
Kepala Deon tiba-tiba berdengung menyakitkan. Seperti ada ribuan jarum jarum tak kasat mata yang menusuknya tanpa ampun, rasanya sangat menyakitkan. Keringat dingin nan tipis kemudian terbentuk di keningnya seolah menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
Kepalanya kesakitan, kemudian disusul oleh rasa sesak di dadanya yang sangat tidak tertahankan. Sejenak, Deon tidak tahu bagaimana caranya memasok udara ke dalam tubuhnya yang mulai kehilangan kendali. Perasaan ini sangat menyiksa, terakhir kali dia merasakannya adalah semalam ketika dia melihat liontin Rain.
"Tidak apa-apa bolos sehari saja..." Itu adalah suaranya sendiri, bergema kuat di dalam kepalanya dengan kilasan ingatan asing namun singkat.
"Aku takut... mereka lebih dari satu orang dan badan mereka juga lebih besar darimu... Deon, apa yang mereka inginkan dari kita?" Tidak, jangan menangis. Deon anehnya ingin mengatakan itu tapi bibirnya seolah terkunci menahan hujan pesakitan di dalam kepala maupun dadanya.
Sakit,
Ini bukan luka fisik tapi lebih ke hatinya. Entah mengapa dia merasa dadanya sangat perih saat mendengarkan suara tangisan ini... tangisan ini terdengar seperti milik Rain?
Rain, kenapa kamu menangis?
"Darah...darah... Rain, mengapa kamu melakukan ini kepadaku?"
"Kak Deon?" Sebuah tepukan ringan segera menarik Deon dari pikirannya.
Dia langsung tersadar, keningnya telah berkeringat deras dan sorot matanya pun terlihat sedikit linglung. Semua rasa sakit yang dia rasakan tadi seperti ilusi baginya, tidak meninggalkan jejak apapun kecuali rasa perih dihatinya.
Hatinya tanpa bisa dijelaskan menjadi sakit. Pedihnya, sesak ini membuatnya ingin menangis, memeluk kuat seseorang yang telah membuatnya kesakitan sedemikian rupa dan tidak melepasnya-
"Hem... Deon..." Igau Rain tidak nyaman.
Deon memeluknya terlalu erat sehingga dia kesulitan bernafas di dalam tidurnya.
Deon sangat segera menatap Rain, sebuah kejutan melintas di dalam matanya. Lalu muncul sebuah pertanyaan, mengapa dirinya selalu mengingat hal yang aneh-aneh dan menyakitkan setiap kali bersama dengan Rain?
Ingatan itu... selalu dirangsang oleh Rain, oleh orang yang sama. Lalu apa artinya ini, apakah dia memiliki ingatan yang berhubungan dengan Rain tapi tanpa bisa dijelaskan ingatan itu tidak bisa dibaca oleh memorinya?
Benarkah?
Apa karena kecelakaan hari itu aku melupakan ingatan ini? Tapi jika benar begitu, lalu kenapa tidak ada yang memberitahuku mengenai masalah ini? Batin Deon mulai tersesat kembali ke dalam pikirannya.
Bahkan sekarang dia mencoba mencari-cari kembali ingatan tadi di dalam kepalanya, tapi sama seperti rasa sakit sebelumnya, ingatan tadi juga seolah hanyalah sebuah ilusi untuk Deon.
Dia tidak bisa mengingatnya kembali.
"Kak Deon kenapa, sih? Dari tadi aku panggil kok gak jawab jawab." Sila mengeluh karena Deon sedari tadi melamun dan mengabaikan keberadaannya.
__ADS_1
"Oh," Deon melirik Sila,"Bukan apa-apa." Katanya acuh tak acuh sembari melanjutkan langkahnya.
Begitu masuk ke dalam mobil, Deon menjadi aneh lagi. Tidak, sejujurnya Deon selama ini selalu tidak banyak bicara tapi bukan berarti dia tidak akan berbicara. Seperti sekarang di dalam mobil Deon hanya diam membisu tanpa mengatakan sepatah katapun.
Sejak masuk ke mobil Deon tidak hanya tidak melepaskan Rain tapi dia juga meminta Sila untuk menyetir. Sedangkan dia sendiri masih memeluk Rain enggan untuk melepaskan. Bahkan sepanjang jalan pulang Deon sebagian besar menghabiskan waktunya untuk menatap Rain, memperhatikan wajah pucat Rain yang kini tengah tertidur pulas di dalam pelukannya.
Rasanya hangat, seperti malam itu. Seperti malam menggairahkan yang mereka berdua lewati, atau katakan saja kecelakaan yang mengawali semua hubungan mereka saat ini.
"Rain," Bisiknya hampir tidak terdengar.
Ibu jari tangan kanannya dengan lembut mengusap wajah pucat, bergerak ringan menelusuri setiap inci wajah Rain yang masih terjebak dalam tidur pulas nya.
"Aku melihatmu sedang menangis, apakah itu hanya ilusi ku saja?"
...🍃🍃🍃...
Deon tidak bisa tidur. Kedua matanya sulit sekali terpejam semenjak dia melihat ingatan aneh itu di kepalanya. Seingatnya Rain tidak pernah menangis saat bersamanya dulu tapi kenapa di dalam ingatan aneh itu, Rain tidak hanya menangis tapi dia juga terlihat sangat kesakitan?
"Apa aku melupakan sesuatu?" Gumamnya masih terjebak di dalam kebingungan.
Malam ini dia uring-uringan memikirkan ingatan itu, dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa karena dia tidak yakin orang-orang di sekelilingnya mengetahui tentang kilasan ingatan itu. Karena jika memang itu adalah ingatannya yang hilang maka mengapa semua orang tidak mengatakan apa-apa ?
Dert
Dert
Dert
Ponselnya yang ada di atas meja bergetar. Deon awalnya tidak terlalu perduli, dia hanya meliriknya singkat lalu memalingkan wajahnya kembali. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali menatap layar ponselnya yang menampilkan id penelepon.
Almira.
Ini adalah nama tunangannya sekaligus nama calon istrinya.
Istri, yah... Almira lambat laun akan menjadi istrinya.
"Hallo?" Deon mengambil ponselnya dan mengklik ikon telpon berwarna hijau untuk menjawab.
"Sayang, apa kamu sudah tidur?" Suara lembut Almira segera menenangkan saraf tegangnya.
__ADS_1
Deon menghela nafas panjang, menyandarkan punggungnya di atas sofa.
"Tidak, tapi aku akan." Rasanya aneh pikir Deon.
Suara Almira melemah,"Lalu apa aku mengganggumu?" Padahal dia ingin berbicara dengan Deon.
Deon tidak langsung menjawab. Entah apa yang dia pikirkan saat ini karena matanya kini mulai terpaku menatap ke arah pintu kamar tamu yang berada tepat di seberang ruang tengah.
"Sayang?" Panggil Almira hati-hati.
"Hem, kamu tidak mengganggu ku." Suara Deon tenang.
Almira menghela nafas panjang. Dia lega bisa menghubungi Deon di waktu yang sangat tepat. Karena dengan begitu mereka bisa membicarakan banyak hal. Karena hei, rasanya sangat membosankan terbaring dengan berbagai macam alat medis di rumah sakit.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali makan, minum obat, dan beristirahat!
Dia ingin segera bebas.
"Aneh, tapi kenapa aku merasa jika suasana hatimu sedang buruk?" Bingung Almira.
"Apa kantor baik-baik saja?" Biasanya suasana hati Deon akan terganggu jika sedang memikirkan urusan kantor.
"Tidak," Deon menyangkal,"Kantor baik-baik saja."
Kantor baik-baik saja untuk saat ini karena semua masih berada di dalam kendalinya. Bukannya memburuk malah kantor berjalan dengan sangat baik karena proyek-proyek besar berjalan lancar.
"Jadi, apa yang membuat mu kesal?"
Deon lagi-lagi terdiam. Keheningannya ini membuat Almira di seberang sana sangat tersiksa karena dia mengkhawatirkan kekasihnya itu. Dia ingin Deon berbagi suka dan duka bersama karena biar bagaimanapun mereka akan segera menikah, menghabiskan banyak waktu secara bersama-sama.
"Deon, apa kamu baik-baik saja?" Almira memanggil dengan cemas.
Deon masih belum menjawab namun sorot matanya tidak lagi melihat pintu kamar tamu yang Rain dan Sila tempati. Untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan hati Deon kembali terasa sakit.
Kenapa?
"Almira, saat kamu menyelamatkan aku 5 tahun yang lalu, apakah kamu pernah melihat salah satu tersangka memukul kepalaku?"
Bersambung
__ADS_1