
"Apa kamu tuli?! Apa kamu mengerti bahasa manusia?! Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya agar jangan pernah bertemu dengan Almira?!" Raungan marah Deon memenuhi rumah ini.
Rain ketakutan, dia menundukkan kepalanya menangis tertahan dalam diam. Dia salah dan bodoh mau saja pergi mengikuti Sasa, dan dia lebih bodoh lagi karena mengabaikan peringatan dari Deon. Padahal Deon maupun keluarganya yang lain telah mengingatkannya dengan serius agar jangan bertemu Almira.
Yah, ini salahnya. Memang salahnya tapi... Rain masih merasa tidak adil.
"Aku...aku minta maaf karena pergi menemui adikku tapi walaupun pergi, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya. Bagaimana mungkin aku tega menyakiti adikku sendiri? Aku... bukanlah orang jahat, Deon." Rain menyuarakan pembelaan tanpa ada niat sedikitpun untuk melebih-lebihkan perkataannya.
Dia mencintai Almira dan dia juga merindukannya setelah lama tidak bertemu.
"Bukan orang jahat?" Deon tiba-tiba merasa lucu.
Dia tertawa rendah, mengejek kepolosan dan kelembutan Rain yang dibuat-buat. Betapa naif nya, rasa muak dan jijik Deon semakin membara jauh di dalam hatinya terhadap Rain.
Hah, bagaimana mungkin dia masih dibuat jatuh cinta kepada wanita tak berperasaan ini?
Namun itu dulu karena untungnya Tuhan memberikannya kesempatan untuk memilih Almira. Jika tidak, hidupnya pasti tidak akan tenang hidup bersama wanita berhati hitam ini.
"Kamu bilang tidak tega menyakitinya tapi kenapa kamu masih naik ke tempat tidurku?! Menggunakan cara kotor ini agar bisa menikah denganku, Rain...kamu terlalu menjijikkan! Kamu membuatku muak!" Teriak Deon frustasi.
Dia tidak menginginkan hasil ini, tidak pernah.
Dalam tangis tertahannya, Rain terkejut. Bagaimana mungkin Deon berpikir jika kecelakaan malam itu adalah rencananya?
"Aku tidak pernah melakukannya, Deon." Rain membantah dengan lemah.
Mungkin karena dia tidak pernah memakan apapun hari ini atau mungkin karena tubuhnya saja yang pengecut sehingga sekedar untuk bersuara saja dia rasanya tidak mampu. Benar-benar lemah.
"Tidak pernah, hah? Maka aku adalah laki-laki terbodoh di dunia ini jika mempercayai sepatah katapun darimu." Ejek Deon tidak percaya.
Antara percaya atau tidak hanya Tuhan yang tahu isi hati Deon. Tapi yang pasti hari ini dia sangat marah dan murka karena Rain mengingkari janjinya. Datang menemui Almira tanpa mengucapkan apapun terlebih dahulu membuat Deon cemas dan mulai berburuk sangka bila niat Rain datang menemui Almira itu tidak baik.
"Tapi, aku... sungguh tidak pernah-"
"Diam!" Bentak Deon tidak sabar.
__ADS_1
Dia mengusap wajahnya gusar melihat penampilan menyedihkan Rain saat ini. Kedua matanya mengelak tidak mau melihat wajah pucat Rain yang terlihat sangat kuyu tak berjiwa.
"Kamu menyakitiku, Rain." Ucap Deon dengan nada rendah.
Rain buru-buru membantah,"Aku tidak-"
"Kamu menyakitiku." Potong Deon tanpa ampun.
"Kamu harus tahu bila Almira adalah hidupku, dia adalah belahan jiwaku. Tanpa Almira, aku mungkin tidak akan bisa berdiri di sini dan melayani permainan kotor mu. Almira...aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya. Maka kesimpulannya, menyakiti Almira sama artinya dengan menyakitiku."
... Almira adalah hidupku.
Kata-kata ini berdengung nyaring di dalam kepalanya. Ia bahkan tidak tahu apa yang Deon bicarakan selanjutnya karena fokus pikirannya saat ini masih tertuju pada kata-kata Deon barusan.
"Oleh karena itu, mulai hari ini kamu tidak diizinkan lagi mencari Almira atau bertemu dengannya. Dan jika kamu tidak mau mendengar apa yang aku katakan hari ini, maka jangan pernah salahkan aku menyakitimu." Ancam Deon tidak main-main.
Dia telah mengatakan apa yang perlu dikatakan kepada Rain dan dia juga tidak ingin berlama-lama lagi tinggal di sini. Terjebak bersama orang yang ingin dihindari, setidaknya untuk saat ini.
Terakhir, dia melirik Rain dingin dengan tatapan merendahkan sebelum beranjak pergi tanpa menoleh ke belakang sedetik pun.
Rain merasa kedinginan, kedua mata basahnya menatap punggung Deon perlahan menghilang dari pandangannya.
Tidak berselang lama Rain kemudian bangun dari sofa, membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar serapat-rapatnya.
Tubuhnya seketika runtuh di atas kasur, jatuh tanpa perjuangan sambil memeluk lututnya guna mencari kehangatan.
"Melelahkan, aku ingin tidur." Bisiknya pahit seraya menurunkan kelopak matanya yang bengkak karena kelelahan menangis.
Yah, tidur. Sebentar saja.
...🍃🍃🍃...
Di malam hari Rain demam. Dia terbangun dari tidurnya karena lonjakan keringat dan suhu tubuhnya yang tinggi. Dengan linglung dia mencari kotak P3K, mengambil termometer pengecek suhu dan menemukan bila suhu tubuhnya tidak normal.
Tidak mau ambil pusing, dia lalu memaksakan dirinya makan selembar roti tawar dan kemudian minum obat penurun panas. Setelah itu dia kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Keadaan Rain tidak kunjung membaik pada awalnya. Di rumah tidak ada satu orang pun yang merawatnya karena Bibi Siti dan Sila masih belum pulang. Adapun Deon?
Rain juga tidak tahu kabarnya.
Putus asa, Rain akhirnya memutuskan untuk menelpon Papanya.
"Hallo, Rain?" Suara di sekitar Papa sangat bising dan terdengar hidup.
"Pa..." Tenggorokan Rain kering dan agak perih.
"Ya, Nak?" Suara bising di sekitar agak memudar, mungkin karena Papa berjalan menjauh dari tempat itu.
"Aku..." Rain rasanya ingin menangis,"Aku sakit-"
"Papa mau kemana?" Suara lembut Almira di ujung sana membuat Rain seketika menutup rapat mulutnya.
"Papa gak kemana-mana. Kenapa, Almira butuh sesuatu?" Nada suara Papa terdengar begitu lembut dan penuh kasih di seberang sana.
"Almira hanya tidak ingin Papa menjauh." Tidak, itu bukan suara Almira atau yang lainnya. Ya, benar sekali. Suara lembut itu adalah milik Deon, suara bernada lembut yang belum pernah Rain dengar sebelumnya.
Membuat Rain bertanya-tanya apakah dia memiliki kesempatan untuk- ah, Rain, berhentilah berkhayal.
Hari itu tidak akan pernah datang dalam hidup ini.
"Kenapa Rain, kamu tadi ngomong apa?" Papa kembali fokus kepadanya.
Rain tersenyum miris, tangan kanannya yang kurus bergerak ringan di wajahnya untuk menghapus cairan hangat yang telah lancang membasahi pipinya.
"Aku lupa." Bohong Rain. "Aku akan menelpon Papa saat mengingatnya lagi." Tuhan tahu betapa sulitnya dia berbicara, bersikap seolah-olah dia tidak apa-apa.
Setelah menutup telepon, Rain tidak lagi berniat meminta bantuan orang lain dan memaksakan diri untuk melakukan semuanya sendiri.
Dia tidak memiliki tenaga, tapi tetap memaksakan diri untuk berjalan ke dapur untuk memasak. Dia tidak memiliki selera makan, tapi terus memaksakan diri untuk melahap makanannya. Dan dia kesepian tanpa siapapun di sisinya, tapi memaksakan diri untuk melakukan semuanya sendiri.
Sudah biasa dan ini tidak mengherankan.
__ADS_1