
"Aku baik-baik saja, dok. Tolong jangan perlakukan aku seperti pasien sekarat yang membutuhkan pertolongan medis karena satu-satunya orang yang harus mendapatkan pertolongan di sini adalah adikku, dok. Dia sakit dan sedang berjuang untuk tetap hidup."
Semua orang di rumah selalu mengatakan ini. Pikirkan lah kondisi Almira, pertimbangan perasaannya, dan jangan buat dia hancur lagi!
Mereka semua mengatakan ini kepada Rain, berkali-kali tanpa lelah. Hingga pada akhirnya hati Rain seolah mati rasa dibuatnya karena dia benar-benar 'tidak' dibutuhkan oleh keluarganya sendiri.
"Tidak hanya Almira yang membutuhkan pertolongan tapi kamu juga, Rain. Kamu juga pasien di rumah sakit ini. Tunggu, kamu mendonorkan darahmu lagi. Maka selama ini kamu tidak pernah meminum obat dariku dan dokter Bimo?" Dokter Adit bertanya kaget, dia menatap Rain dengan perasaan campur aduk.
Ada marah, kesal, dan...sedih. Dia merasakan sedih untuk Rain, pasien yang sudah 5 tahun dokter Adit rawat dengan hati-hati. Besar harapannya Rain bisa sembuh, tapi apa yang terjadi sekarang?
Rain bukan hanya tidak sembuh tapi kondisi mentalnya juga memburuk. Dia terlihat sangat menyedihkan. Sayang sekali, keluarga Rain seolah menutup mata untuk kondisi Rain ini.
Bukankah Rain terlalu menyedihkan?
"Maafkan aku, dok..." Rain tahu telah mengecewakan dokter Adit dan dokter Bimo.
"Tapi jika aku meminum obatku maka Almira tidak akan mendapatkan darah. Dia harus hidup, dok, adikku harus sembuh." Sambung Rain berusaha menahan rasa perih di matanya.
Dokter Adit sudah mengetahui jawabannya tapi tetap saja dia sangat marah setelah mendengarnya.
"Ya Tuhan, Rain! Kamu... jantungmu mengalami masalah dan kamu harus tetap minum obat secara rutin agar masalahnya tidak semakin membesar. Jika kamu kehilangan jantung ini maka kamu..." Tidak tertolong lagi.
Tapi dokter Adit sangat enggan mengatakan kata-kata kejam ini. Karena Rain bukanlah sembarang pasien untuknya, Rain sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.
Rain juga mengetahui konsekuensi ini tapi dia...sudah tidak perduli lagi.
"Mau bagaimana lagi, dok? Adikku membutuhkan darahku." Ucap Rain kecut.
Dokter Adit memijat pelipisnya pusing,"Baiklah, cukup sampai di sini kamu mendonorkan darah karena kondisi Almira tidak separah yang kamu bayangkan. Dia pasti bisa sembuh karena sebentar lagi dia akan melakukan operasi. Adapun kamu, Rain...jangan abaikan kesehatan mu, lagi. Minumlah obat jantungmu secara rutin dan sering-seringlah kunjungi dokter Bimo untuk berkonsultasi mengenai psikologis mu. Ingat, kamu harus hidup. Bukankah kamu sebelumnya mengatakan ingin membangun sebuah panti asuhan untuk anak-anak di jalanan? Maka berjuanglah untuk tetap hidup. Jika tidak, mimpimu tidak akan bisa direalisasikan dan anak-anak di jalanan akan selamanya menderita karena tidak ada orang lagi yang memperjuangkan hidup mereka. Apakah kamu tega menghancurkan mereka, Rain?" Dokter Adit menyentuh titik terdalam di hati Rain.
__ADS_1
Panti asuhan dan anak-anak, dokter Bimo pernah mengatakan kepada dokter Adit jika kebahagiaan Rain ada di tempat itu.
Rain menyukai anak-anak karena mereka tidak akan pernah memalsukan emosi yang mereka rasakan apalagi sampai menghakimi kehidupan orang dewasa, mereka adalah anak-anak yang murni.
Rain termenung. Dia tiba-tiba mulai merindukan masa-masa damai di panti asuhan. Bertemu dan bercengkrama dengan mereka, Rain rindu.
"Aku ingin pulang, dok." Tapi Rain tidak bisa mengatakan apa-apa untuk saat ini.
Dia hanya ingin pulang ke rumah dan tidur, menenggelamkan rasa lelahnya di atas kasur yang empuk.
"Pulanglah, luangkan waktumu untuk beristirahat. Beberapa hari lagi aku akan menghubungimu untuk bertemu dengan dokter Bimo, pastikan hari itu kamu bertemu dengannya. Dan jangan lupa minum obatmu, Rain. Teruslah hidup untuk mimpimu."
Selama dokter Adit berbicara Rain tidak pernah menimpali tapi dia selalu mendengarkan dengan patuh. Dia tahu dokter Adit melakukan semua ini karena dokter ingin dia segera sembuh.
Rain kemudian membawa langkah kakinya keluar dari ruang UTD. Sepanjang jalan pikirannya tidak ada di tempat, dia larut dalam pembicaraan dokter Adit sebelumnya.
Jika dia memutuskan untuk tetap bertahan hidup, maka dia harus mulai minum obat-obatan dan berkonsultasi dengan dokter Bimo lagi.
"Tapi... mengapa aku harus melakukan itu semua? Apa anak-anak bisa menjamin kebahagiaan, ku?"
Terd
Terd
Terd
Ponselnya bergetar, ada panggilan masuk. Rain segera mengambil ponselnya di dalam tas dan segera shock ketika melihat orang yang menelpon adalah Deon.
"Deon masih menggunakan nomor ini?" Kaget Rain sulit mempercayainya.
__ADS_1
Padahal sudah 5 tahun berlalu, Rain pikir Deon sudah membuang nomor ini tapi dia tidak menyangka jika Deon masih menggunakannya.
Gugup, Rain menggelengkan kepalanya, melempar kebingungannya ini ke belakang karena yang terpenting sekarang adalah menjawab telpon suaminya.
"Hallo?" Rain mengangkat telpon Deon.
"Kamu dimana?" Deon bertanya langsung dari seberang sana.
Rain gugup bercampur senang, tapi dia ingat untuk berbohong karena dia tidak mungkin menjawab saat ini sedang berada di rumah sakit. Karena Deon sangat sensitif saat mendengar kata rumah sakit keluar dari mulut Rain.
"Aku... sedang ada di dalam perjalanan pulang setelah menemani Bibi Mei ke makam Paman."
Untungnya Deon percaya di ujung sana.
"Bagus, pulanglah. Pastikan kamu menghubungiku lagi setelah sampai di rumah." Apa ini hanya perasaan Rain saja?
Mengapa dia merasa jika Deon terdengar lega saat berbicara tadi?
"Aku...akan segera sampai dan kamu-"
Tud
Deon memutuskan sambungan.
Rain tertegun, dia melihat layar ponselnya yang sedang menunjukkan nama penelpon terakhir, Deon.
"Bagaimana bila aku berjuang hidup untuk kamu, Deon?" Tanyanya pada diri sendiri.
Bersambung...
__ADS_1