Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 8


__ADS_3

"Sudahlah, jangan perpanjang masalah ini lagi." Papa menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, memijat kepalanya yang terasa tidak nyaman.


"Sekarang hal yang harus kita pikirkan adalah apakah Deon mau bertanggungjawab atau tidak. Entah disengaja atau tidak sengaja, kesalahan ini sudah terjadi dan Deon harus menikahi Rain." Sambung Papa membuat semua orang sontak menolak tidak setuju.


"Papa gimana, sih? Jika Deon menikah dengan Rain, lalu bagaimana dengan nasib Almira? Apakah Papa tidak kasihan kepada, Almira!" Mama langsung protes.


"Benar, Kak. Aku juga tidak setuju Deon menikah dengan Rain karena dari sejak awal orang yang Deon cintai adalah Almira! Dia bahkan rela bertahan sampai sekarang meskipun Almira memiliki penyakit yang mematikan. Di samping itu Kakak juga harus memikirkan bagaimana nasib Almira nanti setelah mendengar kabar buruk itu? Tidakkah dia akan sangat terluka dan membenci kita semua?" Bibi Lara menekan Papa agar tidak melakukan ide gila itu.


Ia sungguh tidak bisa membayangkan keponakan tersayangnya patah hati karena kejahatan yang Rain ciptakan. Itu sungguh tidak adil untuk keponakannya.


"Aku tahu, aku tahu. Tapi bagaimana jika Deon mau bertanggungjawab?" Inilah yang Papa pikirkan saat ini.


"Yakinlah, Deon tidak akan mau bertanggungjawab karena 'kecelakaan' ini bukanlah keinginannya. Selain itu Rain juga tidak akan bisa hamil sehingga pernikahan tidak seharusnya terjadi. Kakak juga tahu sendiri kan jika keluarga Deon adalah keluarga konglomerat, mereka tidak akan mungkin menikahkan Deon dengan Rain." Bibi Mei mengatakan semuanya dengan mudah dan gamblang, berbicara seakan-akan Rain tidak ada di antara mereka.


"Mei benar, Pa. Keluarga Deon mungkin akan menolak pernikahan ini setelah mempertimbangkan situasi Rain. Mereka pasti tidak mau menikahkan pewaris mereka dengan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan."

__ADS_1


Papa mendesah berat. Mata tuanya yang masih segar dan tajam beralih melihat wajah tertunduk Rain yang diam membisu tidak mengatakan apa-apa.


"Baiklah, kita akan menunggu kabar dari keluarga Deon. Bila mereka ingin Deon bertanggungjawab, maka mereka akan menghubungi kita dan bila Deon tidak ingin bertanggungjawab, maka masalah ini cukup sampai di sini saja." Ujar Papa tidak punya solusi selain menunggu sikap dari pihak keluarga Deon.


Jujur, sebagai seorang Ayah, dia sangat berat membuat keputusan. Di satu sisi ia tahu putri pertamanya pasti sangat tertekan dengan masalah ini jika tidak mendapatkan keadilan namun di sisi lain, ia tidak bisa menyakiti putri keduanya karena Almira adalah tunangan sah Deon.


"Rain, masuklah ke dalam kamar mu. Mulai hari ini kamu tidak diizinkan keluar dari rumah ini sampai satu minggu ke depan, apa kamu mengerti?" Perintah Papa membuat keputusan.


Rain dengan patuh menganggukkan kepalanya. Berdiri, ia lalu pergi ke lantai dua setelah mengatakan pamit kepada mereka semua.


"Tuhan, tolong katakan apa yang aku harus lakukan sekarang untuk menghilangkan semua rasa sakit ini?" Gumamnya mulai terisak menangis.


...🍃🍃🍃...


Sudah satu minggu berlalu dan Rain belum mendapatkan kabar apapun dari keluarga Deon. Papanya bilang Deon menolak berkomentar tentang 'kecelakaan' malam itu dan masih aktif datang ke rumah sakit menemani Almira.

__ADS_1


Bersikap seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi.


Rain tidak terkejut karena ia sudah menduga hasil ini. Lagipula, itu hanya malam panas sesaat yang tidak berarti apa-apa sehingga Rain tidak seharusnya menganggap masalah ini terlalu serius.


Benar, seolah-olah ia akan hamil saja. Ini adalah lelucon yang sangat menggelitik.


"Papa," Panggil Rain canggung begitu turun dari kamarnya.


"Rain boleh keluar rumah gak, Pa?" Tanya Rain tidak berani menatap kedua mata Papa.


"Mau kemana, Nak?" Tanya Papa lembut sudah tidak semarah satu minggu yang lalu.


Rain menjawab malu,"Mau ke suatu tempat, Pa." Jawab Rain tidak ingin memberitahu.


"Rain ingin kemana? Mama gak akan izinin kalau pergi ke rumah sakit." Suara Mama tiba-tiba muncul dengan nampan sarapan Papa di tangan.

__ADS_1


"Rain gak akan pergi ke rumah sakit kok, Ma." Ia tahu Mama masih belum mempercayainya.


__ADS_2