Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 20


__ADS_3

"Aku akan ke kamar Almira." Lirih Deon setelah itu pergi ke arah jalan keluar.


Suara berat langkah kakinya mulai menapaki anak tangga menuju kamar Almira yang ada di sebelah kamarku. Kamar aku dan Almira memang bersebelahan di lantai dua. Ini adalah pengaturan yang Papa buat semenjak kami kecil dan masih bertahan sampai sekarang.


"Dia sangat menyedihkan, ck..ck..." Gumam Sasa tapi masih bisa ku dengar.


Aku merasakan kedua kakiku lemas karena malu tapi di depan mereka semua aku berusaha terlihat baik-baik saja. Dengan beberapa kata sopan aku lalu membawa langkah kakiku pergi menyusul Deon, hah...ini hanya angan-angan ku saja. Aku tidak berani menyusul Deon ke dalam kamar Almira.


Sepanjang melangkah aku meluruskan punggungku agar semua orang tidak berpikir bahwa aku sedih walaupun faktanya aku sangat sedih. Aku tahu jika mereka semua pasti kini tengah menatapku dengan ekspresi kasihan, kasihan karena Deon selalu memikirkan adikku meskipun aku sudah menjadi istrinya.


Artinya, Deon tidak benar-benar menganggap aku ada dan mungkin saja dia tidak benar-benar menganggap aku sebagai istrinya. Mungkin inilah yang terbaik, aku bisa mengerti apa yang Deon rasakan. Dia masih mencintai Almira dan baginya aku hanyalah calon Kakak ipar.


Aku tidak bisa melayangkan protes karena aku di sini tidak memiliki hak apa-apa untuk bersuara. Jika pernikahan ini berlanjut maka aku hanya harus bertindak sebagai istri yang baik walaupun dia benar-benar tidak menganggap ku, dan jika pernikahan ini selesai maka aku juga harus menerimanya.


Aku tidak bisa marah atau kecewa karena ini adalah satu-satunya kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku agar lebih dekat sedikit saja dengan orang yang kucintai. Bila pernikahan ini bubar maka aku hanya perlu kembali ke dalam kehidupanku yang biasa. Dan mungkin Papa akan mengabulkan impianku untuk mendirikan sebuah panti asuhan, mengurus dan membesarkan anak-anak yang telah kehilangan cinta keluarga sama seperti diriku yang menyedihkan.


...🥀🥀🥀...


Malam akhirnya datang menyingkirkan sinar mentari yang telah berjam-jam merajai waktu. Kini kehangatan begitu sukar kudapatkan karena tiada cahaya hangat dari sang mentari. Hanya sedikit pantulan dari bulan yang menyinari malam dingin ini tapi aku sudah merasa cukup lega dibuatnya.


Baru sehari pergi aku sudah sangat merindukan anak-anak panti asuhan. Aku ingin bertemu dengan mereka dan berbagi cerita bahwa hari ini aku sangat bahagia. Aku akhirnya menikah dengan laki-laki yang kucintai dan berencana menghabiskan beberapa waktu bersamanya, ketika mereka mendengar kabar ini aku yakin reaksi mereka semua pasti sangat heboh dan berisik. Mulut-mulut kecil mereka tidak akan berhenti bertanya tentang diriku dengan Deon, mereka menunjukkan emosi yang paling jujur dan tidak dibuat-buat, aku tidak akan ragu mengatakan semua rahasiaku jika mereka ingin mengetahuinya.

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


Aku terperanjat kaget mendengar ketukan kasar dari pintu kamarku. Tidak punya waktu untuk memikirkan siapa orang yang telah mengetuk pintu, aku buru-buru berjalan meriah gagang pintu dan menariknya.


Ternyata orang yang mengetuk pintu kamarku adalah Bibi Lara. Dia berdiri di depanku dengan tatapan sinis dimatanya.


"Apa Bibi Lara butuh sesuatu?" Tanyaku sopan, mengabaikan sikap tidak ramahnya.


Di rumah ini, aku diperlakukan selayaknya anak tiri oleh mereka dan aku marah karena mungkin hatiku sudah mati rasa dibuatnya. Daripada marah aku lebih merasa sedih karena perlakuan mereka sangat berbeda ketika berhadapan dengan Almira.


"Kenapa dia tidak bisa seperti adiknya? Almira sangat sopan kepada orang tua tapi kenapa dia justru sebaliknya? Cih, dia membuat keluarga sangat malu!" Bibi Lara bergumam tidak senang, entah disengaja atau tidak, tapi suara gumaman nya masih didengar olehku.


Aku menghela nafas panjang, berusaha menenangkan suasana hatiku yang kusut karena kemarahan Bibi Lara. Sudut bibirku praktis membentuk senyuman ketika mataku tidak sengaja melihat lingkaran indah yang bercahaya dibawah cahaya lampu.


Ini adalah cincin pernikahan ku dari Deon, pikirku bahagia.


Cklack

__ADS_1


Aku menoleh ke samping, Deon baru saja keluar dari kamar Almira. Sejak naik ke lantai dua dia tidak pernah keluar dari kamar Almira. Entah apa yang suamiku lakukan di sana, aku tidak berani mencari tahu ataupun sekedar untuk bertanya.


"Deon," Panggil ku tergesa-gesa saat dia berjalan melewati ku.


Langkahnya tidak terhenti tapi sedikit lebih lambat. Aku sangat gugup dan berusaha melangkah satu langkah di belakangnya. Aku takut dia risih dengan pendekatan ku.


"Hem?" Katanya tanpa menoleh.


"Aku..apa aku boleh turun bersamamu?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


Aku pikir dia akan menolakku tapi ternyata tebakan ku salah karena Deon mengizinkan ku untuk ikut bersamanya turun ke bawah. Aku sangat senang dan tidak bisa mengontrol senyuman di wajah ku.


"Ah?" Aku tertegun saat menyadari jika Deon sedang memperhatikan ku.


Sangking terkejutnya, langkah ku di anak tangga menjadi tidak stabil dan hampir saja terjatuh jika Deon tidak segera menarik pinggangku.


Tangannya terasa begitu nyata di atas pinggangku, sangat kuat dan kokoh, perasaan ini sama seperti malam dimana semua alasan ini dimulai. Sejak malam itu aku selalu bertanya-tanya kenapa Deon memanggil namaku dan bukannya nama Almira, apakah..apakah Deon menyadari jika orang yang ada di dalam kamarnya adalah aku dan bukan Almira?


Jika iya, lalu kenapa paginya dia sangat terkejut ketika melihat ku di atas tempat tidurnya?


Sikapnya menunjukkan jika dia tidak mengingat dan menginginkan malam itu terjadi.

__ADS_1


"Dimana matamu saat berjalan?"


__ADS_2