Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 23


__ADS_3

"Lalu...kita akan kemana?" Tanyaku murni karena rasa penasaran.


Deon berdecak tidak senang di sampingku. Dia menggeser tubuhnya agak menjauh dariku sebelum menutup kedua matanya untuk melanjutkan tidur.


Aku sangat malu karena telah mengganggu waktu istirahatnya. Dia pasti kelelahan seharian ini di rumahku karena banyak berbicara dengan keluargaku.


Ya Tuhan, aku sangat mengganggu!


Aku seharusnya bisa melihat situasi sebelum berbicara agar tidak membuatnya kesal.


"Maaf, aku mengganggumu." Kataku memohon maaf.


Dia tidak mengatakan apa-apa. Kedua matanya masih terpejam dengan damai seolah-olah dia telah jatuh tertidur. Melepas nafas lega, aku menyandarkan diriku di kursi sambil sesekali memperhatikan wajah terlelap Deon di sampingku. Ketegangan di tubuhku setidaknya berkurang sedikit pikirku karena Deon sudah jatuh tertidur. Ketika dia tertidur, wajah tampannya terlihat mudah didekati tanpa ada rasa jarak seperti sebelumnya. Haah, seandainya Deon sama seperti 5 tahun yang lalu maka mungkin pernikahan ini tidak terlalu dingin. Tapi sayangnya ini hanya angan-angan saja karena Deon sudah berubah menjadi Deon yang lain, dia adalah milik adikku seorang.


"Lho," Aku menatap jalan diluar dengan heran."Seingat ku kami sudah melewati jalan ini tadi."


Aku yakin telah melihat bangunan-bangunan ini tadi saat melihat keluar. Tapi, supir Deon tidak mungkin membawa kami berputar-putar kan karena Deon pasti langsung menyadari. Jadi, mungkin saja ini hanya perasaan ku saja.


Tapi...aku ragu. Apakah sebaiknya aku bertanya saja?


"Pak, aku pikir kita sudah melewati jalan ini sebelumnya." Kataku sambil merendahkan suaraku agar tidak mengganggu waktu istirahat Deon.


Supir Deon melihat ku dari kaca spion atas, dia terlihat tidak benar dan sedikit aneh.


"Pak-" Aku ingin bertanya lagi tapi kata-kata ku segera terhenti ketika merasakan sebuah beban berat melingkupi pundak ku.


Tubuhku langsung menegang. Gugup, aku tidak berani menggerakkan badanku sedikit saja dan bahkan aku tidak memiliki keberanian besar untuk melihat Deon, sang pelaku yang telah membuatku dilanda perasaan tegang dan gugup di waktu yang bersamaan!


Beberapa menit menunggu, Deon tidak membuat gerakan tambahan lagi. Dia tertidur pulas di atas pundak ku. Rambut hitam legamnya menyentuh daguku, meninggalkan sensasi geli.

__ADS_1


Rambut ini pernah ku sentuh sekuat mungkin untuk melampiaskan perasaan sakit juga euforia menyenangkan yang kudapatkan di malam itu. Saat itu aku sangat putus asa karena malam itu adalah malam yang sangat berharga untukku.


Setelah bertahun-tahun mencintainya dalam diam, aku akhirnya diberikan kesempatan untuk menghabiskan malam bersamanya walaupun awalnya aku sangat munafik sempat menolak.


Aku kehilangan akal karena bahagia. Kupikir Deon mengenaliku saat melakukannya karena dia sempat memanggil namaku. Tapi semuanya seketika sirna ketika melihat wajah penolakan Deon di pagi hari.


Dia jelas tidak menyetujui malam 'kecelakaan' itu dan sempat menghilang selama satu minggu mungkin karena tidak ingin bertanggungjawab. Tapi pada akhirnya dia tetap datang untuk bertanggungjawab walaupun hanya sekedar nikah siri, tapi...aku bersyukur dia masih mau bertanggungjawab.


Memikirkan masalah ini, hatiku rasanya seolah diremas-remas.


Bohong bila aku mengatakan bahwa aku sangat puas dengan pernikahan ini, dan bolong bila aku mengatakan tidak puas dengan pernikahan ini.


Bingung bukan?


Aku juga. Aku bertanya-tanya sampai kapan aku bertahan dengan pernikahan ini- oh, lebih tepatnya sampai kapan Deon bertahan dengan pernikahan ini. Pernikahan yang sama sekali tidak pernah Deon harapkan akan terjadi.


Tentu saja, pengantin yang dia harapkan pasti Almira dan bukan diriku. Dia kecewa, aku tahu.


Ya, aku dan dia menikah dengan perasaan cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Parahnya lagi aku adalah Kakak dari wanita yang paling dia cintai. Menikah denganku pasti membuatnya merasa tidak adil.


"Deon," Panggilku sambil mendorong bahunya menjauh.


Aku senang dia bersandar di pundak ku tapi aku tidak mau Deon salah paham dan berpikir bila aku sengaja memanfaatkan situasi untuk menempeli nya.


"Maaf, aku akan menggeser-"


"Apakah kamu tidak bisa diam sebentar saja? Dasar cerewet!" Tukasnya kesal sambil memperbaiki posisi kepalanya di pundak ku.


Aku segera menutup mulutku dan membiarkan Deon melakukan apapun yang diinginkannya. Karena kepalanya tidak bisa diam, aku harus mendongakkan kepalaku menunggunya berhenti bergerak. Samping akhirnya aku merasakan gesekan rambut di dalam perpotongan leher ku. Rasanya geli jadi aku spontan menggeser badanku. Tapi Deon tidak senang aku bergerak menjauh lagi. Dia meremas pinggangku kasar sehingga aku tidak bisa bergerak lagi.

__ADS_1


"His.." Aku menutup mataku sambil meringis kesakitan.


Tanganku yang lain meraba-raba bagian pinggangku yang diremas oleh Deon. Rasanya masih sakit tapi tidak setajam tadi. Tersenyum tipis, aku tidak berani bergerak ceroboh lagi agar Deon tidak marah.


Aku memutuskan memejamkan mataku dan membujuk hatiku yang serakah agar jangan sungkan menikmati kehangatan nafas Deon ketika menerpa kulit leherku, rambut hitamnya yang terasa menggelikan ketika bersentuhan dengan kulitku, wangi tubuhnya yang memenangkan indera penciumanku.


Sigh..


Aku menghirup rakus wangi ini, wangi yang telah memanjakan indera penciumanku di malam itu.


"Almira.."


Deg


Jantungku tanpa bisa ku kendalikan berdetak kencang dengan rasa sakit sebagai pengiringnya.


Sakit sekali ya Tuhan, hatiku masih saja tidak terbiasa dengan kenyataan pahit ini bahwa di dalam hati Deon telah menjadi milik adik kandung ku sendiri.


"....aku merindukanmu."


Aku mengepalkan kedua tanganku untuk menenangkan diri. Tidak ku sangka mendengar ungkapan rindu Deon kepada Almira membuat mataku terasa perih. Padahal aku tidak mau menangis tapi air mataku dengan lancang keluar dari sudut mataku. Sebelum Deon menyadarinya, aku buru-buru mengusap wajahku guna menghapus air mataku. Menyedihkan, aku sangat menyedihkan.


Bahkan di saat tidur pun orang pertama yang selalu Deon impikan adalah Almira, adik kandung ku, kekasih Deon yang sebenarnya.


Tidak, tidak, tidak!


Aku tidak bisa menyesalinya karena inilah yang aku harapkan. Aku akhirnya menikah dengan Deon walaupun hanya pernikahan siri tapi ini sudah lebih dari cukup untukku. Tidak perduli seberapa singkat hubungan ini aku tetap akan mensyukurinya.


Aku bersyukur bisa sedekat ini dengan Deon, hari yang sebelumnya selalu menjadi mimpi terlarang ku ternyata benar-benar terjadi.

__ADS_1


Dengan semua kata-kata omong kosong itu pikiranku sedikit ditenangkan. Bahuku akhirnya kembali rileks. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi untuk mengistirahatkan rasa lelahku setelah seharian melakukan banyak hal.


__ADS_2