
30 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur biru laut yang aku bawa dari rumah. Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang bersiap akan tidur, tapi beberapa detik kemudian aku buru-buru turun dari ranjang untuk mengambil jas hitam Deon yang sempat aku tinggalkan di atas kursi meja rias.
Aku menghirup wangi Deon dari jas ini, memeluknya erat sebelum dengan enggan menggantungnya di dalam lemari pakaian.
"Aku harus merawat jas ini dengan hati-hati."
Dert
Dert
Dert
Dering ponselku menarik perhatian ku dari lemari. Aku menutup pintu lemari sebelum mengambil ponsel ku yang berada di atas nakas.
"Kak Bimo?" Ternyata orang yang menelpon ku adalah Kak Bimo.
Awalnya aku berencana untuk menelponnya untuk berbagi kabar bahagia bahwa aku hari ini menikah tapi sebelum aku melakukannya Kak Bimo ternyata lebih dulu menelpon ku.
Aku tidak ragu untuk menjawabnya.
"Hallo, Kak?" Sapa ku ramah.
"Hallo, Rain? Aku ganggu, ya?" Suara berat Kak Bimo balas menyapaku dari seberang sana.
"Enggak kok, Kak. Malah aku senang tahu Kak Bimo nelpon aku karena ada sesuatu yang ingin aku omongin sama Kakak." Sambil berbicara aku naik ke atas ranjang.
Membaringkan tubuhku senyaman mungkin.
"Oh ya, kebetulan banget. Aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi kayaknya kamu lagi semangat banget jadi kamu duluan, deh, yang ngomong." Dia masih saja orang yang sangat sopan.
"Aku terakhir aja, Kak."
Dia tidak menolak.
"Baiklah, aku yang ngomong duluan, yah. Rain selamat, yah. Ibu panti bersedia kamu menjadi relawan panti asuhan. Ibu panti bilang kesan anak-anak kepada kamu sangat baik jadi dia bersedia mengizinkan kamu menjadi relawan di sana."
"Eh, seriusan, Kak?" Kabar ini sangat mengejutkan ku.
Jujur, aku senang mendengarnya karena mendirikan panti asuhan adalah bagian dari mimpiku. Tapi untuk bekerja di sana sepertinya aku harus membicarakannya dengan Deon dulu.
__ADS_1
Karena biar bagaimanapun sekarang aku adalah istrinya.
"Serius, Rain. Besok pagi aku akan menjemputmu untuk melengkapi surat-surat administrasi yang harus kamu penuhi, bagaimana?"
"Em, soal itu aku masih belum membuat keputusan karena aku harus membicarakannya dengan suamiku dulu, Kak." Kataku agak malu.
"Suami? Kamu sudah menikah?!" Tanyanya terdengar sangat kaget.
Aku tanpa sadar menganggukkan kepalaku,"Iya Kak, aku hari ini menikah-"
Cklack
Pintu kamarku tiba-tiba dibuka kasar oleh Deon. Dia membawa langkah besar kakinya masuk ke dalam kamarku dengan ekspresi yang sangat suram, jauh lebih suram daripada saat dia marah karena aku masuk ke dalam kamarku.
"Deon.." Aku mencoba bangun dari acara berbaring ku tapi langsung ditekan oleh Deon.
Deon menekan leherku dengan tangan kiri sedangkan tangannya yang lain mengambil ponselku.
Dia menatap layar ponsel ku singkat sebelum menatapku dengan seringai lebar diwajahnya.
Buruk, aku tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk. Alarm di kepalaku berdering hebat mengingatkan ku untuk segera melarikan diri dari Deon.
"Hallo? Rain, hallo Rain?!" Aku mendengar panggilan panik Kak Bimo dari speaker ponselku.
"Deon- humph!" Bibir ku tiba-tiba dicium dengan kasar oleh Deon.
Tangan kirinya bergerak mengelus tengkukku dan menekannya dengan keras. Kepalaku menjadi blank sesaat karena tidak tahu harus melakukan apa.
"Ugh!" Dia menggigit bibir bawahku dengan kasar yang disusul oleh rasa amis di dalam mulutku. Karena rangsangan sakit, aku spontan membuka mulutku yang langsung dimasuki oleh Deon.
Benda licin dan hangat menyerbu kedalaman mulutku, menginvasi seluruh tempat dengan kasar dan dominasi. Lidahku bahkan kewalahan menghadapi invasi tiba-tiba benda licin itu. Membuat kepalaku menjadi kosong dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku terbuai.
Tubuhku rasanya dibawa melayang setiap kali merasakan sensasi aneh yang mengompori tubuhku.
Lebih, aku menginginkan lebih.
"Ehm~" Des*h ku tidak tahan saat merasakan tangan besar Deon telah masuk ke dalam pakaianku.
Mengelus tempat sensitif ku dan meremas tonjolan kecil di dadaku dengan gerakan- kasar!
__ADS_1
"Argh!" Semua perasaan manis tadi segera menguap digantikan oleh rasa sakit.
Deon lagi-lagi menggigit bibirku tapi gigitan ini jauh lebih sakit daripada sebelumnya. Seolah-olah Deon sedang mengunyah daging alot yang sangat menjengkelkan.
"Apa kamu puas?" Tanyanya tidak sabar sambil bangun dari tubuhku.
Dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ku jelaskan dengan baik. Ada rasa jijik dan muak di wajahnya. Ekspresi wajahnya ini bagaikan sebaskom air dingin yang di tumpahkan langsung tepat di atas kepalaku.
Seketika rasa sakit di dada dan bibirku tidak ada apa-apanya dengan perasaan memalukan yang kurasakan sekarang.
"Apa..aku membuatmu marah?" Tanyaku hati-hati seraya menahan ringisan dari luka di bibirku.
"Kamu masih bertanya?" Dia menatapku dengan pandangan merendahkan, citra yang sangat mengejutkan aku.
Di mataku Deon adalah orang yang lembut kepada Almira tapi acuh tak acuh kepada orang lain. Tidak sampai malam ini aku menemukan bila Deon adalah orang yang pemarah.
Dia marah karena apa?
Jujur aku bingung. Apakah ini masih menyangkut pernikahan siri ini atau masih mengenai kamarnya?
Seolah membaca kebingungan ku, dia lalu berkata,"Siapa yang memberikan kamu izin untuk memberitahu orang lain mengenai pernikahan ini?!" Bentaknya marah.
Aku lagi-lagi terkejut dengan reaksi kerasnya. Alasan kemarahannya ternyata karena masalah ini. Dia tidak senang ada orang yang mengetahui pernikahan kami.
"Aku minta maaf, Deon. Aku...aku hanya ingin berbagi kabar gembira dengan seniorku."
"Berbagi? Aku bertanya sekali lagi siapa yang memberikanmu izin menyebarkan kabar menjijikkan ini kepada orang lain?" Wajahnya mengeras karena amarah sambil menatapku dengan kedua mata bersinar nyalang.
Benar, ini adalah kabar gembira untukku tapi tidak untuknya.
Aku terlalu serakah dan egois.
"Tidak...tidak ada, tidak ada yang memberikan ku izin." Bisik ku sangat malu juga terluka.
"Tidak ada, tapi mengapa kamu berani memberi tahu orang lain?" Tanyanya tidak mengerti.
Aku menundukkan kepalaku tidak sanggup menatapnya,"Aku pikir...aku bisa melakukannya-"
"Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara kerja sirkuit otakmu?! Tidakkah kamu mengerti bahwa pernikahan ini tidak bisa diketahui oleh siapapun entah itu teman atau seniormu, tidak ada yang boleh mengetahuinya! Aku tidak mau pernikahan ini sampai ke telinga Almira apakah kamu tidak bisa mengerti ini?" Teriaknya membentak ku.
__ADS_1