
Rain tidak punya banyak tempat tujuan. Dia hanya membawa langkah kakinya memasuki pusat perbelanjaan terdekat. Jujur, dia bukanlah tipe perempuan yang suka menghabiskan waktu dengan berbelanja. Daripada datang berbelanja, ia justru malah masuk ke dalam wilayah permainan anak-anak.
Duduk di kursi santai dengan kedua mata berbinar yang tidak pernah lepas dari tawa ceria anak-anak. Dia menyukai anak-anak karena tawa dan tangisan mereka adalah sebuah kejujuran tanpa dibuat-buat. Mereka juga memiliki hati yang lembut dan belum ternoda oleh keserakahan dunia.
"Rain?"
Rain sontak menoleh ke sampingnya.
"Kak Bimo?" Rain buru-buru berdiri ketika melihat Bimo, laki-laki tinggi nan tampan dengan lesung pipi di wajahnya itu adalah mantan seniornya di kampus.
Mereka memang tidak dekat tapi bukan berarti tidak akrab.
"Hei, sudah lama tidak bertemu." Bimo dengan santainya menepuk pundak Rain ringan.
Rain tersenyum malu,"Iya Kak, bagaimana kabar Kakak sekarang?"
Mereka berdua duduk bersama sambil mengobrol ringan.
"Syukurnya aku baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan dirimu?" Tanya Bimo basa-basi, padahal ia telah menyadari dari awal bertemu tadi jika Rain sedang memiliki masalah.
Rein tersenyum tipis,"Aku juga baik-baik saja, Kak." Jawabnya berbohong.
__ADS_1
Bimo mengerti Rain tidak mungkin mengungkit masalah pribadinya kepada orang asing. Rain butuh sesuatu yang bisa membuat hatinya merasa lebih baik pikir Bimo.
"Mau bermain trampolin?" Tawar Bimo dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Aku tidak berani." Kata Rain malu.
Bimo menjangkau tangan Rain tanpa malu ataupun perasaan canggung, seolah-olah mereka sudah sering bertemu.
"Apa yang kamu takutkan? Jatuh di atas trampolin tidak akan membuatmu terluka. Ayo, ikuti aku!" Ajak Bimo seraya menarik Rain mengikuti langkahnya menuju tempat trampolin.
Mereka terlebih dulu mengurus biaya administrasi sebelum bisa naik ke atas trampolin.
Awalnya Rain malu-malu bergerak bebas seperti yang lain tapi Bimo sangat jahil, ia menarik Rain loncat bersamanya sehingga mau tidak mau ia pun ikut bergerak.
Hah,
Sudah lama sekali ia tidak pernah merasakan perasaan bebas ini. Perasaan dimana ia tidak pernah diawasi oleh mata-mata penuh kecurigaan ataupun kasihan dari keluarganya.
Ia bebas, bebas tertawa ataupun berteriak sesuka hati dan tidak ada yang merasa terganggu.
Yah, keputusannya datang ke tempat ini memang bagus.
__ADS_1
"Kamu capek, enggak?"
"Capek, tapi cuma sedikit, Kak." Rain tersenyum canggung.
"Mau beli es krim?" Tawar Bimo setelah menurunkan tangannya.
Biasanya perempuan tidak akan menolak karena es krim bisa dikatakan sebagai salah satu makanan favorit kaum perempuan.
"Es krim?" Rain suka tapi bila pergi bersama Bimo, rasanya cukup canggung.
"Ya, aku tahu tempat yang menjual es krim terlezat di mall ini." Bimo berbicara dengan antusias.
Melihat tatapan penuh harap Bimo, ia tidak kuasa menolaknya. Lagipula Bimo orangnya baik dan ramah, di kampus dulu Bimo suka membantunya ketika mengalami banyak kesulitan.
"Boleh Kak, tapi beneran yah rasanya enak?" Kata Rain bercanda.
Bimo lega rasanya, dia tidak bisa menahan senyum berlesung di wajahnya yang tampan.
"Jamin deh, rasanya pasti enak banget. Kamu gak akan rugi beli es krim di sana dan malah mungkin akan ketagihan."
Mereka lalu pergi ke tempat es krim yang Bimo maksud. Tempat es krim itu ada di lantai empat mall, dan mereka harus naik eskalator selama tiga kali agar bisa sampai ke tempat itu.
__ADS_1
"Mau ikut ke toko boneka, enggak?" Mereka sudah keluar dari toko es krim.