
Haus, aku meraba tenggorokanku yang terasa tidak nyaman. Seret rasanya setiap kali aku menelan air ludahku.
Aku kemudian meraba-raba meja nakas di samping tempat tidur. Beberapa detik kemudian pencarian ku berhenti karena baru tersadar bila ini bukanlah kamarku.
Aku sekarang sudah menikah dan tinggal di apartemen Deon.
Mendes*h panjang, aku masih tidak terbiasa dengan status baruku. Tidak apa-apa, lagipula ini baru sehari dan aku terbiasa seiring waktu berjalan.
"Aku akan mengambil air minum di dapur." Aku perlahan turun dari kasur dan dengan hati-hati membuka pintu kamar.
Di luar cukup gelap. Semua lampu di rumah ini dimatikan. Kecuali sinar lampu di halaman yang masuk dari jendela, rumah ini tidak memiliki sumber pencahayaan lain.
Aku melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan apakah ada orang di sini. Tapi nihil, Deon dan Bibi Siti sudah tidur di kamar masing-masing. Aku lega dan buru-buru membawa langkah ku berlari kecil menuju dapur.
Kupikir tidak ada seorangpun di sini sampai akhirnya aku tersandung jatuh membentur meja setelah tidak sengaja menabrak kaki seseorang.
Brak
Kakiku tersandung dan mengenai sudut meja sebelum akhirnya terjatuh ke lantai. Untung saja ada sofa di sisiku sehingga lutut ku tidak langsung membentur lantai.
"Akh...sakit.." Ringis ku kesakitan.
Aku memegang pergelangan kakiku yang berdenyut perih. Mungkin keseleo karena kakiku mulai membengkak.
"Dimana yang sakit?"
Deg
Tubuhku spontan menegang. Bidang penglihatan ku tiba-tiba dipenuhi oleh badan besar Deon. Bahu lebarnya yang kokoh segera menghalangi cahaya dari lampu taman yang sempat ku jadikan sebagai sumber pencahayaan ku.
"Aku...Deon?" Belum selesai keterkejutan ku, lengan kuatnya tiba-tiba melingkari punggung dan kaki ku.
Tubuhnya sangat dekat denganku. Dari posisi ini aku bisa merasakan hembusan nafas hangatnya yang memiliki wangi daun mint, sangat segar. Dadanya yang bidang bersentuhan langsung dengan lengan kanan-
"Apa...apa yang sedang kamu lakukan?" Aku panik. Tanganku spontan bergerak memeluk leher Deon untuk berpegangan.
Tapi Deon hanya diam membisu tanpa berkata. Dalam gelap dia membawaku berjalan menjauh dari meja dan mendudukkan ku di atas sofa yang masih memiliki suhu hangat dari tubuhnya.
Tunggu,
Apa Deon tidur di luar?
__ADS_1
Mengapa?
Click
Ruang tengah langsung bersinar terang. Aku sontak menutup mataku karena silau.
"Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam begini di luar?" Deon bertanya kepada ku.
Mungkin karena baru bangun tidur nada suaranya tidak terlalu tajam.
"Aku haus dan ingin mengambil air minum di dapur. Tapi..aku tidak melihat kakimu jadi aku menabraknya. Maaf, apakah kakimu sakit?" Aku tidak tahu Deon tidur di sini dan tidak sengaja menabrak kakinya.
Em, salahkan Deon yang tidur di sembarang tempat- ops, beraninya aku. Mana tahan aku melihat wajah beku Deon.
"Aku ini laki-laki, bagaimana bisa sakit?" Dia lalu berdiri,"Tunggu di sini." Dan pergi ke arah dapur.
Apa yang dia lakukan di sana?
Beberapa detik kemudian dia kembali dengan kotak P3K dan segelas air putih. Jantungku segera berdegup kencang melihatnya- tidak, ini lebih kencang dari saat aku digendong olehnya tadi.
"Minumlah." Sambil memberikan ku gelas itu.
Aku langsung meraihnya,"Terima kasih dan maaf menyusahkan mu." Kataku tidak enak hati.
"Astaga, Deon. Kamu tidak perlu melakukan ini." Aku buru-buru menarik kakiku namun dia langsung mencengkeramnya.
"Akh...sakit Deon.." Ringis ku.
"Jika kamu tahu sakit maka diam lah dan jangan banyak bicara!"
Aku menganggukkan kepalaku canggung. Jujur, aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi kakiku yang keseleo. Mungkin bila hanya luka gores di lutut masih bisa ku tangani dengan kotak P3K tapi tidak dengan keseleo.
En, aku berterima kasih karena Deon mau menolongku. Padahal akulah yang salah dan mengganggu tidurnya.
Deon... sebenarnya orang yang baik. Akulah yang jahat.
Intinya akulah yang jahat.
Dalam diam aku memperhatikannya mengolesi goresan di atas lutut ku dengan alkohol dan obat merah. Setelah itu dia memegang kakiku yang bengkak.
Suhu hangat dari telapak tangan Deon merasuki kulit kakiku. Aku tanpa sadar tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan memijat kakimu dan rasanya mungkin akan sangat sakit. Jika kamu berteriak maka berteriak lah, kamu tidak perlu menahan diri."
Aku menganggukkan kepalaku mengerti. Deon...dia selalu seperti ini. Dia tidak pernah berubah sebenarnya. Akulah yang berubah. Akulah yang membuatnya kecewa.
Aku menyesal tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena semuanya sudah tidak ada artinya lagi.
Dia memperlakukan aku dengan hati-hati. Aku bisa merasakannya bila Deon sangat lembut terhadap kakiku yang bengkak. Dia seperti mencoba untuk tidak merangsang rasa sakit kakiku.
"5 tahun yang lalu,"
Deg
Tubuhku langsung menegang.
"Kamu menghilang tanpa kabar selama 7 bulan."
Itu adalah luka masa lalu yang tidak ingin ku ingat dalam hidup ini.
"Aku tinggal di rumah Kakek dan Nenek." Ucapku setenang mungkin.
Topik ini terakhir kali Deon tanyakan 5 tahun yang lalu dimana semua ini berawal.
"Hah," Dia terlihat suram,"Aku tidak bertanya." Sambungnya terdengar jengkel.
Aku mengatupkan mulutku tidak berbicara lagi. Dia dalam suasana hati yang suram jadi lebih baik aku tidak usah banyak bicara.
Sunyi.
Tidak ada yang berbicara di antara kami berdua. Bila Deon fokus memijat kakiku yang keseleo maka aku sibuk memanjakan kedua mataku melihat wajahnya yang tampan. Dia selalu memiliki pesona tersendiri. Tertawa atau tidak, santai atau tidak, tersenyum atau tidak, Deon selalu memiliki pesonanya.
Aku suka semuanya, semua tentang Deon pasti akan kusukai. Namun, di antara semua itu aku paling menyukai Deon yang sedang bahagia dan tertawa lepas.
Aku paling suka bagian itu dan berharap dapat melihatnya kembali dalam hidup ini.
"Bagaimana?" Dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan langsung bertatapan denganku.
Aku gelagapan, spontan mengalihkan mataku melihat ke arah lain.
"Kakiku baik-baik saja." Kataku gugup.
__ADS_1
"Hem." Deon menurunkan kakiku ke lantai.