Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 49


__ADS_3

Rain kurang mengerti apa yang terjadi karena baginya semua terlalu cepat terjadi. Tiba-tiba Sila datang ke rumah ingin tinggal bersamanya, berdebat dengan Deon dan berakhir memenangkan perdebatan dengan...hak istimewa?


Entahlah, dia masih tidak terlalu menangkap apa itu kartu hak istimewa.


"Kak Rain tinggal di sini?" Sila menaruh kopernya di samping pintu dan membawa pandangannya melihat-lihat kamar yang Rain tempati.


Rain agak malu dengan perasaan hangat yang dia rasakan kepada Sila. Untuknya Sila adalah orang pertama yang memperlakukannya dengan baik dan perhatian.


"Yah, aku tinggal di sini. Itu, apa kamu... serius ingin tinggal di sini?" Tanya Rain ragu.


Dia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, diam-diam memperhatikan setiap tindakan yang Sila ambil dengan perasaan was-was dihatinya.


Mungkinkah ini mimpi?


Jauh di dalam hatinya Rain tidak rela Sila menghilang karena...dia merasa nyaman dan hangat di dalam hatinya. Perasaan hangat yang sudah lama tidak pernah menghuni hatinya.


"Tentu saja, jika tidak, lalu kenapa aku ada di sini sekarang dengan koper pakaian ku?" Jawab Sila dengan nada bercanda.


Dia tanpa sungkan atau malu-malu membuka kopernya, mengeluarkan beberapa gaun manis juga indah yang sengaja disiapkan untuk Rain.


"Kak ke sini, deh. Aku punya gaun untuk Kak Rain."


Rain terkejut,"Gaun?"


Kakinya tanpa sadar melangkah mendekati Sila.


"Iya, nih. Bagus'kan?" Katanya seraya menunjukkan gaun-gaun itu kepada Rain.


Gaun ini tidak mewah tapi juga tidak sederhana, lebih tepatnya terlihat anggun. Sila sengaja membeli gaun ini untuk Rain karena dia tahu Rain adalah orang yang paling jarang menggunakan gaun ketika mendatangi suatu acara atau keluar rumah.


Padahal Rain adalah wanita yang cantik dan sayang sekali jika kecantikannya itu tidak diekspos.


"Ini untukku?" Rain tidak percaya, tangan kanannya memegang kain gaun yang ada di tangan Sila.

__ADS_1


Sila membeli 3 gaun dengan model dan warna berbeda.


"Ya, ini adalah hadiah pernikahan Kakak dariku. Cantik'kan?" Sila sangat ingin dipuji oleh Rain.


Rain tersenyum malu,"Cantik,"Akuinya jujur, lalu berkata dengan nada gelisah,"Tapi lebih cantik lagi jika digunakan oleh wanita yang tepat." Dia merendahkan dirinya sendiri.


Mata Sila berkedip sedih, dia tidak suka mendengar Rain merendahkan dirinya sendiri.


"Gaun ini dibuat sesuai dengan Kak Rain jadi satu-satunya orang yang paling cocok menggunakan gaun ini adalah Kak Rain, tidak ada wanita lain!" Tegas Sila.


Rain tertegun, sedetik kemudian dia menurunkan tangannya menjauh.


"Apa kamu tidak marah?" Aneh, semua orang marah kepadanya tapi kenapa Sila tidak?


"Marah?" Sila bertanya polos.


Rain menundukkan kepalanya,"Aku menikah dengan Mas Deon, walupun siri tapi aku telah merebut posisi Almira. Apa kamu tidak marah?" Karena semua orang marah kepadanya.


"Kak Rain," Panggil Sila mendekati Rain.


"Kak," Sila menarik Rain untuk duduk bersamanya di atas ranjang.


"Aku akan menjawab pertanyaan Kakak, tapi maukah Kakak menjawab pertanyaan ku lebih dulu?" Sila sangat serius.


"Pertanyaan apa?" Tanya Rain.


Sila menatap wajah sendu Rain, berat sekali rasanya ia mengungkit kejadian tahun itu tapi hatinya sudah tidak tahan lagi melihat Deon maupun Rain saling menyiksa untuk rasa tidak berdosa yang mereka miliki.


"5 tahun yang lalu Kak Deon diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal. Karena penyerangan itu Kak Deon jatuh koma selama 5 hari, dia tidak pernah bangun selama itu tapi mulutnya tidak pernah berhenti memanggil nama Kak Rain. Saat itu...kemana Kak Rain pergi? Kakak ku sangat membutuhkan Kak Rain, tapi kenapa Kak Rain tidak pernah datang untuk menjenguknya?" Tanyanya dengan nada yang setenang mungkin, akan tetapi kepalan kedua tangannya yang tersembunyi telah mengkhianati ketenangan yang ia ciptakan.


Ditanya tentang masa lalu, sudut bibir Rain tidak lagi mampu membentuk sebuah senyuman. Bahkan walaupun palsu, rasanya begitu tidak tertahankan.


"Aku...aku saat itu berada di rumah Kakek dan Nenek ku. Aku juga tidak tahu bila Mas Deon jatuh sakit." Jawab Rain dengan kedua mata mengelak.

__ADS_1


"7 bulan Kakak pergi, apakah Kak Rain benar-benar tidak memiliki waktu untuk datang melihat Kakakku?"


Rain menggigit bibirnya menahan sesak.


"Aku minta maaf, Sil, tapi aku benar-benar tidak tahu mengenai kecelakaan itu."


Sila tersenyum lembut,"Tidak apa-apa, Kak. Jangan terlalu dijadikan beban, lagipula masalah ini sudah terjadi 5 tahun yang lalu. Dan alasanku menanyakan ini kepada Kak Rain adalah karena aku ingin memberitahu bahwa selama waktu itu Kak Deon selalu mencari Kak Rain. Entah saat koma atau siuman, orang pertama yang dia cari adalah Kak Rain, bukan yang lain."


Rasanya sangat menyesakkan. Setiap kata yang Sila katakan bagaikan tangan tak kasat mata yang kini tengah meremas hatinya.


Rain bingung, bila memang Deon tidak pernah melupakannya lalu kenapa dia memutuskan untuk menjalin kasih dengan Almira?


"Apa yang sedang Kakak pikirkan?"


Lamunan Rain segera buyar. Dia menatap Sila tampak linglung,"Aku...aku hanya memikirkan makanan apa yang harus aku makan malam ini." Jawab Rain berbohong.


Sila tahu kebohongannya tapi dia tidak perduli,"Astaga, aku juga tadi sempat memikirkannya. Bagaimana bila kita malam ini makan diluar saja?"


"Apa boleh?"


"Cek, apa Kak Deon melarang Kak Rain keluar?" Sila bertanya balik.


Rain sontak menggelengkan kepalanya membantah.


"Tidak, kok."


"Baguslah. Kalau begitu Kak Rain pergi mandi dulu sementara aku merapikan semua pakaian ku."


Rain cukup bersemangat.


"Yah, aku...aku akan mandi dulu." Dia mengambil pakaian gantinya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah melihat Rain benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, senyuman lembut di wajah Sila segera menghilang. Dia menundukkan kepalanya termenung, jari-jari tangannya bergerak ringan memukul pinggiran koper sehingga menimbulkan sebuah suara nyaring.

__ADS_1


"Kak Rain berbohong," Gumamnya dengan suara kecil,"Karena hari itu aku jelas-jelas melihat Papa Kak Rain masuk ke dalam sebuah kamar VIP di rumah sakit, sangat sering."


__ADS_2