Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 50


__ADS_3

Sila memperhatikan wajah cantik Rain yang terpantul di cermin. Dari posisi manapun dia memandang, matanya selalu berkilat cerah melihat betapa cantiknya Rain. Sejujurnya, Rain adalah wanita yang cantik tapi karena sifatnya yang penyendiri dan tidak mudah didekati membuat orang-orang tanpa sadar merasakan jarak.


"Ayo, Kak." Dia menarik tangan Rain keluar dari kamar.


Begitu keluar dari kamar mereka kebetulan bertemu dengan Deon yang sedang membaca dokumen di ruang tengah.


Deon mengangkat kepalanya acuh melihat mereka, namun saat matanya melihat ke arah Rain, kelopak matanya bergetar ringan menahan kejutan di wajahnya.


"Mau kemana?" Tanya Deon terdengar cukup kesal.


Adiknya berulah lagi, pikir Deon.


"Itu, Mas...aku dan Sila akan pergi keluar untuk makan malam." Jawab Rain berhati-hati, menatap Deon dan menunggu reaksi selanjutnya.


Deon telah menebaknya. Jadi dia melirik Sila dengan tatapan tidak puas. Tanpa bertanya pun dia sudah tahu jika ide-ide ini diciptakan oleh adiknya karena Rain tidak mungkin keluar rumah malam-malam begini apalagi sampai muncul di keramaian.


"Tidak perlu keluar rumah. Bibi sudah memasak makan malam, kalian tinggal pergi ke meja makan saja jika ingin makan." Dengan kata lain Deon tidak mengijinkannya keluar.


Rain agak kecewa karena jujur dia sangat senang bisa sedekat ini dengan Sila apalagi sampai pergi keluar bersama-sama, Rain sudah lama tidak merasakan bermain dengan teman. Tapi karena suaminya tidak mengijinkan maka dia akan patuh mendengarkan.


"Baik, Mas-"


"Aduh, Kak Deon kolot banget sih. Tujuan aku sama Kak Rain keluar itu bukan semata-mata untuk makan aja, tapi aku juga ingin memperkenalkan Kak Rain dengan teman-teman baik aku. Siapa tahukan dari temen-temen aku itu Kak Rain bisa bertemu dengan laki-laki yang baik dan pengertian." Potong Sila santai, mengabaikan ekspresi sembelit di wajah Deon.


"Maksud kamu apa, dek?" Tanyanya marah.


Sila tersenyum,"Maksud aku jelas. Aku ingin menemukan laki-laki yang baik untuk Kak Rain agar setelah bercerai dengan Kak Deon nanti dia bisa hidup bahagia dengan laki-laki it-"


"Sila, jangan bermain-main. Kakak bukanlah orang yang penyabar." Ancam Deon dingin.

__ADS_1


Kali ini Deon sangat serius dan bohong bila Sila tidak takut. Kakaknya sejak kecil tidak pernah menyulitkannya apalagi sampai berbicara dengan nada dingin seperti sekarang. Reaksinya ini aneh karena menurut Sila sejak bersama dengan Rain, Kakaknya tiba-tiba menjadi orang yang ketat dan mudah tersinggung. Apalagi jika dia mendengar Rain akan keluar dari rumah, seolah-olah Deon tidak ingin melihat Rain pergi.


"Aku gak main-main, Kak. Ini fakta'kan?" Nada Sila mulai goyah.


Dia bahkan berpura-pura memalingkan wajahnya melihat ke arah lain karena tidak tahan dengan tatapan tajam Kakaknya.


Suhu di ruangan ini tiba-tiba menjadi agak dingin. Rain ikut tegang dibuatnya tapi dia tidak enak hati melihat pasangan bersaudara itu terus berdebat karena dirinya.


"Sudahlah Sila, malam ini kita lebih baik makan saja di rumah." Ucap Rain memecahkan perang dingin.


Entah apa maksud Sila terus menerus memojokkan Deon dari sejak awal kedatangannya, Rain tidak berani menebak. Dia mungkin saja memikirkannya tapi tidak berani menebak karena jatuh itu rasanya sakit.


"Enggak, Kak. Malam ini kita harus makan diluar karena aku udah janjian sama temen-temen aku diluar." Sila bersikeras.


Setelah mengatakan itu kepada Rain, dia lalu menatap langsung ke arah mata Kakaknya sambil berkata,


"Kak Deon sudah memiliki Kak Almira, jadi kenapa masih menahan Kak Rain pergi? Jika sikap Kakak seperti ini aku dan Kak Rain akan salah paham bila Kakak sebenarnya menyukai Kak Rain." Kata Sila mencibir.


"Jangan bercanda, dek. Bagaimana mungkin Almira bisa dibandingkan dengan dirinya?"


Rain tersenyum kecut, kata-kata ini sudah cukup untuk memberitahu Rain bahwa tidak ada harapan di dalam pernikahan ini tapi dia masih keras kepala tetap tinggal karena cinta bertepuk sebelah tangannya yang memalukan.


"Oh," Sila memegang tangan Rain dan memegangnya kuat.


"Maka kami akan pergi."


Rain dibawa pergi oleh Sila tanpa menunggu reaksi dari Deon. Sepanjang jalan Rain hanya diam saja. Matanya selalu menatap ke arah jalanan tapi pikirannya sudah berkelana entah kemana.


Dia tiba-tiba merasa cukup lelah dan ingin tidur, tidak, tidur saja sepertinya tidak cukup. Daripada tidur, tubuh Rain membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya. Menenangkan batinnya yang lelah, menenangkan semua kekhawatiran dan kesepiannya.

__ADS_1


"Apa aku harus menyerah?" Bisiknya tanpa sadar dan kebetulan di dengar oleh Sila.


Sila tertegun, dia ingin mengatakan sesuatu kepada Rain, tapi semua kata-katanya tertahan. Mendesah tidak berdaya, kepalanya tertunduk tanpa daya.


Posisi Rain sudah sangat sulit ditambah juga kondisinya,


Kondisi...


Sila melirik lengan Rain yang tertutupi pakaian. Ekspresi wajahnya terlihat sangat rumit dan sendu.


"Ah, Sila?" Rain terperanjat kaget ketika merasakan sebuah lengan tipis melingkari pinggangnya.


Sila menggelengkan kepalanya tidak mau mengatakan apa-apa tapi pelukan tangannya di pinggang Rain semakin menguat. Dia terlihat seperti anak kecil yang tidak bisa bermain hujan, ingin tapi tidak bisa mengatakannya.


"Bagaimana kabar Kakak selama 5 tahun ini?"


Kabarnya?


Rain tersenyum tipis, dia membawa pandangannya menatap ke arah langit di luar sana. Gelap tanpa bintang karena mendung. Sangat cocok dengan suasana hatinya malam ini.


"Kabar ku baik, bagaimana dengan mu?"


Sila menggelengkan kepalanya lagi.


"Kak Rain jangan menyerah.... tolong jangan menyerah." Bukannya menjawab, Sila malah mengatakan kata-kata yang membingungkan.


"Sila?" Rain memanggil ragu.


Bersambung..

__ADS_1


Selanjutnya pukul 1 siang 🍃


__ADS_2