Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 35


__ADS_3

Deon tidak ikut sarapan bersama Rain. Dia langsung pergi ke kantor tanpa perlu repot-repot berpamitan kepada istrinya. Melupakan tugasnya sendiri sebagai seorang suami. Aneh memang, disaat dia menuntut Rain untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang baik maka disaat itu pula dia mengingkari kewajiban sebagai seorang suami yang baik.


Tapi sayang sekali Rain tidak pernah mengatakan sepatah katapun atas semua perilaku Deon pagi ini.


Sedari awal hingga akhir bibir ranumnya tidak pernah berhenti tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. Namun begitu Deon berbalik dan membawa langkah kakinya keluar dari rumah, maka disaat itu pula senyuman dibibir Rain menghilang.


Kelopak mata yang sebelumnya berkibar indah perlahan merendah, menutupi sinar di bola matanya yang secara bertahap meredup.


Makanan di atas meja tidak lagi terlihat menarik. Dia tidak berselera untuk menyentuh makanan itu. Hanya berdiam diri memandanginya tanpa niat menyentuh, Rain tenggelam dalam lamunannya.


Tidak berselang lama sebuah senyuman tipis terbentuk di bibir merah Rain. Dia tersenyum kecut, tangan tipis itu lalu terangkat untuk menyentuh dadanya, meremas kain bajunya dengan perasaan rumit. Menghela nafas panjang, tangan itu lalu menyingkir dari dadanya.


Lantas tangan itu tidak kembali ke atas pahanya melainkan bergerak ringan dibawah kendalinya untuk menarik piring di atas meja, mengambil beberapa sendok nasi goreng dengan uap hangat yang masih mengepul, telur mata sapi, dan suwir ayam yang telah dibumbui dengan baik.


"Aku harus makan." Gumamnya pada dirinya sendiri dan dilanjutkan dengan suapan besar nasi goreng berserta lauk pauknya.


"Jika...aku tidak makan.." Dia berbicara dengan kedua pipi penuh, seharusnya dia terlihat imut dan manis dengan tampilan ini tapi sekarang kesan ini tidak berlaku sama sekali kepada Rain.


Bukannya terlihat imut dan manis, dia malah terlihat... cukup menyedihkan.


"Adikku akan semakin sakit." Sambungnya dengan kedua mata yang mulai terasa perih.


Dia tahu bahwa dia adalah wanita yang cengeng dan menyebalkan. Dihadapkan sedikit masalah saja dia akan menangis seperti anak kecil yang telah kehilangan sebuah permen. Dia terlalu memuakkan. Sangat memuakkan.


Pantas saja...

__ADS_1


Pantas saja selama ini semua orang lebih menyukai Almira daripada dirinya. Karena Almira memiliki penyakit yang mematikan tapi dia tidak mudah menangis. Paling-paling dia hanya akan memendam semuanya dalam diam agar orang-orang di sekelilingnya tidak menyadari penderitaan yang dia rasakan.


Begitulah Almira. Dia memiliki hati yang lembut dan pemaaf, dia dicintai oleh semua orang.


Benar, semua orang mencintai adiknya jadi bagaimana mungkin Rain akan diam saja melihat adiknya kesakitan di ranjang rumah sakit dan membuat semua orang bersedih?


Tolong, Rain bukanlah orang yang munafik. Walaupun cemburu karena Almira memiliki semuanya tapi jauh di dalam hati Rain amat sangat menyadari bahwa Almira memang pantas mendapatkan semua itu. Sebab Almira memang seistimewa yang mereka semua lihat.


Adiknya pantas bahagia.


Sambil menyuap nasinya terus menerus ke dalam mulut pikiran Rain sudah berkelana dimana-mana. Tindakannya ini membuat Bibi Siti khawatir. Dia khawatir majikan barunya tersedak karena makan terlalu cepat tanpa sempat membasahi mulutnya dengan air minum.


"Non Rain jangan terburu-buru saat makan nanti makanannya masuk ke tempat yang salah dan non Rain akan tersedak." Bibi Siti tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak datang menghampiri Rain.


Dia mengambil segelas susu hangat untuk Rain.


Tapi Bibi Siti hanya menganggap angin lalu petunjuk dari Rain dan tetap menyodorkannya segelas susu hangat agar segera diminum.


"Non Rain minum dulu." Desak Bibi Siti.


Rain mengambil gelas susu itu dan ingin meminumnya, namun tiba-tiba tangannya yang mengangkat gelas di udara berhenti. Dia membeku, mulutnya tidak lagi mengunyah makanan, dan hidungnya tanpa bisa dikendalikan menghirup aroma susu yang menguap dari gelas di tangannya.


"Ada apa, non?" Bibi Siti melihat keanehan Rain.


Rain tersadar, dia langsung menelan semua makanan di mulutnya yang baru setengah kunyahan. Tangannya yang sempat berhenti di udara kembali bergerak, membawa gelas itu ke depannya untuk dinikmati.

__ADS_1


Menyesap ringan, Rain sekali lagi dibuat terkejut dan sangat yakin jika susu ini adalah minuman kesukaannya yang biasa dia minum dari kecil.


"Bibi, apakah Deon juga suka minum susu pisang?" Tanya Rain sebenarnya agak terkejut.


Juga,


Susu pisang adalah minuman kesukaan Rain dari kecil dan belum berubah sampai dengan detik ini.


Namun yang mengherankan adalah dia tidak pernah tahu bila Deon menyukai minuman ini karena setahunya Deon lebih suka minum air putih daripada minum minuman berasa. Tapi sudah 5 tahun berlalu sehingga perubahan apapun bisa terjadi. Bisa jadi Deon mengalami perubahan selera beberapa tahun ini.


"Juga, berarti non Rain suka minum susu pisang?" Nada suara Bibi Siti terdengar takjub, anehnya.


Rain tidak mengelak.


"Susu pisang adalah minuman kesukaan ku dari kecil jadi aku selalu meminumnya." Akui Rain, dan dia masih bertanya,"Jadi Deon juga suka minum susu pisang?"


Bibi Siti menggelengkan kepalanya yang membuat Rain jadi bingung,"Tuan Deon tidak suka minum susu pisang tapi entah mengapa tuan selalu membeli produk ini setiap bulan. Bibi juga tidak tahu kenapa tuan Deon tidak meminumnya tapi tidak pernah berhenti membeli produk ini. Produk susu pisang ini telah menumpuk selama beberapa tahun di dalam gudang tanpa ada yang pernah meminumnya. Begitu ada produk yang memasuki tanggal kadaluarsa, Bibi tidak perlu memeriksa dan membuangnya karena tuan sendiri yang akan melakukannya. Hal ini terus berlanjut sampai sekarang dan barulah setelah non Rain datang ke rumah ini tuan meminta Bibi untuk menyiapkan susu pisang ini setiap pagi, siang, dan malam. Ada juga produk susu pisang yang sudah jadi di dalam kulkas jadi bila non Rain ingin meminumnya, tuan bilang non Rain bisa mengambilnya di dalam kulkas."


Selama berbicara Bibi Siti tidak pernah memalingkan wajah tuanya dari wajah Rain. Dia mengawasi dengan cermat setiap perubahan di wajah Rain. Terkejut, tidak percaya, dan ada beberapa lagi.


"Deon... melakukan ini semua?" Kedua tangannya memegang erat gelas hangat di tangannya.


Muncul berbagai macam prasangka di dalam hatinya tapi dia tidak berani mempercayai prasangka prasangka tersebut karena dia terjatuh.


Jatuh rasanya menyakitkan, sungguh.

__ADS_1


Bersambung..


Assalamualaikum, semuanya. Maaf baru bisa up hari ini karena beberapa hari ini saya kurang enak badan. Tapi in sya Allah mulai hari ini saya akan berusaha up seperti biasanya dan in sya Allah tepat waktu 🍃


__ADS_2