Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 58


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Rain akhirnya sembuh dan bisa beraktivitas secara normal kembali. Namun walaupun sudah sembuh, rumah masih belum mengalami perubahan karena Bibi Siti maupun Sila masih belum kunjung kembali. Ketika Rain mencoba menghubungi mereka berdua, tidak satupun nomor telepon diantara mereka yang aktif dan bisa dihubungi.


Namun Rain tidak khawatir karena dia menduga bila kepergian Bibi Siti dan Sila pasti ada kaitannya dengan Deon. Mungkin ini adalah bentuk hukuman Deon kepadanya untuk masalah terakhir kali.


Tidak terasa hampir 3 bulan lamanya Rain tinggal di rumah ini tanpa seorangpun yang menemani. Keluarga maupun orang-orang rumah seolah diam membisu tidak mau mendengarkan kabarnya. Sudah biasa pikir Rain dan dia tidak terlalu terkejut.


"Almira pasti berhasil menjalani operasinya." Gumam Rain kosong melihat layar televisi yang telah menemani hari-hari kesepiannya.


Benar, hampir 3 bulan sejak pertengkaran itu dan semenjak itu pula Rain menjalani semuanya di rumah ini seorang diri. Dia tidak pernah dihubungi oleh keluarganya dan dia pun tidak ingin menghubungi keluarganya lagi karena mereka semua sibuk memperhatikan kondisi Almira.


"Syukurlah... sudah saatnya aku melepaskan semua ini."


Rain tersenyum kecil, suasana hatinya terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Dia tampak...lebih hidup.


Bosan duduk di rumah, Rain akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan dokter Bimo, dokter yang telah menangani kelainan mentalnya selama beberapa tahun ini.


Rain pikir dia akan segera bercerai dengan Deon sehingga dia perlu menyiapkan lembaran bersih dalam hidupnya dan karena itu dia perlu bertanya langsung kepada dokter Bimo.


"Luar biasa, Rain. Kondisi mu jauh lebih stabil daripada sebelumnya." Puji dokter Bimo kagum setelah melihat kondisi Rain.


Rain tersenyum lembut,"Benarkah?"


"Benar. Awalnya aku sangat mengkhawatirkan kamu karena dokter Adit bilang kondisi mu sangat buruk. Tapi lihat sekarang, kamu terlihat jauh lebih baik dan stabil. Cek, kekhawatiran ku selama ini sia-sia ternyata."


"Yah, aku juga merasa bila beberapa bulan ini hatiku jauh lebih tenang." Dan jantungku juga tidak lagi membuat masalah.


Aneh, mungkin ini karena kesepian yang dia jalani selama beberapa bulan ini.


"Bagus. Aku senang mendengarnya."


Setelah pembicaraan dengan dokter Bimo, Rain tidak ingin berlama-lama lagi di rumah sakit. Takutnya dia bertemu dengan seseorang yang mengenalnya dan melayangkan tuduhan bila dia ke sini untuk mencari Almira.


Keluar dari rumah sakit Rain tidak langsung pulang ke rumah tapi membawa langkah kakinya menuju pusat perbelanjaan di kota. Seperti sebelumnya, tempat yang dia tuju adalah tempat anak-anak bermain tapi siapa yang mengira ditengah jalan menuju ke sana dia bertemu dengan Bimo.

__ADS_1


"Rain?" Panggilan akrab itu menarik Rain dari lamunannya.


Dia menoleh ke samping dan menemukan wajah tampan Bimo.


"Kak Bimo...? Kak Bimo!"


Bimo tersenyum lebar,"Kita bertemu lagi."


Dia berjalan mendekati Rain agar mereka bisa berjalan berdampingan.


"Kamu mau kemana?" Nada suaranya jelas lebih antusias daripada sebelumnya.


Rain menggelengkan kepalanya tidak tahu. Awalnya ingin melihat anak-anak tapi saat bertemu Bimo dia langsung menghilangkan ide itu dari kepalanya.


"Kakak sendiri mau kemana?" Rain melempar pertanyaan.


Bimo masih tersenyum lebar,"Aku mau beli boneka dan buku untuk anak-anak, mau ikut enggak?" Katanya santai tapi binar cerah penuh harapan dimatanya tidak bisa ditutupi.


Untungnya Rain tidak menolak tawaran Bimo.


Bimo semakin senang.


"Boleh, setelah beli barang kita langsung ke panti asuhan aja. Tahu enggak? Anak-anak di panti udah kangen banget sama kamu. Setiap ke sana pasti mereka nanyain kamu. Tapi untungnya kali ini kita bertemu dan kamu bisa menemui mereka, kalau enggak, aku bingung lagi deh gimana jawab pertanyaan mereka nanti." Ujar Bimo bersemangat.


Setelah menghilang 3 bulan lamanya, dia akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Rain lagi. Jadi bagaimana mungkin dia tidak senang?


Rain tertawa kecil, wajah lembutnya terlihat memerah minta disentuh. Tapi karena jarak dan sopan santun, Bimo berusaha tetap rasional.


"Aku juga Kak, udah kangen banget sama anak-anak."


Mereka lalu pergi ke toko boneka di lantai atas. Sepanjang jalan topik pembicaraan mereka masih seputar anak-anak panti asuhan sampai akhirnya mata Bimo menangkap keberadaan benda indah nan berkilau yang ada di jari manis tangan kiri Rain.


Saat melihatnya Bimo tertegun, tampak terkejut. Namun beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya berganti menjadi kekaguman juga warna sendu, samar.


"Jadi kamu udah nikah, ya?" Bimo masih ingat malam saat Rain menghubunginya.

__ADS_1


Rain mengangguk malu,"Iya, Kak. Sudah hampir 3 bulan." Dan beberapa hari lagi akan berakhir. Batin Rain miris.


Bimo sekali lagi melihat cincin pernikahan Rain,"Pasti suami kamu cinta banget sama kamu." Jelas ada rasa cemburu di sana.


Namun ya, Rain memang pantas mendapatkan cinta yang dalam karena Rain sendiri adalah gadis yang berharga.


Cinta?


Rain langsung kehilangan senyum di wajah cantiknya. Dan rona lembut yang tadinya bersinar perlahan surut mengikuti kekosongan hatinya.


"Dia pasti suami yang penuh kasih, kamu harusnya bahagia bisa bersamanya." Bimo terus saja berbicara dan tidak menyadari perubahan ekspresi Rain.


Kelopak mata Rain merendah,"Ya, dia adalah suami yang baik."


Deon adalah laki-laki yang lembut dan penuh kasih, tapi bukan untuknya melainkan untuk Almira seorang.


Bimo tersenyum kecil,"Kamu adalah gadis yang cantik dan lembut. Laki-laki itu pasti beruntung menikahi kamu."


"Benarkah?" Rain jelas tidak percaya.


Bimo menghentikan langkahnya dan menarik tangan Rain dengan serius. Dia bahkan secara terang-terangan menatap wajah Rain, mengamati perubahan kulit pipinya yang kembali diwarnai dengan rona merah menggoda.


"Kamu adalah gadis yang cantik dan berhati lembut terhadap anak-anak. Menurutku pribadi sebagai laki-laki, kamu adalah tipe istri yang diinginkan oleh banyak-"


"Rain," Suara dingin seseorang menginterupsi ucapan Bimo.


Tubuh Rain langsung menegang, dengan gerakan kaku dia menoleh ke arah sumber suara. Pemilik suara dingin yang sudah lama tidak pulang ke rumah.


"De... Deon?"


Bersambung...


Assalamu'alaikum, hallo semuanya 🍃. Kali ini saya datang bukan dengan bab selanjutnya melainkan sebuah pengumuman jika mulai dengan hari ini novel Calon Adikku Menjadi Suamiku tidak akan saya lanjutkan lagi karena beberapa pertimbangan. Selain karena permasalahan alur lambat dan alur yang sedikit kacau, keputusan ini juga saya buat karena bab yang sudah terlanjur di update tidak bisa lagi dihapus jadi tidak ada solusi yang baik untuk memperbaikinya.


Adapun bagi pembaca yang ingin mengikuti masih bisa membacanya di tempat sebelah yang warna ijo dengan alur yang sudah diperbaiki dan sejalan dengan kerangka cerita yang asli. Saya tidak menggunakan alur yang ada di sini untuk kenyamanan.

__ADS_1


__ADS_2