Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 27


__ADS_3

"Apa adikku sering datang ke sini?" Tanyaku tanpa melihat ekspresi wajahnya.


Aku lebih suka menunduk untuk menatap jas hitam Deon.


"Adik non Rain?" Dia bertanya balik kepadaku.


Aku terpaksa mengangkat kepalaku menatapnya,"Adikku adalah Almira, Bibi." Kataku memperjelas kebingungannya.


Setelah mendengar aku menyebut nama Almira, dia langsung menganggukkan kepalanya dengan senyuman lembut terbentuk di bibirnya.


"Non Almira ternyata adik non Rain." Dia mengangguk-angguk kepalanya.


"Tuan muda sering membawa non Almira datang ke sini. Terkadang non Almira akan menginap di sini selama beberapa hari dan setelah itu pergi dengan tuan muda. Emm, apa non Rain tidak marah?" Bibi Siti menatapku cemas.


Aku tersenyum getir, menggelengkan kepalaku dengan jujur.


"Bibi, aku tidak marah. Aku adalah calon Kakak ipar Deon, tapi karena suatu alasan dia terpaksa menikah denganku. Tapi yakinlah Bibi, pernikahan ku dengan Deon hanya status formal saja dan tidak akan bertahan lama karena setelah adikku sembuh nanti dia akan menikah dengan Deon. Adikku adalah pasangan Deon yang sebenarnya Bibi." Aku menjelaskan situasi ku kepada Bibi sambil berharap pandangan Bibi kepadaku tidak memburuk.


Aku hanya ingin memiliki satu orang yang bisa berdiri di sisiku dan Deon adalah orang yang mustahil. Aku harap Bibi Siti tidak memusuhiku seperti orang lain karena masalah ini.


"Non Rain adalah gadis yang baik sama seperti non Almira. Kalian berdua memang dilahirkan menjadi anak-anak yang berhati lembut." Katanya mengagetkanku.


Dia memujiku?


Jadi kesannya kepadaku tidak memburuk?


"Sayang sekali melihat kalian terjebak di dalam situasi ini. Tapi apapun yang terjadi di masa depan nanti aku harap hubungan persaudaraan kalian tidak berubah."

__ADS_1


Aku juga memiliki harapan yang sama, aku tidak mau menyakiti Almira dan membuat hubungan persaudaraan kami memburuk.


Setelah berbincang sebentar Bibi Siti akhirnya keluar dari kamarku. Sebelum pergi dia menunjuk sebuah pintu coklat di dekat pintu masuk dapur. Katanya itu adalah kamarnya jadi bila aku membutuhkan sesuatu aku bisa masuk ke dalam kamarnya.


Lagi-lagi aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku bersyukur karena Bibi Siti sangat terbuka kepadaku. Dia adalah orang yang baik. Tidak heran Deon mempercayainya mengurus rumah ini.


Menghela nafas panjang, aku merebahkan diriku di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar baruku. Mengulang kembali percakapan ku dengan Bibi Siti di dalam hati. Dari percakapan itu aku membuat sebuah kesimpulan bahwa,


"Almira ternyata menginap di sini bila tidak pulang ke rumah." Gumam ku pada diriku sendiri.


Aku akhirnya tahu dimana adikku tinggal bila tidak pulang ke rumah.


"Tidak heran, mereka adalah sepasang kekasih jadi Mama dan Papa tidak akan mempermasalahkannya."


Seingat ku Mama dan Papa tidak pernah cemas bila Almira tidak pulang ke rumah. Padahal Almira adalah putri kesayangan semua orang. Tidak sampai malam ini aku mengetahui jawabannya.


"Dasar bodoh! Tentu saja mereka melakukannya. Kamu bukanlah yang pertama untuk Deon tapi sayang sekali... Deon adalah yang pertama untukmu. Rain... Rain, kenapa kamu bodoh sekali?" Aku mencela diriku yang bodoh ini.


Pantas saja keluargaku lebih menyukai adikku. Dia cerdas sedangkan aku bodoh, dia berprestasi sedangkan aku nol besar. Aku tidak memiliki pekerjaan dan aku tidak memiliki langkah besar seperti yang Almira lakukan.


Jadi, kualifikasi apa yang aku miliki sehingga pantas untuk disukai?


Tidak ada, aku hanyalah beban untuk keluargaku. Aku memang tidak pantas untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang.


Tapi...tetap saja,


"Hatiku sangat sakit, ya Tuhan. Hatiku rasanya sakit...hiks.."

__ADS_1


Lelah rasanya melihat semua orang lebih perduli kepada adikku. Terkadang aku juga berharap berada di posisi Almira. Diperhatikan dengan penuh kasih dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah.


Tidak seperti diriku yang selalu disalahpahami kehadirannya. Aku sangat lelah, Tuhan.


"Dasar bodoh, kenapa kamu menangis lagi?! Menjijikkan, hentikan air mata memuakkan ini!" Marah ku sambil mengusap kasar wajahku yang sudah basah karena air mata.


Aku selalu seperti ini bila sendirian, seperti orang sakit mental. Bukankah aku menakutkan?


"Aku ingin mandi." Jadi aku mengambil pakaian tidurku dari dalam lemari dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi aku memperhatikan tubuh tanpa busanaku di depan cermin. Warna kulit ku agak pucat, seperti orang sakit-sakitan. Tubuhku juga tidak memiliki banyak daging padahal aku berasal dari keluarga kaya yang mengherankan.


Tapi dari semua itu hanya ada satu hal yang menarik perhatian ku.


Tangan kananku terangkat merabanya, menyentuh tanda merah keunguan yang tercetak samar di bawah tulang belikat ku.


"Sudah 1 minggu berlalu sejak kejadian malam itu tapi kenapa tanda-tanda ini masih belum menghilang dari tubuhku?"


Aku menatapnya sendu. Deon meninggalkan banyak hickey di leher, kulit dibawah tulang belikat ku, dan paha. Untungnya hickey di leher dan pahaku sudah menghilang, meskipun tidak sepenuhnya tapi ini lebih baik daripada hickey yang ada di kulit bawah tulang belikat ku.


Hickey ini jauh lebih terang daripada yang lain sehingga membutuhkan banyak waktu untuk menghilang.


Aku mengelus hickey itu beberapa kali, mendes*h tidak berdaya, aku lalu menghidupkan shower dan mulai mandi.


Malam ini aku sengaja mandi air dingin untuk mendinginkan kepalaku yang sudah seharian bekerja dengan berbagai macam emosi.


"Aku benci diriku sendiri." Kataku kesal sambil mencuri pandang ke arah cermin, memandangi tubuhku yang terlihat sangat menjengkelkan.

__ADS_1


__ADS_2