa alasan Kakak menikahi Kak Rain secara siri, hah? Apa maksud Kakak melakukan semua ini?" Teriak Sila mengejek.


Dia tahu bila semua yang dia katakan tadi membuat Deon sangat marah dan kesal, dia tahu dan sayangnya tidak perduli.


Deon mendengus kasar,"Shut up! Kamu masih kecil dan tidak tahu apa-apa mengenai urusan orang dewasa."


"Aku masih kecil?" Sila jelas mengejek Deon.


Rain pusing melihat perdebatan mereka berdua. Dia mengguncang lengan Sila memintanya untuk berhenti bicara.


"Sila, sudah-"


"Jangan ikut campur, Kak. Ini adalah urusan aku dan Kak Deon." Sila ingin memenangkan perdebatan.


Lalu dia kembali menatap Deon,"Aku masih kecil? Fine, aku gak akan ungkit masalah itu lagi. Tapi mulai dari hari ini aku akan tinggal di sini bersama Kak Rain. Aku ingin tidur di kamar yang sama dengan Kak Rain dan pergi keluar bersama dengan Kak Rain." Sila ingin memonopoli Rain sepenuhnya.


Gagasan ini langsung ditolak oleh Deon. Dia tidak mungkin membiarkan Rain dimonopoli oleh penyihir itu.


"Gak bisa! Rain adalah istriku jadi bagaimana mungkin dia tinggal bersama mu!"


Hem, Kak Deon masih bodoh kalau menyangkut soal Kak Rain. Batin Sila dalam suasana hati yang baik.


"Kenapa tidak? Kak Rain sama Kak Deon kan gak tidur di kamar yang sama, jadi boleh dong aku tinggal sama Kak Rain."


Deon tercengang,"Kamu.. memata-matai rumahku?" Tuduh Deon.


Bersambung...


Udah masuk babak baru, yah🍃

__ADS_1


Satu bab dulu karena saya masih di rumah sakit😬


__ADS_2