Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 48


__ADS_3

Memata-matai?


Hem, iyakah?


Namun, sikap dan tindakan Sila yang keras kepala juga kekanak-kanakan menumbuhkan keraguan di dalam hati Deon jika adiknya tidak mungkin sepicik itu ikut campur dalam urusan rumah tangganya.


"Jangan kebanyakan nonton drama deh, Kak. Buat apa coba aku memata-matai rumah Kakak." Kata Sila sambil memutar bola matanya untuk yang kesekian kalinya.


Deon heran,"Terus kamu tahu darimana kalau Kakak sama dia gak satu kamar?"


Apapun yang terjadi di rumah ini tidak akan pernah bocor ke dunia luar karena Deon sangat menjaga kehidupan pribadinya. Jadi, wajar saja dia heran mengetahui adiknya telah menemukan kehidupan rumah tangganya yang agak 'spesial'.


Bibi Siti adalah orang dengan karakter yang baik. Deon tidak mungkin mengerjakannya sebagai pengurus rumah bertahun-tahun bila Bibi Siti tidak bisa menjaga mulutnya.


Lalu bagaimana dengan Rain?


Deon menatap Rain dengan tatapan menyelidik yang langsung dihalangi oleh tubuh ramping Sila dengan sebuah senyuman manis di wajahnya.


"Aku mendengarnya dari Sasa. Adapun darimana Sasa tahu aku juga tidak mengetahuinya karena dia tidak mau memberitahuku."


"Sasa?" Adalah sepupunya, bekerja sebagai model dan menjadi sahabat Almira.


"Ya. Tadi pagi dia datang ke rumah menemui Mama. Mereka banyak membicarakan tentang pernikahan kalian berdua kemarin. Apa Kak Deon tahu? Aku sangat marah saat mengetahui jika Kakak dan Kak Rain sudah menikah kemarin tanpa sepengetahuan ku. Dan aku semakin marah ketika mendengar jika Kakak menikahi Kak Rain secara siri. Tidak cukup menikah secara siri, tapi Kakak juga tidak ingin tinggal di kamar yang sama dengan Kak Rain. Huh, apa-apaan! Jika Kakak tidak serius lalu kenapa Kakak menikahi Kak Rain?!" Tanya Sila tanpa ampun.


Sila tidak tahu jika Kakaknya menikah dan bahkan tidak ada satupun orang yang memberitahunya mengenai masalah ini. Dia marah kepada orangtuanya, ah, sejujurnya dia lebih marah kepada Deon karena tidak mengiriminya kabar apapun. Padahal mereka adalah saudara yang seharusnya saling mempercayai.


"Apa, gak bisa jawab?" Ejek Sila di atas angin.

__ADS_1


Deon tersenyum dingin, tanpa aba-aba dia langsung mendorong Sila ke samping dan meraih lengan Rain dalam satu gerakan. Dia menyeret Rain berdiri di samping seraya mengatakan,"Kamu bertanya untuk apa aku menikahinya? Adikku tersayang, kamu tentu tidak mungkin melupakan pagi itu'kan?" Deon mengacu pada pagi dimana Sila memergoki mereka.


Kening Sila mengernyit saat melihat tangan Deon mencengkram lengan Rain.


"Maka kamu harusnya tidak perlu bertanya alasanku menikahi Rain karena jawabannya sudah pasti untuk bertanggungjawab. Puas?" Deon berkata acuh tak acuh, mengabaikan reaksi kaku Rain di sampingnya.


Dia pikir Sila tidak akan berbicara lagi tapi siapa yang mengira jika Sila tidak hanya tidak berbicara tapi juga menarik Rain menjauh darinya.


Deon terkejut, dia spontan mengeratkan cengkeraman tangannya kepada Rain.


"Ugh.." Ringis Rain menahan perih karena posisi yang Deon pegang adalah tempat yang baru saja digunakan untuk mendonorkan darah.


Deon berkedip aneh melihat Rain saat merasakan gumpalan kecil di perpotongan tangan Rain. Ragu, ia menekan gumpalan itu dengan jarinya untuk memastikan dugaan samar dihatinya.


Namun, sebelum Deon bisa melakukannya, tangan Sila sudah menyentak tangan Deon untuk melepaskan tangan Rain. Sangat terkejut dengan sikap kasar adiknya, mulut Deon bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi sebelum dia bisa mengucapkan sepatah katapun, Sila lebih dulu berbicara.


Dalam sekejap Deon segera melempar ke belakang semua ketidakpuasannya terhadap tindakan kasar Sila tadi.


"Sila, jangan main-main. Aku tahu kamu menyukai Rain tapi bukan berarti kamu bisa ikut campur di dalam rumah tanggaku." Peringat Deon serius.


Melihat situasi menjadi tegang, Rain memberanikan diri untuk masuk ke dalam perdebatan kedua pasangan bersaudara itu. Dia tidak ingin memperburuk situasi diantara mereka berdua.


"Tidak apa-apa, Sila. Semuanya baik-baik saja. Mas Deon memperlakukan aku dengan baik, kok." Kata Rain sambil menarik lengan Sila menjauh.


Ketika berbicara dia sama sekali tidak melihat reaksi Deon. Bukan karena tidak mau tapi dia sebenarnya tidak berani. Dia takut melihat wajah dingin suaminya itu.


"Kak Rain tidak perlu berbohong, aku adalah adiknya jadi aku sangat tahu bagaimana sifatnya selama ini." Sila lalu menatap Deon dengan senyuman licik di wajahnya.

__ADS_1


"Siapa bilang aku tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga Kakak. Lihat apa yang kubawa," Merogoh sesuatu di dalam tasnya, beberapa detik kemudian dia mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya kepada Deon.


Deon mengulurkan tangannya untuk meraih surat itu. Saat dia melihat surat apa itu, Deon langsung terbengong di tempat.


Stempel merah milik mansion Dirgantara melekat nyaman di atas tanda tangan Papanya yang menunjukkan bahwa Sila telah menggunakan kartu hak istimewanya.


"Apa...ini?"


"Ini adalah hak istimewa ku. Pagi ini aku memutuskan untuk menggunakan kartu ini dan memberitahu Papa. Papa langsung setuju dan menandatanganinya surat hak istimewa ku. Jadi karena hak istimewa ku telah digunakan, Kak Deon tidak memiliki hak untuk mengusirku dari rumah ini dan aku juga memiliki hak untuk tinggal di sini bersama Kak Rain." Jelas Sila sangat menikmati setiap perubahan warna pada wajah Kakaknya itu.


Ini adalah hak istimewanya, dan Deon tidak bisa menghapus hak istimewa tersebut.


"Apa kamu gila, Sil?! Kartu istimewa hanya ada satu dan tidak bisa dibatalkan lagi setelah kamu gunakan. Dan kamu menyia-nyiakan hak istimewa mu untuk mengacaukan rumah tangga ku?!"


Setiap anak yang telah mencapai usia 18 tahun akan diberikan sebuah kartu hak istimewa di dalam keluarga Dirgantara. Kartu itu hanya ada 1 dan hanya bisa digunakan 1 kali. Kartu ini diberikan saat seseorang berusia 18 tahun yang sudah dianggap dewasa oleh keluarga. Kartu ini disebut sebagai hak istimewa karena bisa mengabulkan 1 permohonan. Biasanya kartu ini digunakan untuk hal-hal yang sangat penting dan sangat berhati-hati karena setelah kehilangan, tidak ada kesempatan lagi.


Jadi, setiap anak yang memegang kartu tidak mudah menggunakannya karena keberadaan kartu ini yang sangat istimewa.


Nah, konyolnya adalah bahwa Sila merupakan satu-satunya orang yang paling bodoh di mata Deon, menggunakan hak istimewa untuk urusan sepele, bukankah itu sama saja menyia-nyiakan kesempatan penting?


"Ini adalah hak dan keputusanku jadi Kak Deon tidak boleh melarang ku." Jawab Sila santai mengabaikan kemarahan Deon.


Daripada meladeni Deon lebih baik Sila pergi membawa Rain ke dalam kamar untuk menghindari amukan Deon.


"Kamu mau kemana?!" Teriak Deon benar-benar marah.


Bersambung...

__ADS_1


Ini kesalahan sistem, terima kasih.


__ADS_2