
Bibi Siti enggan membiarkannya bekerja. Rain adalah wanita yang lahir dari keluarga kaya jadi semua rutinitas ini mungkin tidak cocok untuknya. Di samping itu Rain adalah seorang istri bukan seorang pembantu, maka tidak sepantasnya Rain melakukan pekerjaan ini.
Tuannya kali ini benar-benar keterlaluan.
"Non Rain adalah seorang istri, itu benar tapi bukan berarti non Rain harus bekerja selayaknya seorang pembantu. Lepaskan saja pekerjaan ini non dan biarkan Bibi yang bekerja. Bibi janji tidak akan mengatakan apapun kepada tuan nanti."
Rain tersenyum kecut, dia juga tahu bila apa yang Bibi katakan benar. Dia adalah istri bukan seorang pembantu jadi tidak seharusnya dia mengerjakan semua pekerjaan rumah selama ada pembantu.
Tapi...
Ini adalah permintaan dan perintah Deon, dia tidak ingin melanggarnya.
Naif memang.
"Jangan nakal, Bibi." Peringat Rain dengan senyum,"Lagipula aku senang melakukannya, anggap saja aku belajar beradaptasi dengan pekerjaan rumah."
Setelah itu Rain benar-benar mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan usahanya sendiri. Dia tidak pernah mengizinkan Bibi Siti membantunya bekerja. Dia hanya meminta Bibi Siti menjalankan tugasnya juga untuk terus mengawasinya saat sedang bekerja.
Tidak terasa sudah pukul 1 siang setelah semua pekerjaan rumah dilakukan. Bohong bila Rain mengatakan dia baik-baik saja, tidak, dia sangat kelelahan.
Dia belum terbiasa tapi akan terbiasa secepatnya, dia yakin.
Ting nong...
Bel rumah berbunyi. Rain meluruskan punggungnya yang sakit karena terlalu banyak menunduk, mengambil nafas panjang, dia memaksakan diri untuk bangun dan berjalan menuju pintu masuk.
"Ada tamu, siapa?" Gumamnya berjalan tanpa langkah terburu-buru.
Cklack
Dia membuka pintu masuk dengan sebuah senyuman di bibir. Saat kedua bola matanya menangkap siapa tamu tersebut, sontak senyuman di wajahnya langsung membeku.
__ADS_1
"Bibi Mei?" Hati Rain langsung menciut menghadapi sikap dingin Bibi Mei.
Tiba-tiba rasa lelah dan lebihnya tidak bisa disamarkan lagi di tubuhnya, dia ingin bersembunyi dari Bibi Mei.
"Apa aku tidak boleh masuk ke dalam?" Bibi Mei bertanya dengan nada ringan.
Anehnya Bibi Mei tidak setajam biasanya.
"Ah, maaf." Rain melangkah ke samping,"Masuklah, Bibi." Katanya mempersilakan.
Bibi Mei lalu membawa langkah kakinya masuk ke dalam rumah. Dia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk menilai rumah ini. Tidak buruk, pikirnya. Rumah ini adalah apartemen yang cukup luas untuk dua orang hidup bersama.
"Dimana Deon?" Tanya Bibi Mei merasa tidak aman dan was-was pada saat yang bersamaan.
Rain tidak melihat keanehan Bibi Mei dan sekalipun melihat, Rain tidak akan berpikir bila Bibi Mei sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Deon.
"Deon ada di kantornya, Bibi, dan mungkin akan pulang nanti sore." Jawab Rain tidak enak.
Bibi Mei menghela nafas lega. Tubuhnya yang semula tegang akhirnya bisa santai.
"Hari ini seharusnya Mama kamu yang datang tapi kesehatannya sedang tidak baik jadi aku terpaksa menggantikannya datang kemari." Bibi Mei mengatakan sebuah kebohongan dengan lancar dan Rain tidak memiliki keraguan sama sekali dengan apa yang Bibi Mei ucapkan.
Tapi yang membuat Rain bingung adalah semalam Mama masih menelponnya, meminta untuk pulang kembali dan menjauhi Deon. Rain pikir Mama perduli padanya, akan tetapi apakah dia hanya salah sangka selama ini melihat Mama tidak mau datang menemuinya hari ini?
Rain sedih.
"Bibi, lalu bagaimana dengan keadaan Mama sekarang? Apa dia sudah pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan?"
Bibi Mei melambaikan tangannya di depan Rain,"Menurutmu apakah dia baik-baik saja saat mengetahui kamu sudah menikah dengan tunangan putrinya yang lain?" Berbicara sinis, Bibi Mei melemparkan Rain tatapan tidak puas.
"Mama kamu tidak sekuat itu, Rain. Dia tidak yakin masih bisa tersenyum dihadapan Almira nanti." Sambung Bibi Mei marah.
__ADS_1
Marah,
Dia sangat marah. Entah sebutan apa yang pantas untuk Rain, bodoh atau egois, Bibi Mei tidak bisa membedakannya. Karena keputusan Rain untuk menerima pernikahan ini, Bibi Mei tidak pernah mengira jika keponakannya ternyata tidak mau mendengar nasihat para orang tua.
Kesannya Rain sangat keras kepala. Ya, Rain jauh lebih keras kepala daripada 5 tahun yang lalu.
Dia bertanya-tanya darimana Rain menemukan keberanian itu?
Rain tersenyum kecut, semuanya masih tentang adiknya yang terkasih. Tuhan tahu betapa cemburu dia kepada Almira ketika melihat semua kasih sayang dapat dimiliki dengan mudah. Sedangkan Rain sendiri harus bersusah payah untuk memilikinya tapi belum tentu bisa mendapatkannya.
Menyedihkan.
"Dimana kamarmu dan Deon? Bawa aku melihatnya." Perintah Bibi Mei mengaburkan lamunan Rain.
"Oh... masalah itu.." Rain meremat tangannya gugup.
Bibi Mei mengernyit tidak senang,"Kenapa?"
"Itu..." Rain menundukkan kepalanya sendu,"Kami tidak tinggal di kamar yang sama, Bibi. Kamar Deon ada di kamar utama sedangkan kamarku ada di kamar tamu." Sambung Rain sambil mengangkat kepalanya mengamati perubahan ekspresi Bibi Mei.
Yang menyakitkan adalah Bibi Mei terlihat sangat senang setelah mendengar pengakuannya tadi. Rain tidak terkejut karena Bibi Mei sangat menentang pernikahan ini. Jadi tidak mengherankan Bibi Mei terlihat senang setelah mengetahuinya.
"Baguslah, aku tahu jika Deon sangat mencintai adikmu. Dia tidak mungkin mengkhianati adikmu meski kamu kini telah resmi menjadi istri sirinya. Adapun kamu," Bibi Mei menatap lurus Rain tepat di matanya.
Tatapan tajam itu membuat Rain takut, batang lehernya secara alami menciut karena beban psikologis tubuhnya. Bertahun-tahun lamanya Bibi Mei tidak pernah menyukainya untuk alasan yang tidak Rain ketahui. Rain tahu dia pengecut sehingga Bibi Mei kurang menyukainya tapi...tapi ketidaksukaan Bibi Mei seharusnya tidak sedalam itu, kan?
Karena biar bagaimanapun dia adalah keponakannya juga, posisi Rain sama dengan Almira, maka tidak seharusnya Bibi Mei pilih kasih kepadanya.
"Kamu harus tahu diri jika pernikahan ini terjadi karena Deon ingin bertanggungjawab kepadamu atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Dia memberikan kamu wajah untuk kesalahan yang kamu ciptakan sendiri. Rain, tolong jangan terlalu serakah. Adikmu...dia sakit, dia sedang berjuang untuk bertahan hidup di luar sana. Dia sudah hancur karena penyakitnya jadi jangan buat dia hancur lagi karena hubungan ini, Rain. Hubungan yang kamu paksakan..."
Rain tercengang, dia menggelengkan kepalanya membantah. Dia membuka mulutnya untuk pembelaan tapi Bibi Mei lebih dulu berbicara, jelas dia tidak membutuhkan pengakuan Rain.
__ADS_1
"Bawa aku ke kamarmu." Perintah Bibi Mei sembari memalingkan wajahnya dari Rain.