
Rain tersentak kaget. Kata-kata penolakan segera tersangkut di dalam tenggorokannya. Untuk sesaat dia lupa bagaimana caranya bernafas karena tangan hangat Deon telah meluncur menyentuh luka jahitan di perutnya.
Luka jahitan-
Luka yang dia dapatkan dari menyelamatkan Deon 5 tahun yang lalu saat para gangster itu menyerang mereka berdua. Ini adalah titik sensitif Rain, titik yang selalu mengingatkan Rain bahwa dia pernah hampir meregang nyawa untuk Deon, namun orang yang pernah dia selamatkan dengan menggadaikan nyawanya ternyata tidak mengingat apa-apa semua pengorbanannya di hari itu.
"Kapan kamu mendapatkan luka ini dan mengapa aku tidak tahu?" Deon bertanya dingin, nada suaranya sarat akan perasaan cemas yang tidak bisa disembunyikan.
Melihat dari luka perut Rain, dia yakin jika ada peristiwa besar dibaliknya. Namun, yang mengherankan adalah dia tidak tahu peristiwa apa yang Rain alami dan bodohnya lagi dia tidak pernah tahu jika Rain mendapatkan luka ini.
Kapan luka ini terjadi?
Dan mengapa Almira atau orang-orang dari rumah Rain tidak pernah mengatakan apa-apa?
Karena Deon yakin Rain tidak pernah mendapatkan luka ini saat mereka masih bersama.
Rain tersenyum tipis, bohong jika dia tidak merasakan kecewa di hatinya. Sempat, beberapa detik yang lalu dia sempat melambungkan sebuah harapan bila Deon mengingat sedikit saja kejadian dari tahun itu karena terlalu melelahkan rasanya bersikap tidak tahu apa-apa selama ini.
"Sudah lama sekali...aku lupa dimana mendapatkannya." Kata Rain seraya menurunkan pakaiannya dengan paksa dan menyingkirkan tangan Deon dari perutnya.
Dia melangkah ke samping untuk memberikan jarak di antara mereka berdua. Dengan menundukkan kepala dia menghindari mata laser Deon darinya, berpura-pura sibuk mengambil air putih dari lemari es dan meminumnya dengan gerakan yang sangat pelan.
__ADS_1
"Jangan biasakan diri minum air dingin," Deon melihat sikap penghindaran nya dan segera mengubah topik pembicaraan.
"Oh..." Rain lambat merespon.
Gelas air putih di tangannya tanpa basa-basi diambil oleh Deon dan digantikan dengan susu pisang dari merk tertentu yang telah memenuhi lemari es di samping kanan.
"Terima kasih." Wajah pucat nya dinodai dengan sentuhan warna merah muda yang jauh lebih hidup dari sebelumnya.
Sentuhan lembut ini menciptakan sebuah kesan bahwa Rain adalah gadis pemalu yang lembut hatinya. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada sisi murungnya yang tampak cukup kesepian.
Sejujurnya Rain terkejut dengan perubahan sikap Deon kepadanya saat ini. Walaupun masih menggunakan suara dingin yang khas, namun nadanya terdengar agak lembut dan jauh dari nada sinis yang menyengat.
Hanya saja ini cukup membingungkan karena apa yang dikatakan Bibi Siti kemarin cukup bertolak belakang dengan apa yang Deon katakan tadi. Ditambah lagi Almira tidak menyukai susu pisang segila yang Rain lakukan. Daripada minum susu pisang, Almira lebih suka minum susu murni tanpa campuran.
Apakah Almira diam-diam menyukai susu pisang tanpa sepengetahuan ku? Atau... mungkinkah Deon berbohong? Batin Rain terjerat rasa penasaran yang sayangnya tidak bisa dia ungkapkan.
"Oh... begitu." Rain mengangguk lemah, senyuman tipis tersungging di wajah cantiknya yang kini mulai kehilangan semburat merah.
"Duduklah, aku akan segera menyelesaikan masakan ku."
Lalu tidak ada yang istimewa dengan cerita selanjutnya karena setelah masakan jadi, Deon hanya mengambil beberapa suap tanpa bicara dan langsung pergi meninggalkan Rain sendirian di dalam dapur. Awalnya Rain kelaparan dan ingin melahap banyak makanan. Namun setelah pembicaraan tadi Rain telah kehilangan selera makannya.
__ADS_1
Dia tidak ingin makan juga tidak ingin tidur, hatinya kosong dengan pikiran yang telah berkelana jauh ke tempat yang tidak bisa jelaskan. Bertanya-tanya sampai kapan dia seperti ini, bertahan dalam cinta bertepuk sebelah tangan yang sangat memuakkan.
Bila seseorang mengetahui jalan kehidupan yang Rain jalani sekarang mungkin orang itu akan bertanya-tanya mengapa Rain diam saja melihat Deon melupakan kejadian 5 tahun yang lalu dan mengapa dia diam saja melihat keluarganya menutupi kejadian itu.
Untuk Rain sendiri, dia akan menjawab jujur bahwa dia tetap diam bukan karena cintanya berkurang tapi karena Deon tidak mencintainya. Rasanya tidak sama dengan apa yang dirasakan Deon karena dihati Deon hanya ada Almira seorang.
Sedangkan Rain?
Dia tahu posisinya dengan benar.
Yah, dia tahu posisinya tapi masih bertanya-tanya mengapa keluarganya juga bungkam dan bahkan memintanya untuk menutup mulut serapat mungkin.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara dingin Deon menarik Rain dari lamunannya.
Rain tersadar dan baru menyadari keberadaan Deon di depan pintu masuk dapur. Eh, bukankah Deon baru saja pergi dari sini? Heran Rain cukup terkejut.
Bersambung...
Kuis nih, bab selanjutnya udah saya tulis jadi tinggal publish. Apakah double up atau tidak ini tergantung pembaca jadi kalau bisa jawab up selanjutnya lebih dari 1 tapi kalau enggak, yah... nanggung wkwkwkw..
Pertanyaannya yah, hobi ini bisa menjadi obat sekaligus racun untuk penulis, coba tebak hobi apakah itu?
__ADS_1