Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 22


__ADS_3

Aku tidak mengira Papa tiba-tiba menyebutkan topik pembicaraan ini. Aku pikir Papa mertua tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku karena tidak ada satupun orang di rumah ini yang merestui pernikahan ku dengan Deon.


"Dan adik kamu Sila, dia sangat senang ketika mendengar kamu akan menjadi Kakak iparnya. Tapi dia tidak bisa datang ke sini karena saat ini dia sedang ada di pulau T untuk melakukan penelitian bersama teman-teman kampusnya. Sila berjanji lain hari dia akan datang menyapamu."


Aku tidak tahu apakah yang Papa mertua katakan benar atau tidak tapi yang pasti hatiku sangat tersentuh untuknya. Dia menjelaskan kepadaku apa yang dilakukan oleh Mama mertua dan Sila sehingga tidak datang ke acara pernikahan ku, terlepas ini benar atau tidak tapi aku sangat senang mendengarnya. Karena sikap Papa mertua menunjukkan bahwa kehadiran ku cukup dihargai.


"Tidak apa-apa, Pa. Biarkan aku yang datang lebih dulu menyapa mereka." Sudah sewajarnya seorang menantu menawarkan diri'kan?


"Rain," Kami sekarang sudah berdiri di depan mobil Papa mertua.


Aku menatapnya.


"Jika suatu hari kamu merasa kelelahan maka jangan ragu untuk menyerah, Nak."


Kedua mataku membola tidak bisa menahan kejutan dihati ku.


Papa mertua melanjutkan lagi ucapannya,"Pada saat itu terjadi berhentilah keras kepala dan pikirkan dirimu sendiri. Pergi sejauh yang kamu bisa untuk menyembuhkan luka mu. Jangan biarkan siapapun tahu keberadaan mu karena mereka tidak benar-benar peduli apa yang kamu rasakan. Hanya kamu yang mengetahuinya dan hanya kamu yang merasakannya. Papa tidak ingin kamu semakin sakit ketika hari dimana Deon dan Almira kembali bersama tiba. Tolong pikirkan hatimu, Nak."


Aku mengepalkan kedua tanganku dan berusaha membentuk senyuman sebaik mungkin di depan Papa mertua. Banyak sekali kata-kata terima kasih yang ingin ku ucapkan untuk semua perhatiannya tapi tenggorokanku terasa kering.


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Dengarkan apa yang dikatakan Papamu karena di rumah ini hanya dia yang paling mengerti kamu."


Aku memejamkan mataku, menganggukkan kepalaku lemah seraya tersenyum pahit.

__ADS_1


"Kalau begitu Papa pulang dulu ya, Nak. Sampaikan salam Papa kepada kedua orang tuamu."


Aku mencium punggung tangan Papa mertua sopan,"Baik, Pa. Aku akan menyampaikannya kepada mereka. Papa hati-hati ya di jalan."


Papa mertua tersenyum kepadaku, dia mengusap puncak kepalaku sebelum masuk ke dalam mobil dan menghilang dari pandanganku.


Masih terngiang dengan jelas apa yang Papa mertua katakan kepadaku tadi. Bila suatu hari aku benar-benar lelah dengan semua ini, dia memintaku untuk jangan menahan diri dan pergi ke tempat yang jauh untuk menyembuhkan luka.


Masalah ini aku sudah memikirkannya sejak tadi siang. Bila.. bila Deon menjatuhkan kata cerai kepadaku, maka aku akan pergi ke tempat yang cukup baik untuk menyembuhkan luka ku. Atau...atau mungkin aku akan menetap di sana dan berjanji tidak akan pernah muncul lagi di depan Deon ataupun Almira. Aku tidak mau mengganggu hubungan mereka karena Tuhan sudah memberikan kesempatan, jadi aku tidak boleh serakah.


Benar, jangan serakah Rain, pikirkan hatimu kedepannya.


...🥣🥣🥣...


Aku dan Deon tidak tinggal lama setelah Papa mertua pergi. Entah apa yang Deon bawa dari kamar Almira tapi aku tahu barang itu pasti sangat berharga untuknya. Aku tidak mengatakan apa-apa untuk itu dan sebagai seorang istri, aku juga tidak keberatan karena aku tidak memiliki ruang untuk menyuarakan keberatan.


Aku tahu bila mereka pasti berduka untuk kemalangan Deon karena harus menyia-nyiakan waktunya untuk menikah denganku.


Mama sendiri tidak mau berbicara denganku, lalu Bibi Mei dan Bibi Lara tidak pernah berhenti mengingatkan ku bahwa pernikahan ini tidak akan bertahan lama, mereka bilang aku tidak boleh memanfaatkan situasi atau sampai mengganggu hubungan Deon dan Almira.


Sementara Papa, dia hanya memintaku untuk menjaga diri dan menjaga kesehatanku.


Ironisnya, sikap maupun tindakan mereka menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak memiliki tempat di dalam pernikahan ini meskipun aku hanyalah sebatas istri siri Deon. Istri siri, hanyalah istri siri yang tidak berharga.


Kata-kata ini dengan keras aku tanamkan di dalam diriku sendiri agar suatu hari nanti bila Deon dan Almira sudah saatnya kembali bersama, aku tidak akan terlalu patah hati atau setidaknya hatiku sudah lebih dari siap untuk menerima semua kenyataan ini.

__ADS_1


"Kita tidak ke rumah utama?" Tanyaku gugup setelah mengumpulkan keberanian untuk bertanya.


Saat ini kami sedang ada di dalam perjalanan pulang. Aku pikir kami akan tinggal di rumah utama keluarga Deon seperti anggota keluarga yang lain tapi jalan yang saat ini kami lewati tidak menuju ke arah rumah utama.


Akan kemana kami pergi bila bukan ke rumah utama?


Deon mengangkat kelopak matanya tanpa melirikku.


"Rumah utama hanya boleh ditinggali oleh anggota keluarga yang telah menikah secara sah."


"Oh.." Aku meremat kedua tanganku menahan malu."Aku tidak tahu." Kataku jujur. Aku cukup shock sebenarnya mendengar jawaban langsung Deon.


Aku sama sekali tidak tahu jika akan ada aturan seperti ini di rumah utama. Dan tanpa Deon jelaskan lagi aku sudah mengerti bila posisiku tidak berhak untuk tinggal di rumah utama.


Haah, malangnya. Dia yang memutuskan untuk menikahi ku dan dia pula yang memutuskan untuk menikahi ku secara siri. Sepanjang hari ini aku tidak memiliki kesempatan untuk merasa marah atau menyuarakan protes kepada dia ataupun yang lainnya karena bagi mereka aku adalah yang bersalah.


Kecewa, aku mengakuinya. Tapi cinta sesungguhnya sangat aneh karena bodohnya aku masih saja bisa bernafas lega setelah diperlakukan sekejam ini oleh mereka. Hati dan pikiranku terus berkata,


Ini sakit, tapi tidak apa-apa. Dia mungkin membenci ku, tapi tidak masalah. Dan dia mungkin tidak mencintaiku, ini masih bukanlah masalah untukku. Selama bersama Deon, selama tinggal bersama Deon, dan selama bisa melihatnya sesering mungkin, aku bisa menanggung semua kesakitan itu.


Lihat, betapa bodohnya aku. Untuk sebuah perasaan cinta aku harus membayar sebanyak ini, ah...aku bertanya-tanya apakah aku masih memiliki sebuah harga diri di mata mereka?


Jangan dijawab karena aku sendiri sudah mengetahui jawabannya. Memilukan, aku sangat memilukan.


Menghela nafas panjang, aku membawa pandangan ku menatap ke arah luar. Melihat setiap bangunan yang kami lewati sambil menata perasaan ku agar tenang kembali.

__ADS_1


Setelah tenang, aku membawa pandangan ku kembali menatap Deon.


"Lalu...kita akan kemana?" Tanyaku murni karena rasa penasaran.


__ADS_2