
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara dingin Deon menarik Rain dari lamunannya.
Rain tersadar dan baru menyadari keberadaan Deon di depan pintu masuk dapur. Eh, bukankah Deon baru saja pergi dari sini? Heran Rain cukup terkejut.
"Apa masakan ku tidak enak?"
Rain menggelengkan kepalanya panik,"Tidak, ini sangat enak." Walaupun tidak seenak buatan Bibi Siti tapi masih bisa dimakan kok.
Bibir Deon tanpa sadar membentuk garis senyuman tapi sedetik kemudian dia langsung menariknya kembali. Membentuk garis datar mengikuti citranya yang dingin.
"Lalu makanlah." Kata Deon sambil membawa langkah kakinya masuk ke dalam dapur.
"Hem..." Rain langsung menundukkan kepalanya berpura-pura fokus pada makanan.
Dia sangat gugup saat melirik kursi di sampingnya di tarik ke belakang sebelum diduduki oleh Deon. Wangi kayu Cendana yang menyegarkan segera menguar di udara sekeliling Rain. Menggelitik indera penciuman Rain dan melembutkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Setelah ini..." Ada jeda dalam suaranya.
Rain sangat bersemangat dan tanpa sadar mengangkat kepalanya untuk melihat Deon.
Deg
Kedua mata mereka berdua bertemu dalam satu titik lurus yang mendebarkan.
Bum
Bum
Bum
Suara itu menggelegar kuat tanpa bisa dikendalikan. Entah darimana suara debaran ini berasal namun yang pasti mereka berdua tidak terlalu memikirkannya karena fokus mereka saat ini berada pada titik yang sama,
__ADS_1
Bukankah rasanya manis?
"A-apa?" Bisik Rain berdebar.
Kedua pipi Rain merona, mengembangkan semburat merah nan cantik yang menggelitik hati. Tapi,
"Tidak ada." Kata Deon seraya bangun dari duduknya.
Rain tercengang dan merasa heran dengan sikap labil Deon malam ini. Dia kira Deon akan segera pergi dan tidak melanjutkan pembicaraan tapi siapa yang mengira jika Deon ternyata mengatakan beberapa patah kata.
"Besok aku akan melakukan perjalanan bisnis keluar kota." Kata Deon memberitahu, dan berkata lagi,"Selama waktu itu aku harap kamu bisa menjaga sikapmu dan jangan membuat masalah." Peringat Deon datar namun Rain tahu peringatan ini tidak main-main.
Deon selalu menjadi orang yang serius.
Rain menjawab kosong,"Aku mengerti."
Lalu setelah itu Deon keluar dari dapur dan tidak pernah masuk lagi.
Keesokan harinya ketika Rain bangun tidur, dia menemukan bila sudah tidak ada siapapun di dalam rumah. Sila telah pergi entah kemana sedangkan Bibi Siti kembali ke kampung halamannya setelah mengajukan cuti kemarin sore.
"Ini salahku karena tidak bangun pagi." Bisik Rain setelah sekian lama melamun.
Dia tidak tahu sampai kapan Deon diluar kota dan dia tidak tahu kapan Deon pulang karena Deon tidak pernah mengatakannya semalam.
"Aneh, mengapa aku memiliki ilusi bila rumah ini tidak ada bedanya dengan rumah Papa?" Gumamnya dengan nada ironis.
Dia tersenyum kecil seraya menepuk wajahnya, memperbaiki suasana hatinya yang stagnan di tempat sebelum beranjak dari tempat tidur.
Hari ini dia menghabiskan waktu sepenuhnya di rumah sendirian. Dia tidak punya tempat tujuan di luar jadi dia hanya menghabiskan waktu untuk tidur, makan, bersih-bersih, dan tidur.
Hal ini semakin terasa memuakkan saat mendapat telpon dari Sila jika dia akan menginap di rumah temannya dan tidak pulang malam ini. Menyisakan Rain sendirian di rumah dengan permintaan maaf.
__ADS_1
Kosong, kedua bola mata Rain menjadi redup melihat setiap bagian dari rumah ini yang tidak berpenghuni. Dia merasa sedih juga kehilangan.
Terduduk lemas di atas lantai dingin, punggung tipisnya bersandar tanpa kekuatan di dinding. Tidak berselang lama kemudian suara isak tangis menyakitkan mulai terdengar di dalam rumah. Rain terisak kesakitan, menahan kesedihan tidak berujung yang tidak ada habisnya.
Lelah rasanya,
Ingin sekali dia mengakhiri semua pesakitan ini.
...🍃🍃🍃...
Besoknya Rain sekali lagi bangun siang dengan kondisi perut kosong dan kepala pusing. Kedua mata sembabnya menatap bingung sekelilingnya dan bertanya-tanya mengapa dia ada di sini?
Kemudian bayangan akan kelelahan kemarin menjawab semua kebingungannya. Sungguh, dia tidak pernah menyangka akan tertidur selama ini.
"Kondisiku sepertinya sedikit memburuk." Katanya setelah termenung lama.
Dia tersenyum tipis, cukup tidak perduli karena toh, tidak ada yang perduli lagi kepadanya. Bila karena ini dia harus meninggalkan dunia maka, ya, inilah jalannya. Rasa sakitnya mungkin akan menghilang bila dia benar-benar lepas dari dunia ini.
Pasti rasanya melegakan.
1 jam kemudian Rain telah keluar dari kamarnya setelah mandi dan berganti pakaian. Awalnya dia berencana memasak di dapur tapi semua rencananya harus mundur saat melihat Sasa kini tengah duduk di sofa.
"Siang, Kak Rain." Sambut Sasa dengan nada cerianya yang menyenangkan, dia tampak berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.
Rain merasa aneh dengan perubahan sikap Sasa yang tiba-tiba dan bertanya-tanya bagaimana bisa dia masuk ke rumah ini?
Ah, bukankah Sasa adalah sepupu Deon? Maka seharusnya ini bisa dijelaskan.
Tersenyum tipis, dia mengabaikan perasaan tidak nyaman di dalam hatinya dan berusaha tetap tenang karena jantungnya lagi-lagi membuat ulah.
"Siang." Rain ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ke rumah sakit yuk, Kak." Ajak Sasa langsung tidak ingin berbasa-basi.
"Ke rumah sakit?" Rain langsung memikirkan Almira.