
"Benar, non. Tuan melakukan semua ini sejak beberapa tahun ini. Produk susu pisang ini sudah memenuhi gudang rumah tuan. Bibi tidak tahu mengapa tuan melakukan ini dan Bibi tidak berani menanyakannya. Jika non Rain tidak percaya maka Bibi bisa membawa non Rain ke dalam gudang untuk memastikannya." Bibi Siti berbicara dengan nada yang meyakinkan.
Rain termenung,
Apa ini pikirnya, getaran lembut nan hangat di hatinya mulai mengisi kesunyian di hati. Rain seolah kembali pada tahun-tahun itu, tahun-tahun saat dia dan Deon masih terjebak di dalam lingkup ambiguitas manis.
Waktu itu...
"Aku mulai menabung uangku." Rain masih ingat suara renyah khas anak remaja sekolah konyol itu, menjengkelkan tapi disaat yang sama sangat menyenangkan di telinga.
Lalu Rain bertanya,"Untuk apa kamu menabung, Deon? Bukankah kita tidak pernah kekurangan uang?" Fakta bahwa mereka terlahir dari keluarga kaya raya bukanlah sesuatu yang istimewa dan mencengangkan, akan tetapi mereka menyadari potensi dari pengaruh keluarga masing-masing.
Mereka tidak akan pernah kekurangan uang dalam hidup ini karena mereka masih memiliki keluarga yang tidak akan ragu memanjakan mereka.
Deon, remaja tampan pemilik suara renyah itu lalu dengan mudahnya menjawab,"Kita tidak akan kekurangan uang memang benar tapi aku tidak mau terus menerus mengandalkan Papa dan Mama bila menyangkut urusan pribadi ku. Hei, sekarang aku ikut magang di kantor Papa dan semua gaji yang kumiliki masuk ke dalam buku tabungan ku. Jika aku punya waktu luang, aku akan pergi ke toserba untuk membeli semua merk susu pisang kesukaan mu dan menabungnya di rumah. Kamu hanya boleh diizinkan meminum susu itu setelah kita-"
"Non..non Rain?!"
"Ya?" Rain tersadar dari lamunan panjangnya. Dia menatap Bibi Siti bingung."Apa Bibi baru saja mengatakan sesuatu?" Karena melamun dia jadi tidak fokus.
Bibi Siti menghela nafas panjang, dia menggelengkan kepalanya menyangkal.
"Bibi tidak mengatakan apa-apa." Dia kemudian melihat ke arah dapur."Non Rain lanjutan saja sarapannya, Bibi tidak akan mengganggu."
Rain tersenyum,"Baik, Bi."
__ADS_1
"Bibi Siti, tunggu!" Rain tiba-tiba memiliki pertanyaan.
Bibi Siti yang baru saja melangkah langsung menghentikan langkahnya dan buru-buru kembali menghampirinya Rain.
"Ya, non?"
Rain menundukkan kepalanya, menatap gelombang ringan di dalam gelas yang disebabkan oleh getaran dari kedua tangannya.
"Susu itu... apakah adikku juga pernah meminumnya?" Karena Almira juga suka susu pisang.
Mereka berdua adalah penggila minuman ini dari kecil.
Bibi Siti tanpa ragu menggelengkan kepalanya,"Tidak, non. Tuan tidak pernah mengizinkan siapapun untuk menyentuh semua minuman ini."
Setelah itu Bibi Siti pergi masuk ke dalam dapur meninggalkan Rain sendirian di ruang makan. Setelah Bibi Siti pergi, Rain kembali menyesap susu hangatnya secara perlahan, meresapi perasaan manis yang ditinggalkan cairan susu itu di atas lidah yang anehnya juga merambat ke dalam hati.
"Deon," Dia memanggil,"Sudah 5 tahun berlalu sejak hari itu tapi ternyata kamu masih membeli susu pisang yang kusukai dan memberikannya kepadaku setelah kita menikah. Bolehkah aku berharap bila kamu..." Menyesap minumannya lagi,
"Menyukaiku?"
Muncul sebuah harapan di dalam hati Rain. 5 tahun yang lalu harapan itu pupus saat mendengar kabar hubungan antara Deon dan Almira. Dia pikir Deon telah memutuskan untuk melupakannya. Akan tetapi kini 5 tahun sudah berlalu dan Deon masih memegang kata-katanya saat itu. Menabung susu pisang yang Rain sukai di rumah dan memberikannya kepada Rain setelah mereka menikah.
Deon memegang kata-katanya maka tidak bisakah Rain melambungkan harapan yang sama?
Setidaknya harapan ini bisa menyemangati dirinya agar jangan mudah menyerah. Selama ada kesempatan dia harus memanfaatkannya baik-baik.
__ADS_1
Sementara Rain tenggelam dalam rasa manis susu pisang hangatnya, Bibi Siti malah diam-diam mengamati punggung kurusnya dari belakang.
Bibi Siti bingung dengan tuannya sendiri. Deon telah memiliki kekasih tapi masih menikahi wanita lain. Di samping itu wanita yang dinikahi adalah Kakak dari kekasihnya sendiri. Bukankah ini terdengar gila?
Tidak hanya itu saja yang membuat Bibi Siti bingung dengan tuannya sendiri. Deon sudah lama memiliki kebiasaan aneh membeli produk susu pisang dan hanya menimbunnya di dalam gudang tanpa pernah meminumnya. Tidak ada seorangpun di rumah ini yang diizinkan untuk meminum susu itu bahkan Almira juga tidak luput dari larangan. Tapi aturan ini seketika tidak berlaku kepada Rain, wanita berparas cantik yang tidak lain adalah Kakak dari tunangan Deon.
Sebelum Rain datang ke rumah ini Deon secara pribadi mengingatkan Bibi Siti untuk selalu menyediakan minuman ini kepada Rain. Jujur, Bibi Siti terkejut tapi tidak berani bertanya dan hanya menyimpan keraguannya di dalam diam.
"Aku pikir tuan Deon menyukai non Rain tapi jika benar begitu lalu kenapa tuan selalu memperlakukan non Rain dengan buruk?" Gumam Bibi Siti bingung.
Dari perhatian yang majikannya berikan kepada Rain, Bibi Siti tidak akan ragu mengatakan bila majikannya itu jatuh cinta kepada Rain. Tapi dia menjadi bingung ketika melihat sikap kasar majikannya kepada Rain, sikap kasarnya itu menunjukkan seolah-olah Rain sama sekali tidak berharga.
"Tuan Deon, apa sebenarnya tujuan tuan menikahi non Rain bila hanya perlakuan kasar yang non Rain dapatkan?"
Bibi Siti tidak mengerti dan dia pun tidak berani menebak isi pikiran majikannya.
Dia hanyalah seorang pembantu dan tidak memiliki hak untuk ikut campur.
Sementara Bibi Siti masih tenggelam dengan pikirannya, Rain di meja makan sudah menyelesaikan sarapannya. Dia mengumpulkan semua piring kotor yang sejujurnya tidak terlalu banyak karena hanya dia seorang yang makan. Lalu makanan sisa yang belum habis dan sebagian belum terjamah dia bawa ke dapur untuk di simpan.
"Biarkan Bibi yang membereskannya, non." Bibi Siti bergegas mengambil barang-barang yang ada di tangan Rain.
Tapi Rain lebih dulu menangkap tangan Bibi Siti untuk mencegah.
"Bibi, jangan halangi aku. Hari ini aku harus menyelesaikan semua tugas-tugas ku agar Deon tidak marah. Lagipula tugas-tugas ini juga tidak berat jadi aku bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat." Tolak Rain menjelaskan sambil menghidupkan keran, menyiapkan sabun cuci dan mulai mencuci piring.
__ADS_1