
Aneh, aku tiba-tiba mulai mengingat apa yang seharusnya ku ingat dan entah kenapa ku lupakan.
Tapi.. ingatan itu samar dan aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Namun suara Bibi Mei terus menerus merangsang ingatanku tentang hari itu.
"Dia bahkan tidak sempat pulang ke rumah untuk sekedar bertemu denganku karena baginya menemui kamu adalah yang terpenting sebab kamu merupakan keponakan kesayangannya. Tidak lama setelah dia pergi menemui kamu, dia pulang dengan sebuah mobil ambulance dan telah meregang nyawa. Wajahnya kehilangan warna kehidupan, tubuhnya kaku dan dingin, dan dia bungkam enggan berbicara. Dia meninggal karena pendarahan di kepala. Dengat baik-baik Rain, suamiku meninggal karena pendarahan hebat di kepala setelah pergi menyelamatkan kamu. Dia kehilangan nyawa setelah menyelamatkan kamu. Katakan Rain apa yang kamu lihat hari itu? Suamiku tiba-tiba pulang tanpa nyawa, katakan apa yang terjadi pada suamiku hari itu!"
Bibi Mei berteriak kehilangan kendali, menampar wajah ku dengan buket bunga mawar merah yang selama ini dia peluk. Kedua matanya memerah menatap ku nyalang, terlihat begitu marah.
Bibi Mei berteriak-teriak di depanku dan tanpa henti memukul ku dengan buket bunga mawar nya, untunglah ada supir pribadi Bibi Mei di sini. Dia langsung menahan Bibi Mei agar tidak kehilangan kendali lagi.
Tapi fokus ku tidak berada di sini melainkan telah pergi mengingat kejadian hari itu.
"Paman tolong, aku dan Deon tiba-tiba diserang oleh orang-orang tidak dikenal. Mereka semua ingin menyakiti Deon dengan sebuah senjata tajam. Apa yang harus aku lakukan, Paman? Tangan dan kakiku gemetar tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak mau Deon kenapa-kenapa hiks...aku tidak mau Deon kenapa-kenapa, Paman.." Di kepalaku saat ini berdering suara tangisan pengecut ku.
Aku kini mengingatnya. Saat itu gerimis turun membasahi baju seragam sekolah ku dan Deon jadi kami memutuskan untuk pergi dari taman, mencari tempat berteduh dan melanjutkan pembicaraan kami.
Tapi rencana kami tidak bisa direalisasikan karena tiba-tiba segerombolan orang tidak dikenal menghalangi jalan kami, mendesak kami berdua masuk ke dalam gang kecil dengan sebuah senjata tajam di tangan mereka.
Aku dan Deon tidak bisa melawan ataupun berteriak karena mereka mengancam akan melukai salah satu diantara kami jika nekat meminta bantuan.
Tapi untunglah aku memiliki kesempatan untuk menghubungi Paman. Dia adalah seorang polisi yang kuat dan aku berharap dia datang menyelamatkan kami.
__ADS_1
Bukankah orang-orang jahat sangat takut dengan polisi?
"Rain, Rain! Tenangkan dirimu! Paman akan segera menyelamatkan kamu dan Deon tapi kamu harus memberitahu Paman dimana kalian saat ini." Saat itu suara Paman terdengar panik, untuk yang pertama kalinya di dalam hidupku.
Aku belum pernah mendengar Paman kehilangan kendali diri sebelumnya.
Sejujurnya aku menyesali keputusan ku untuk menghubungi Paman hari itu karena untuk menyelamatkan aku, Paman harus kehilangan nyawanya.
Paman berhasil menyelamatkan aku dan Deon tapi dia tidak berhasil menyelamatkan nyawanya sendiri. Karena terlalu fokus mengkhawatirkan pendarahan dari luka diperut ku, Paman lengah. Kepala Paman di hantam oleh sebuah batang besi yang entah darimana orang jahat itu menemukannya.
Paman jatuh sekarat di dalam pelukan ku. Dalam sisa-sisa nafas terakhirnya, Paman memeluk ku seerat mungkin dan mengakui dosa yang selama itu dia tanggung.
Aku sangat sedih dan ketakutan, menangis sejadi-jadinya karena dihadapkan pada situasi yang sulit. Deon telah pingsan di sampingku dan sekarang Paman mengalami pendarahan hebat.
"Hiks... maafkan aku... maafkan aku.." Hanya kata-kata pengecut ini yang bisa kukatakan hari itu.
Aku menyesal telah melibatkan Paman di sini tapi aku juga takut Deon kehilangan nyawa tanpa bantuan Paman.
"Rain Shinaia... jangan menangis, aku... masih kuat. Jika kamu menangis...aku akan sangat sedih. Hatiku sakit jika kamu menangis, hatiku sakit melihatmu menangis, Rain.."
Saat itu aku benar-benar bingung dengan apa yang Paman katakan. Hati sakit dan hancur, kata-kata ini lebih pantas untuk Bibi Mei daripada diriku yang hanya memiliki ikatan keponakan dan Paman dengan suami Bibi Mei.
__ADS_1
Mungkin Paman melihat kebingunganku jadi dia mengatakan sebuah pengakuan, untuk yang pertama dan terakhir dalam hidupku.
"Sayang sekali saat itu kamu masih kecil. Jika tidak...aku mungkin akan menikahi kamu menjadi istriku. Rain Shinaia...aku tidak bisa melupakan kamu bahkan setelah menikah dengan Mei. Aku ingin kamu...tapi kamu sudah memiliki Deon dihati mu. Aku... mencintai kamu, Rain..."
Aku sangat terkejut dan lupa bagaimana caranya bernafas. Ini adalah pengakuan yang sangat gila karena Paman ku sendiri, laki-laki yang ku hormati dan sayangi ternyata menyukaiku sebagai seorang kekasih.
Tuhan tahu betapa terkejutnya aku.
Aku semakin merasa bersalah setelah mengetahui perasaan Paman kepadaku. Aku terpukul dan hilang kesadaran. Aku jatuh koma selama 7 bulan lamanya. Begitu bangun aku mendengar dua kabar yang sangat mengejutkan.
Kabar pertama Paman telah meninggal tanpa ku tahu apa penyebabnya karena saat itu aku tidak ingat apa-apa tentang Paman yang telah menyelamatkan aku dan Deon. Lalu, aku mendapatkan kabar yang lain jika Deon dan Almira ternyata telah resmi berpacaran.
Hubungan mereka berdua didukung oleh kedua keluarga dan diharapkan Almira dapat melahirkan penerus penerus hebat di masa depan.
Aku shock, semua orang langsung memberikan sikap yang berbeda kepadaku. Mereka memperlakukanku dengan sikap yang aneh sambil terus menerus menekankan agar aku menjauh dari Deon, biarkan Deon hidup bahagia dengan Almira tanpa gangguan dariku.
Mirisnya.
Kebencian semua orang di keluargaku, kini aku sudah mengetahuinya karena apa. Kebencian Bibi Mei kepadaku, kini aku telah mengetahuinya.
Aku akhirnya tahu.
__ADS_1