
Lalu setelah puas berkeliling dia membawaku masuk ke dalam kamar tidur utama. Kamarnya sangat besar dan memiliki wangi Deon.
"Hufh..." Aku tanpa sadar mengambil nafas panjang untuk menghirup wangi Deon.
"Ini adalah kamar non Rain dan tuan muda. Kamar ini sudah memiliki fasilitas yang lengkap sesuai dengan standar rumah jadi non Rain tidak akan kesulitan di masa depan."
Aku meremat tanganku senang,"Terima kasih, Bi. Aku senang memiliki Bibi Siti di sisiku." Ini adalah suara hatiku.
Senang rasanya memiliki seseorang yang tidak memandang rendah diriku.
"Non Rain tidak perlu sungkan. Kalau begitu, Bibi akan keluar. Bila non Rain butuh sesuatu jangan sungkan untuk memanggilku."
Setelah itu dia keluar dari kamar, meninggalkan ku sendirian di sini.
Bibi Siti telah pergi jadi aku buru-buru menutup pintu dan menekan saklar lampu.
Click
Kamar ini langsung disinari cahaya terang, membuat semuanya tampak jelas dan-
Deg
Tubuhku langsung menegang ketika melihat deretan bingkai foto Almira yang tersebar dimana-mana. Di dinding, meja, nakas, dan di beberapa tempat lainnya. Mereka semua dipenuhi oleh foto Almira dan Deon.
Hatiku rasanya diremas-remas oleh tangan tak kasat mata. Sesak dan perih. Inilah yang hatiku rasakan sekarang.
Bingung dengan pikiran ku sendiri. Kedua kakiku tanpa sadar melangkah ke arah lemari pakaian dan membukanya dengan satu tarikan.
Seketika kedua kakiku kehilangan pijakannya. Aku hampir saja terjatuh bila kedua tanganku tidak berpegangan pada sisi lemari.
Aku tercengang dengan apa yang aku lihat sekarang. Selain foto-foto adikku di dalam lemari Deon ternyata sudah tertata rapi pakaian milik Almira.
Ya, lemari ini dipenuhi oleh pakaian Almira. Maka kamar ini sebelumnya sudah ditinggali oleh Almira dan Deon- oh, mungkin lebih tepatnya kamar ini sebenarnya memang milik Almira dan Deon.
__ADS_1
Lalu... lalu-
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?!" Suara dingin Deon menarikku dari kebingungan.
Aku terkejut.
"Aku...aku ingin merapikan barang-barang ku ke dalam lemari-"
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke dalam kamar ku!" Tanyanya marah.
Kedua mata tajam Deon menatapku nyalang, ada amarah, benci, dan rasa muak yang tergambar di dalam bola matanya.
"Aku..." Aku meneguk ludahku dengan susah payah karena takut.
"Keluar." Usir nya sambil menendang sisi pintu dengan kaki kirinya.
Aku ragu-ragu melangkah karena sorot mata tajamnya terus menerus menatapku tanpa sempat berkedip.
"Aku bilang keluar ya keluar, dasar bodoh!" Dia langsung menyeret ku keluar dari kamar.
"Tuan-"
"Siapa yang memberikanmu izin membawanya masuk ke dalam kamarku?" Tanya Deon kepada Bibi Siti.
Bibi Siti mendekatiku terlihat sama takutnya denganku.
"Ini tuan...kalian sudah menikah jadi aku pikir-"
"Omong kosong!" Teriaknya murka.
Deon lalu menunjukku dengan tangan kirinya,"Dia tidak diizinkan masuk ke dalam kamarku di masa depan apalagi sampai menyentuh barang-barang ku! Jika kejadian ini terulang kembali maka aku tidak akan segan-segan memecat Bibi Siti." Ancamnya tidak main-main.
Bibi Siti sangat ketakutan. Dia jatuh terduduk di lantai sambil memohon maaf kepada Deon. Dia juga berjanji tidak akan mengulanginya di masa depan nanti.
__ADS_1
Bibi Siti memohon maaf dengan air mata bersalah, sedangkan aku pelaku yang telah menyebabkan Deon marah hanya bisa berdiri dengan kepala tertunduk tidak memiliki keberanian untuk menatap Deon. Dalam diam ku ini, hatiku berusaha untuk menekan perasaan tidak nyaman di dadaku. Sekuat tenaga mencegah air mataku jatuh di hadapan Deon.
"Non Rain, aku akan mengantar non ke kamar tamu." Bibi Siti sudah berdiri, mengambil koper ku di lantai dan menarikku tanganku menuju ruang tamu.
"Non Rain, tolong maafkan aku. Bila aku tidak ceroboh maka tuan muda tidak akan marah kepada non Rain." Dia meminta maaf kepadaku dengan rasa bersalah padahal jelas-jelas aku adalah sumber malapetaka nya. Jika bukan karena aku Deon tidak akan marah kepada Bibi Siti.
"Akulah yang seharusnya meminta maaf, Bibi. Aku lupa bertanya kepada Deon apakah aku boleh masuk ke dalam kamarnya atau tidak." Ini adalah kesalahan yang sangat fatal.
Karena kebodohan ku Bibi Siti harus kena marah Deon. Padahal Bibi Siti tidak tahu apa-apa dan hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pembantu rumah tangga. Benar, Bibi Siti hanya tahu aku menikah dengan Deon, itu saja.
Pernikahan.
Aku menggigit bibirku menahan rasa pahit di hatiku.
Tidak di rumah utama ataupun di sini, aku masih tidak memiliki tempat. Status ku istri siri, jadi aku tidak berhak tinggal di rumah utama. Dan di sini pun status istri siri ku masih belum berlaku apa-apa karena kamar utama bukanlah milikku.
"Ayo masuk, non."
Kami lalu masuk ke dalam kamar tamu, tidak terlalu jauh dari kamar utama. Di rumah ini ada 3 kamar. Terdiri dari 1 kamar utama dan 2 kamar tamu.
Di antara 2 kamar tamu itu aku menempati kamar yang paling ujung, yang paling dekat dengan dapur. Tapi jika aku ingin ke dapur aku harus melewati ruang tengah dulu karena kamarku berseberangan dengan dapur.
Setelah masuk ke dalam, aku sejenak melihat-lihat dan menilai jika kamar tamu ini tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Suasananya nyaman dengan konsep netral. Ini memungkinkan pria maupun wanita yang menginap nyaman dengan konsep kamar ini.
"Terima kasih, Bibi." Kataku kepadanya.
Wajah tuanya tersenyum kepadaku. Dia membantu memindahkan barang-barang ku ke dalam lemari. Tangan tuanya sangat cekatan dan lebih cepat dari diriku yang masih muda.
"Bibi, apakah aku boleh bertanya?"
Dia menatapku sopan,"Non Rain jangan sungkan kepadaku."
Aku tersenyum malu. Kepalaku perlahan menunduk menatap jas hitam Deon yang tidak pernah lepas dari dari tanganku. Jas ini mungkin baru hari ini digunakan oleh Deon tapi wangi miliknya tercium sangat kuat.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk tidak mencucinya dan menyimpan jas ini di dalam lemari.
"Apa adikku sering datang ke sini?" Tanyaku tanpa melihat ekspresi wajahnya.