
Bangun atau matilah!
Rain tersentak, jantungnya segera berdegup kencang mengirimkan rasa sakit tanpa henti ke seluruh tubuhnya.
Rain kesakitan, wajahnya berubah menjadi pucat pasi seperti orang yang kekurangan darah. Perlahan, dia membawa kakinya mundur menjauh dari Bibi Mei.
Satu langkah..
Dua langkah..
Tiga langkah, dia segera berbalik dan melarikan diri dari pandangan Bibi Mei.
Langkah kaki Rain goyah dan pandangannya menjadi linglung, namun dia masih berusaha menjaga otaknya agar tetap jernih dan sadar.
Perih, langkah Rain secara bertahap melambat dan berhenti di depan sebuah pohon besar di pinggir jalan. Dia mengangkat tangannya untuk menjangkau pakaian di dada, meremasnya kuat untuk sebagai pelampiasan betapa sakit jantungnya saat ini.
"Tuhan, jangan sekarang...aku mohon.." Dalam kesakitan nya dia melambungkan harapan kepada Sang Pencipta agar memberikannya kemudahan hari ini.
Dia harus tetap sehat, dia harus tetap sehat!
Kepalanya berdengung menyemangati di tengah-tengah rasa sakit yang menusuk dari jantungnya.
"Aku tidak boleh minum obat...aku tidak boleh... karena Almira tidak akan bisa bertahan jika aku melakukan itu. Ayo Rain, jangan lemah dan atur nafas mu sebaik mungkin. Jangan biarkan rasa sakit ini mengalahkan kamu!"
Rain berusaha menjaga kesadarannya, menggigit bibirnya sekuat mungkin untuk mengurangi rasa sakit mencekam di dada. Dia berusaha mendikte diri sendiri agar tetap sadar, menahan semua gelombang rasa sakit yang perlahan-lahan mulai menghilang.
Rain akhirnya bisa bernafas dengan lega. Dia lalu bersandar di batang pohon besar itu untuk memilihkan ritme pernafasannya.
"Bagus.. Rain..." Nafasnya masih terputus-putus tapi sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. "Setidaknya kamu masih bisa berguna untuk mereka." Bisiknya sendu dengan air mata yang mulai mengenang di wajahnya.
Berguna?
__ADS_1
Mereka bilang dia tidak berguna'kan?
Hah, dia tidak berguna maka dari itu dia berusaha membuat dirinya seberguna mungkin, walaupun ada harga yang harus dia bayar untuk menyenangkan mereka semua.
Lalu bagaimana dengan pilihan untuk mati?
Memikirkannya, wajah pucat Rain tersenyum kecut,"Suatu hari nanti... Tuhan akan mengabulkan permohonan kalian."
Merasa sudah lebih baik, Rain lalu berdiri dari duduknya."Aku...aku harus ke rumah sakit."
...🍃🍃🍃...
Di rumah sakit Rain langsung membawa langkahnya menuju UTD (Unit Transfusi Darah). Beberapa perawat di sana sudah mengenal Rain karena dia tidak hanya sekali atau dua kali ke tempat ini, tapi berkali-kali. Adapun tujuannya datang ke sini adalah untuk adiknya, Almira.
"Kondisi tubuh kamu sedang tidak stabil jadi kami tidak bisa mengambil darahmu." Salah satu perawat segera menolak tawaran Rain saat melihat laporan kesehatannya.
Rain tahu bila penyakitnya lagi-lagi membuat mereka meragukan dirinya tapi dia tidak mau mengalah karena satu-satunya orang yang paling tahu kondisi tubuhnya hanya dirinya seorang.
"Kalian bilang adikku sangat membutuhkan donor dan golongan darahnya langka, jadi ambil saja darahku agar adikku bisa bertahan lebih lama lagi sampai dia melakukan operasi."
Perawat itu menatap Rain dengan ekspresi rumit. Dia ingin menolak tapi kondisi Almira benar-benar berada diluar jangkauan mereka. Pasien itu sangat membutuhkan donor untuk saat-saat ini tapi sayang sekali golongan darahnya langka.
Membuat keputusan,"Baiklah, tapi setelah ini kamu harus lebih banyak beristirahat dan jangan melakukan aktivitas berat." Peringat perawat.
Rain sangat kooperatif. Dia mengikuti perawat itu masuk ke dalam UTD untuk menjalankan prosedur transfusi darah. Sepanjang prosedur, Rain sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa ketika melihat jarum panjang mulai menusuk kulit di perpotongan lengan kirinya. Seolah, dia sudah terbiasa melakukan ini.
Di tempat itu pula masih meninggalkan jejak-jejak dari jarum suntik lainnya. Warna menjadi gelap, samar, tapi masih bisa dikenali.
Hanya Rain yang tahu darimana luka itu berasal dan tidak satupun dari keluarganya yang mengetahui.
"Sudah selesai." Perawat itu telah menyelesaikan prosedur transfusi darah dan mengecek kembali detak jantung Rain, normal.
__ADS_1
Rain tersenyum lega, ia bangun dari duduknya sambil memperbaiki lengan bajunya untuk menutupi 'luka' dari jarum suntik.
"Terima kasih-"
"Rain!" Seketika kata-kata sopan itu tersangkut di tenggorokannya ketika mendengar panggilan panik dari orang yang selama ini dia hindari.
"Dokter Adit, lama tidak bertemu." Rain menyapa sopan dengan senyuman di wajahnya.
Melihat kedatangan dokter Adit, perawat itu secara alami keluar dari ruangan meninggalkan mereka berdua kesempatan untuk berbicara.
"Kamu mendonorkan darahmu, lagi?" Tanyanya shock.
Lagi,
Artinya dia sudah berulangkali mengulangi tindakan ini.
Rain tidak menjawab tapi dari ekspresi lembut di wajahnya dokter Adit tahu jika Rain lagi-lagi mendonorkan darahnya.
"Ya Tuhan, Rain! Kamu tidak bisa mendonorkan darahmu-"
"Aku bisa, dok! Aku tidak sakit dan aku tidak gila, aku jelas bisa mendonorkan darahku." Potong Rain terlihat tidak benar.
Dokter Adit jelas tercengang, untuk pertama kalinya Rain membantah ucapannya. Selama ini Rain selalu bersikap sopan saat bertemu dengannya tapi hari ini dia tiba-tiba memiliki sikap yang buruk.
"Rain, kondisimu semakin memburuk." Ucap dokter Adit khawatir.
Rain menggelengkan kepalanya membantah.
"Dokter, aku baik-baik saja dan aku tidak gila. Lihat, aku tidak takut lagi bercampur dengan keramaian, aku sekarang banyak bicara, aku tidak lagi banyak menangis, aku juga memiliki nafsu makan yang banyak-"
"Kamu harus pergi menemui dokter Bimo. Kondisinya sudah memburuk dan kamu membutuhkan penanganan dari dokter Bimo." Potong dokter Adit tidak ingin mendengarkan Rain lagi.
__ADS_1
Kondisi mental Rain benar-benar mengkhawatirkan untuk dokter Adit. Rain membutuhkan penanganan agar kondisi mentalnya tetap stabil, jika tidak, dia akan terus merosot seperti hari ini. Tampak kuat tapi sejujurnya rapuh, dokter Adit menyayangkan penolakan Rain selama ini.