
"Kakak Rain pasti datang lagi'kan ke sini?" Suara lembut Nana, gadis cantik yang sangat suka mengekorinya kemana-mana selama tinggal di panti.
Rain menyentuh pipi chubby Nana, menyingkirkan helaian rambut panjang yang menghalangi wajah cantiknya. Entah apa yang ada di dalam pikiran kedua orang tua Nana saat menelantarkan gadis ini di jalanan.
Dia cantik, dia tumbuh sempurna tidak seperti Rain, dan yang lebih penting lagi hatinya tulus. Atau lebih tepatnya semua hati anak-anak panti ini sangat lembut tanpa noda. Rain tidak habis pikir mengapa para orang tua itu membuang anak-anak ini.
"Kakak pasti datang ke sini, kok. Hem... mungkin setelah ini Kakak akan tinggal dengan kalian semua, gimana?" Dia berencana mengirim lamaran sebagai relawan ke panti asuhan ini.
Hitung-hitung ia ingin melatih dirinya sendiri mengurus anak-anak sebelum bisa memiliki panti asuhan sendiri.
"Sungguh?" Roni, anak laki-laki berwajah bulat itu datang memeluk lengan Rain dengan tatapan berharap.
Rain semakin tidak rela pulang.
"Hem, sungguh. Kakak berjanji akan tinggal bersama kalian di waktu berikutnya!" Dia membuat janji dengan suara kekanak-kanakan.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan ikatan janji dengan anak-anak, Rain dan Bimo lalu mengucapkan pamit kepada mereka sebelum pulang.
Di dalam mobil Rain tidak pernah mengalihkan pandangannya dari gerbang panti asuhan. Dia terlihat tidak rela meninggalkan panti asuhan, padahal dia sudah tinggal di sini selama 3 hari tapi rasanya terlalu singkat untuk Rain.
"Kalau gak mau pulang kenapa gak tinggal aja selama beberapa hari lagi di sana?" Bimo telah melihat perubahan suasana hati Rain 3 hari ini dan dia ikut senang karena Rain sangat menikmati waktunya tinggal di sini.
Seperti yang pernah Rain katakan sebelumnya jika ia sangat menyukai anak-anak dan itu terbukti, Rain jelas tidak asal berbicara.
"Aku juga maunya gitu, Kak. Tapi Papa aku dari kemarin menelpon. Dia bilang aku harus segera pulang.".
"Itu artinya orang tua mengkhawatirkan kamu. Gak apa-apa Rain, setelah ini kamu ngomong baik-baik sama mereka biar bisa nginap lagi di sini." Kata Bimo tidak bermaksud apa-apa.
Khawatir?
Rain tersenyum kecil. Papa dan Mama tidak punya waktu untuk mengkhawatirkannya karena kondisi Almira jauh lebih penting dari apapun atau siapapun, termasuk Rain sendiri.
__ADS_1
"Aku juga mikirnya gitu, Kak. Setelah pulang nanti aku mau ngomong sama Papa soal panti asuhan ini. Rencananya aku mau mengirim lamaran jadi relawan ke panti asuhan." Rain sudah memikirkan rencana selanjutnya.
"Kamu mau jadi relawan di sana?" Bimo sangat terkejut mendengarnya.
"Iya, Kak. Aku mau jadi relawan di panti asuhan biar bisa dekat sama anak-anak, sekalian juga mau latihan gimana caranya ngurus anak-anak." Kata Rain malu.
"Ide bagus, tuh. Kakak dukung, deh. Nanti Kaka kamu butuh bantuan atau apa, jangan sungkan untuk hubungi Kakak. Karena walaupun bukan relawan Kakak kan masih bagian panti asuhan juga, Rain." Katanya modus.
Rain menganggukkan kepalanya malu. Selain Bimo dia tidak punya siapapun yang bisa dimintai bantuan. Jadi mau tidak mau ia tidak punya cara selain menghubungi Bimo bila terjadi sesuatu di masa depan.
Mereka menghabiskan waktu hampir 1 jam di dalam perjalanan. Tidak seperti 3 hari yang lalu, hari ini jalanan lebih senggang sehingga mereka tidak menghabiskan banyak waktu karena macet.
Panti asuhan sebenarnya tidak jauh tapi juga tidak dekat. Panti asuhan terletak di tempat yang agak jauh dari jalan raya sehingga tidak terlalu mencolok. Pihak panti bilang mereka sengaja membangun rumah di tempat yang agak jauh dari jalan raya agar anak-anak tidak berkeliaran di jalan raya.
Ini memang menguntungkan untuk anak-anak tapi pada saat yang sama cukup merugikan untuk pihak panti karena jarang dilirik donatur.
__ADS_1