
Sorenya, Deon pulang ke rumah dua jam lebih cepat dari biasanya. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa perlu menunggu Bibi Siti membuka pintu untuknya.
Ketika masuk ke dalam rumah, wajahnya masam terlihat tidak ramah. Bahkan, wajah tersenyum Bibi Siti di rumah sama sekali tidak masuk ke dalam matanya.
Dia berdiri lurus di ruang tengah, kedua mata almond nya melirik singkat ke sembarang arah hingga akhirnya sampai di depan pintu tertutup kamar Rain.
Keningnya mengernyit terganggu setelah memikirkan sesuatu.
Melihat kebisuan tuannya, Bibi Siti secara naluri berdiri di depan Deon berniat membela Rain yang tidak menampakkan batang hidungnya sejak pulang dari entah berantah.
"Tuan, hari ini Bibi non Rain tiba-tiba datang berkunjung dan membawa non Rain pergi entah kemana. Ketika pulang dari rumah tadi siang non Rain terlihat sangat kelelahan dan langsung beristirahat di dalam kamar tanpa sempat makan siang..." Wajah Deon semakin terlihat tidak sedap dipandang jadi Bibi Siti buru-buru mengatakan beberapa kata pembelaan lagi.
"Tuan tenang saja, sebelum pergi non Rain telah menyelesaikan semua tugasnya. Dia membersihkan taman belakang, menyiram tanaman, membersihkan rumah-"
"Dia belum makan siang sampai sekarang?" Potong Deon membuat Bibi Siti langsung tercengang.
"Benar, Tuan. Non Rain belum makan siang sejak pergi bersama Bibinya tadi siang. Bibi sudah membangunkan non Rain untuk makan tapi dia bilang akan makan siang setelah cukup beristirahat di kamar."
Bibi Siti sangat gugup menunggu reaksi majikannya. Dia pikir Deon akan marah seperti semalam tapi ternyata itu hanya kekhawatirannya saja.
"Humph," Deon mendengus terdengar jengkel,"Lalu kenapa kamu tidak membangunkannya lagi? Apa kamu tidak lihat sebentar lagi akan malam?"
Hanya Tuhan yang tahu apa yang dipikirkan oleh Deon dan apa yang ingin Deon lakukan kepada Rain di rumah ini. Tapi yang pasti perilakunya yang berubah-ubah telah membuat Bibi Siti bingung berkali-kali.
"Tuan...Bibi sudah mencoba membangunkan non Rain tapi dia... tidak merespon." Mungkin karena masih tidur tapi Bibi Siti hanya bisa mengatakan kata-kata ini di dalam hati.
Bibi Siti tidak mau membuat kesan Deon terhadap Rain semakin buruk karena masalah ini. Karena biasanya seorang perempuan yang sudah menikah tidak akan tidur lama apalagi sampai melupakan tugasnya karena ketiduran.
Deon melihat kamar Rain lagi, diam tanpa bersuara, dia lalu menyerahkan tas kerjanya ke tangan Bibi Siti sebelum membawa langkahnya berjalan menuju kamar Rain. Bibi Siti ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu-ragu karena Deon sepertinya sedang tidak ingin diganggu. Alhasil dia hanya diam melihat Deon pergi ke kamar Rain.
Deon menyentuh sisi pintu kamar Rain yang dibuat dari kayu mahoni kelas atas. Jari-jari panjangnya terus bergerak turun sampai akhirnya jari-jari itu berpindah memegang gagang pintu.
__ADS_1
"Hem?" Saat ditarik pintu tidak bisa dibuka, Rain menguncinya dari dalam.
"Rain, bukankah aku sudah mengatakannya jika kamu tidak boleh bersikap manja seperti di rumah mu dulu?" Dengus Deon acuh tak acuh.
Tangannya lalu terangkat akan mengetuk pintu kamar tapi gerakannya tiba-tiba membeku di udara ketika mengingat kata-kata Bibi Siti.
Tadi siang Rain keluar dengan Bibinya, tapi Bibi yang mana?
"Apa dia baik-baik saja?"
Karena tidak satupun Bibi yang memiliki hubungan baik dengan Rain.
Deon terpaksa menurunkan tangannya dan merogoh saku jasnya untuk mengambil sesuatu, sebuah kunci kamar.
Cklack
Pintu kamar Rain akhirnya terbuka. Deon membawa langkah kakinya tanpa suara masuk ke dalam kamar Rain.
Sinar matahari mulai menghilang jadi Deon ragu-ragu menekan saklar lampu. Kamar Rain segera menjadi jelas dan terang.
Di dalam kamar Rain sedang tertidur damai di atas kasur. Dia masih menggunakan baju dari tadi pagi dan terlihat sedikit pucat.
Deon ingin menegurnya untuk segera bangun tapi semua kata-katanya segera tertelan kembali ketika melihat penampilan Rain sekarang.
"Kamu menangis," Bisik Deon terdengar aneh."Kenapa?"
Tapi hanya suara nafas teratur Rain yang merespon pertanyaannya.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Rain?." Menyentuh wajah lembut Rain, dia tiba-tiba memalingkan wajahnya, menarik tangannya dari wajah Rain dan berbalik pergi keluar dari kamar.
Sebelum menutup pintu kamar, Deon memperhatikan wajah lelah Rain sekali lagi.
__ADS_1
"5 tahun yang lalu kamu tiba-tiba meninggalkan ku, menghilang tanpa kabar dan tidak ada disaat-saat aku paling membutuhkan kamu. Kamu pergi meninggalkan ku tapi kenapa sekarang kamu berbalik ke arah ku, lagi? Apakah kamu belum puas menyiksa hatiku selama 5 tahun ini?" Tanyanya acuh tak acuh, nada bicaranya yang dekaden terdengar seakan-akan Rain kini tengah berdiri di depannya dan tidak tidur.
Tersenyum miring,"Kamu akan menyesal, Rain."
Deon lalu menutup pintu kamar Rain dengan emosi rumit dihatinya, ada marah, kesal, benci, dan... mungkin sedih?
Tapi dia tidak mau mengakuinya.
Dia tidak mau mengakuinya bila Rain selalu berhasil membuat hatinya kacau, bahkan setelah 5 tahun berlalu.
...🌪️🌪️🌪️...
Malam harinya Rain bangun dari tidur setelah mendengarkan ketukan pintu dari luar. Rain tertegun saat melihat di luar sudah gelap. Tidurnya hari ini sangat pulas tanpa mendapatkan mimpi yang menakutkan.
Dia tidak bisa melanjutkan tidur lagi karena kepalanya agak pusing setelah tidur lama. Selain itu Bibi Siti juga mengetuk pintu kamarnya, mungkin karena Bibi Siti cemas dia belum keluar dan makan siang.
"Bibi, aku akan segera keluar." Teriak Rain sambil turun dari tempat tidurnya.
Dia berjalan ke arah pintu, menarik gagang pintu dia langsung dibuat terkejut ketika melihat tubuh tinggi nan tegap Deon kini tengah berdiri di depannya.
Rain lambat merespon, pikirannya segera kosong dan jantungnya berdetak kencang tanpa bisa dikendalikan.
"Keluar, temui aku di ruang tengah." Kata Deon sebelum membalik badannya berjalan ke ruang tengah yang berada tepat di depan kamar Rain.
Begitu Deon menjauh, barulah Rain sadar dari reaksi lambatnya. Dia menatap Deon gugup sambil menebak-nebak di dalam hatinya apa yang ingin Deon lakukan.
"Ini tidak penting sekarang." Katanya panik.
Dia masuk ke dalam kamar lagi untuk membersihkan wajahnya dan berganti pakaian menggunakan baju rumah.
"Aku adalah istrinya sekarang dan harusnya aku menyiapkan makan malam untuknya. Tapi aku ketiduran! Bagaimana ini, Deon pasti kesal." Gumam Rain menatap dirinya di depan cermin.
__ADS_1