Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 46


__ADS_3

"Aku adalah istrinya sekarang dan harusnya aku menyiapkan makan malam untuknya. Tapi aku ketiduran! Bagaimana ini, Deon pasti kesal." Gumam Rain menatap dirinya di depan cermin.


Diserang rasa panik, Rain tidak membutuhkan waktu lama untuk membasuh wajah dan mengganti pakaiannya. Hanya beberapa menit saja Rain sudah berdiri di depan cermin dengan ekspresi kusut di wajahnya.


Warna pucat di wajahnya seketika disamarkan dengan lapisan bedak tipis yang tidak mencolok dan terlihat natural.


"Tapi kok rasanya ada yang salah, ya?" Entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang salah, tapi dia tidak jelas dimana yang salah.


Bingung, Rain membawa tatapannya ke sembarang arah untuk memastikan feeling-nya yang bermasalah. Awalnya dia tidak melihat sesuatu yang salah karena mulai dari penampilan hingga barang-barang di kamarnya tidak berkurang juga mengalami perubahan tata letak.


Benar-benar tidak ada yang salah.


Akan tetapi ketika bola matanya melewati lampu tidur di atas nakas, barulah dia menyadari jika sebelum tidur siang tadi dia tidak sempat menghidupkan lampu kamar.


"Aneh, lampu kamarku kok udah nyala, aja? Aku yakin sebelum tidur tadi gak nyalain lampu karena masih siang dan aku juga ingat saat bangun tadi gak sempat nyalain lampu." Monolog Rain bingung karena lampu kamarnya sudah menyala sejak dia bangun tadi.


"Astaga, pintu kamarku!" Rain mendekati pintu kamarnya dan menarik gagang pintu dengan perasaan antisipasi.


Melihat pintu kamarnya benar-benar tidak terkunci, keningnya secara alami mengkerut bingung.


"Aku yakin tadi siang sempat menguncinya." Gumam Rain berbicara dengan dirinya sendiri.


Setelah memastikan pintu tidak terkunci, Rain menyingkirkan tangannya dari gagang pintu dengan pose berpikir keras.


"Setelah bangun lampu kamarku sudah menyala dan pintu kamarku juga tidak terkunci. Artinya saat aku tidur tadi ada orang yang masuk ke dalam kamarku, tapi siapa? Apa orang yang masuk adalah Bibi Siti?" Rain entah mengapa meragukan tebakannya ini tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk meragukannya karena Bibi Siti adalah pengurus rumah ini.


"Ya, ini pasti Bibi Siti. Rumah ini kan diurus sama Bibi Siti jadi otomatis semua kunci kamar di rumah ini dipegang oleh Bibi Siti." Ini masuk akal.


Lalu bagaimana dengan Deon?


Rain buru-buru mengenyahkan pikiran ini dari kepalanya.


"Astaga, bagaimana mungkin Deon masuk ke dalam kamarku?"


Menggelengkan kepalanya geli, suasana tegang hatinya tanpa sadar menjadi lebih santai. Jujur dia takut sebenarnya. Muncul tebakan samar di dalam hatinya bila Deon memintanya ke ruang tengah untuk membicarakan mengenai pertemuannya dengan Mama mertua di rumah sakit tadi siang. Ini bukan tanpa alasan karena suaminya itu sangat sensitif mengenai Almira.


Almira... wanita yang seharusnya berdiri di posisi yang Rain tempati saat ini.


"Aku lagi-lagi berpikir jauh!" Rutuk nya pada diri sendiri.

__ADS_1


Untuk yang kesekian kalinya dia menggelengkan kepala, menata suasana hati kembali dan memperbaiki senyum di wajah lalu keluar dari kamar untuk menemui Deon. Dia melangkah ringan menuju ruang tengah yang berhadapan langsung dengan kamarnya.


Di ruang tengah, Rain bisa melihat punggung suaminya yang kini tengah duduk melihat laporan keuangan perusahaan dari layar laptop di atas meja.


"Deon?" Rain memanggil dengan suara kecil takut mengganggu pekerjaan Deon.


Deon menoleh ke samping, melihat sikap canggung Rain berdiri di dekat sofa dengan kedua mata mengelak. Anehnya, Deon merasa jika sikap Rain saat ini terlihat aneh. Rain terkesan menghindari mata Deon, padahal tadi pagi sikap Rain tidak seperti ini.


"Duduklah." Perintah Deon tanpa sadar melunakkan nada suaranya.


Rain dengan patuh mendudukkan dirinya di atas sofa yang agak jauh dari Deon. Takutnya, Deon akan memarahinya lagi.


Canggung, Rain meremat kain bajunya gelisah. Sejak duduk di sofa, Deon selalu memperhatikannya sehingga membuat Rain menjadi salah tingkah sekaligus gelisah dengan berbagai macam pikiran liar di dalam kepalanya.


Rain tidak berani berbicara maka Deon lebih-lebih tidak ingin berbicara. Deon menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan santai, kaki kanan terangkat menyilang sedangkan tangan kirinya bertumpu di sandaran sofa untuk menahan beban kepalanya.


Deon tampak bermalas-malasan tapi kedua mata almond nya tanpa jeda memandangi Rain. Dia menilai bila Rain menggunakan bedak tipis di wajahnya, tampak natural tapi di mata Deon tidak. Lalu bibir ranum Rain hari ini memiliki warna yang terlalu merah, Deon tahu Rain mengaplikasikan lipstik di bibirnya.


Berdandan,


"Kamu bukanlah orang yang suka berdandan." Deon berkata tanpa niat apapun tapi masih membuat Rain tegang.


Bagi Deon, Rain saat ini seperti orang yang tidak menyukai keramaian ataupun berkomunikasi dengan orang luar. Tapi kenapa?


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"


Rain menundukkan kepalanya tidak berani menatap Deon.


Kesal dengan sikap Rain, Deon tidak lagi memiliki sikap santai di depan Rain. Nada suaranya kembali acuh tak acuh, penuh keterasingan yang biasa Rain dengar dari orang-orang di rumah.


"Baiklah, karena kamu memutuskan untuk bermain bodoh denganku maka aku tidak keberatan untuk bermain bodoh pula denganmu."


Meluruskan punggungnya,"Mama bilang hari ini kamu pergi ke rumah sakit dan pergi ke kamar Almira, apakah ini benar?"


Rain menutup matanya sedih.


"Mama mertua salah paham-"


"Mama mertua?" Deon memotongnya heran.

__ADS_1


Keheranan Deon membuat Rain tercekik.


"Tan-Tante salah paham." Ulang Rain dengan perasaan melankolis,"Aku memang pergi ke rumah sakit tapi bukan untuk menemui Almira. Temanku.. sedang sakit jadi aku datang menjenguknya." Kebohongan yang sama.


Teman?


Deon mengernyit tidak senang, setahunya Rain tidak memiliki teman karena dia lebih banyak mengurung diri di rumah daripada berinteraksi di luar rumah.


Tapi,


Apa mungkin teman yang Rain maksud adalah seniornya? Batin Deon masam.


"Kamu bertemu dengan senior itu lagi?" Tuduh Deon jelas menahan marah.


Senior, Bimo?


Begitu memikirkan Bimo, Rain langsung menggelengkan kepalanya membantah. Bagaimana mungkin Bimo, sedangkan kedatangannya sendu ke rumah sakit untuk donor darah saja.


"Bukan, aku gak ke rumah sakit untuk bertemu dengan Kak Bimo."


Sejak semalam Bimo belum pernah menghubunginya lagi.


Deon mencibir,"Memangnya kamu punya teman selain senior itu?" Ada nada kebencian di sana.


Cibiran Deon tepat menyentuh hati terdalam Rain.


Dia memang tidak memiliki teman, satupun tidak ada.


"Aku punya beberapa." Bohong Rain menguatkan hatinya.


"Humph," Deon mendengus tidak senang.


Karena Rain terus menerus berbohong, suasana hati Deon semakin memburuk. Dia menyandarkan punggungnya di sofa enggan berbicara. Kedua matanya menatap langit-langit ruang tengah yang sesungguhnya tidak memiliki daya tarik.


Matanya memang menatap ke sana tapi pikirannya sudah berkelana menjelajahi kenangan 5 tahun yang lalu.


Bahkan sampai hari inipun kamu masih bersikap kejam. Tidak hanya mengisolasi diri dari semua orang tapi kamu juga mengisolasi diri dariku. Kamu menjauh dan menghilang tanpa kabar, Rain...terbuat dari apa hatimu sebenarnya? Batin Deon tidak habis pikir.


Bersambung...

__ADS_1


Assalamualaikum semuanya, maaf baru up hari ini. Saya baru up sekarang murni karena ada masalah di rumah. Mood untuk menulis terganggu dan hari inipun saya paksakan untuk menulis. Tapi in sya Allah besok up kembali dari pukul 1 dini hari, sama seperti biasanya. Terima kasih 🍃.


__ADS_2