
Aku kira dia akan pergi tapi ternyata dia duduk di sebelahku. Kami duduk di sofa yang sama dengan suasana canggung yang menggigit.
"Kamu adalah istriku sekarang jadi kapan-kapan bawa aku mengunjungi Kakek dan Nenek. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka," Ku rasakan pergerakan di sebelah ku. Mungkin dia memiringkan duduknya menghadap ku karena hembusan nafas hangatnya menerpa kulit wajahku.
"Itu..." Aku menggigit bibirku panik.
Aku tidak punya Kakek dan Nenek dari pihak Mama ataupun Papa karena mereka sudah meninggal dari sebelum aku lahir.
"Kenapa? Kamu tidak mau?" Tanyanya menuntut.
Aku menggelengkan kepalaku membantah.
"Bukan... bukan seperti itu." Kataku memberanikan diri untuk melihatnya.
Dia bertanya lagi,"Jadi kamu akan mengajakku bertemu dengan mereka?"
Risau,"Tidak bisa... karena mereka sudah meninggal dunia."
"Oh, kalau begitu bawa aku ke kuburan mereka. Meskipun tidak bisa bertemu dengan mereka tapi berziarah ke kuburan mereka juga tidak apa-apa. Aku ingin melihat Kakek dan Nenek mu, orang-orang yang sangat sayang kepadamu hingga menahan mu di rumah mereka selama 7 bulan lamanya. Tidakkah kamu ingin menunjukkannya kepadaku?"
Deon, apa yang sebenarnya kamu inginkan?
Apakah tujuanmu melakukan ini untuk menyelidiki kemana aku pergi selama waktu itu?
Jangan lakukan itu, Deon, karena kamu pasti tidak akan percaya dengan jawaban yang kamu temukan nanti.
Masa lalu, tolong biarlah menjadi masa lalu.
"Aku ingin...tapi tempatnya sangat jauh." Jika aku membawamu ke sana maka itu sama saja aku mengungkapkan kebohongan yang selama ini Papaku ciptakan.
Dia tersenyum,"Tidak masalah, aku suka berpergian jauh. Lagipula perusahaan akhir-akhir ini sangat santai jadi aku tidak masalah berpergian jauh."
Aku tidak punya jalan untuk terus menyembunyikannya untuk saat ini. Jika tidak, dia pasti akan curiga.
"Baiklah, aku akan bertanya kepada Papa dimana alamat rumah Kakek dan Nenek. Sudah lama sekali aku tidak ke sana jadi aku melupakan alamatnya." Kuharap Papa memberikanku solusi.
Deon tidak berbicara lagi. Dia hanya menatapku dengan ekspresi wajah yang rumit.
Aku bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh Deon saat ini?
Apakah dia melihat gelagat aneh ku atau apakah dia sedang memikirkan-
Cup
Kepalaku seketika menjadi kosong. Aku menatap Deon dengan tatapan tidak percaya sekaligus gemetar karena bahagia. Apakah dia... apakah dia baru saja mencium ku?
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Dia mendorong ku ke samping sehingga posisiku berubah menjadi rebahan.
Aku tersipu, wajahku menjadi panas karena serangan manis Deon.
"Aku..." Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Tapi Deon tampaknya tidak membutuhkan jawabanku karena tanpa menungguku berbicara lagi, dia langsung mencium bibirku.
Gigi tajamnya menggigit bibir bawahku, rasanya sakit jadi aku tanpa sadar membuka mulutku meringis.
"Ugh!" Aku tersedak air liurku sendiri ketika merasakan benda tebal nan lincah bergerak agresif di dalam mulutku.
Dia menakuti-nakuti lidahku, menyentuh langit-langit mulutku dengan gerakan menggoda.
"Hemh..." Aneh, rasanya sangat aneh.
Benda licin itu membuatku tidak bisa berpikir jernih dan kesulitan bernafas tapi aku masih belum merasa puas. Aku menginginkan lebih, sentuhan yang lebih manis.
"Hah...hah...hah..." Dia memutuskan ciuman kami.
Benang saliva tipis yang terjalin karena penyatuan kami bergerak memanjang dari sudut bibirku membentuk jembatan tipis nan transparan menuju dagu bawah Deon.
Nafas kami memburu karena kekurangan oksigen dan kedua mata kami bertemu dalam suasana yang aneh. Aneh, malam ini aku seperti melihat Deon dari malam 'kecelakaan' itu. Dia juga menatapku dengan tatapan terbakar seperti ini. Seolah dia ingin memakan ku, menggigitku, dan menyembunyikan ku di suatu tempat yang tersembunyi.
Ini... hanya perasaanku saja, kan?
"Deon?" Rain memanggilnya lembut.
Jujur, Rain ketakutan melihat bagaimana cara Deon memandanginya sekarang. Dia merasa bila malam itu akan terulang kembali.
Entah apa yang Deon pikirkan sekarang, dia mendengarkan panggilan Rain tapi anehnya dia tidak mau menjawab. Bukannya menjawab dengan suara tapi dia malah menjawab dengan sebuah tindakan. Dia menatap wajah merah Rain yang terlihat sangat menggoda, kepalanya kemudian merendah mendekati batang leher Rain yang ramping dan putih mulus. Puncak hidungnya yang tinggi menggesek kulit leher Rein, mengendus-endus nya sensual sampai-sampai membuat Rain merasa geli.
Rain menyentuh dada bidang Deon dan mendorongnya menjauh. Namun, kekuatan tangannya tiba-tiba menguap saat merasakan gigi tajam Deon menggigit lehernya.
Rain mendongak menahan sakit.
"Kamu membuat hickey lagi- ah..." Rain memejamkan matanya saat merasakan lidah panjang nan licin milik Deon kini sedang menjilati hickey yang baru saja dia buat.
"Manis..." Bisik Deon sensual di tepat di samping telinga Rain.
Wajah Rain semakin merah karena malu. Dia bertanya-tanya apakah malam ini mereka berdua bisa melewati malam pertama?
Deon menatap puas hickey merah kebiruan di leher Rain hasil karyanya. Dia terkekeh kecil dan merendahkan kepalanya ingin membuat maha karya yang lain.
Namun fokusnya tiba-tiba ditarik oleh benda indah yang melingkari leher ramping Rain.
__ADS_1
Kalung? Batin Deon terkejut karena baru memperhatikan keberadaannya malam ini.
Dia lalu menarik kalung itu, menyentuh mahkota kalung berbentuk hati dengan taburan berlian biru di atasnya. Mahkota kalung ini anehnya terlihat agak familiar untuknya. Tapi di ragu pernah melihatnya dimana.
Lama terdiam, Deon tiba-tiba merasakan kepalanya berdengung hebat. Dia memegang kepalanya yang sakit sambil memejamkan matanya.
"Kalung ini sangat indah, apakah tidak apa-apa memberikannya kepadaku?"
Hari itu langit mendung, udara lembab bergerak ringan menyejukkan kulit remaja mereka.
"Aku membuatnya untukmu. Di dalam kalung itu ada rahasia ku tapi kamu hanya bisa membukanya setelah kita-"
"Deon?" Panggil Rain panik.
"Deon!" Teriak Rain ketakutan.
Deon akhirnya tersadar dari ingatan kacau di kepalanya. Dia tidak tahu darimana ingatan ini berasal tapi yang pasti dia merasa bila momen itu sangat penting untuk hidupnya.
"Deon, apa kamu tidak apa-apa? Apa kepalamu masih sakit? Haruskah kita memanggil dokter?" Tanya Rain sambil mengguncang bahu Deon.
Deon menggelengkan kepalanya,
Rain,
Apakah wanita yang ada di dalam ingatannya itu Rain?
"Katakan sesuatu Deon-"
"Diam!" Bentak Deon marah.
Rain segera menutup mulutnya serapat mungkin. Kedua tangannya yang tadi sempat mengguncang Deon perlahan dia tarik menjauh.
"Aku... hanya mengkhawatirkan kamu." Lirih Rain menundukkan kepalanya.
Dia tidak berani menatap Deon lagi karena ekspresinya saat ini sangat suram.
"****!" Teriak Deon bernafas kasar.
Dadanya bergemuruh marah karena alasan yang tidak ia ketahui ditambah lagi kepalanya masih sakit. Deon sulit mengendalikan dirinya. Dia benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Enyah, jangan ganggu aku lagi." Usir Deon.
Dia bangun dari atas badan Rain dan mendudukkan diri di sofa. Salah satu tangannya bersandar di sofa sambil memijat keningnya yang sakit.
"Aku-"
__ADS_1
"Aku bilang enyah ya enyah! Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?!" Teriak Deon tidak sabar.
Rain terkejut, wajah merahnya langsung berubah menjadi pucat pasi. Tanpa menunggu Deon lebih marah lagi dia langsung pergi dari ruang tengah, membawa kakinya melangkah tertatih-tatih masuk ke dalam kamar.