Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 15


__ADS_3

"Jadi kamu menginginkan ikatan yang lebih dari ini?" Suara cemoohan berasal dari belakang, namanya Sasa, dia adalah sepupu Deon dan bekerja sebagai model di tempat yang sama dengan Almira.


Hubungan Sasa dan adikku sangat dekat, mereka mungkin bisa dikatakan sebagai sahabat yang baik. Pernikahan ini pasti membuatnya sangat tidak puas kepadaku karena Sasa sangat menyayangi adikku, Almira.


"Apa yang kamu tunggu?" Suara datar Deon menarik ku dari pikiran.


Aku tidak berani menatap wajahnya dan langsung mendatangi namaku. Apapun yang dia inginkan dan apapun tujuannya menikahi ku, semua itu bukanlah masalah. Hidup dan tinggal bersamanya sudah cukup untukku. Bernafas di tempat yang sama dengannya sudah cukup untukku.


Setelah aku mendatangi namaku, tiba-tiba tanganku yang sedang memegang pulpen ditarik oleh Deon tanpa persiapan. Alhasil pulpen yang aku pegang terjatuh ke lantai. Aku ingin mengambilnya tapi Deon menarik ku agar berdiri dengan patuh. Dia lalu mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah kotak cincin pernikahan persegi dengan warna merah menyala.


Aku sangat senang dan tidak bisa menahan senyuman di wajahku. Akan tetapi Deon sepertinya keliru karena cincin pernikahan harusnya disematkan di jari manis tangan kiri ku dan bukan tangan kanan. Maka sebelum Deon memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanan, aku buru-buru menarik tanganku. Karena panik tanganku tidak sengaja menyentak tangan Deon dan menyebabkan cincin itu jatuh ke lantai.


"Rain, apa yang kamu lakukan!" Tanya Papa marah kepadaku.

__ADS_1


"Aku... minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya." Kataku tidak berani terlalu lama menatap wajah datar Deon.


"Cek, menyusahkan saja." Cela Sasa di belakang ku.


"Jangan heran, kepalanya memang berpikir lebih lambat daripada Almira." Bahkan tanpa rasa bersalah sedikitpun Bibi Lara merendahkan ku di depan keluarga suamiku.


Aku tersenyum tipis, menjangkau cincin itu dan membawanya kembali ke tangan Deon. Tapi Deon menolak untuk mengambilnya sambil mengatakan,


Sebelum berjalan pergi Papa melemparkan ku sebuah tatapan tidak puas. Jelas dia sangat tidak puas dengan tindakan ku hari ini.


"Apa kamu tidak merasa malu?" Tanya Bibi Mei sebelum pergi meninggalkan ku.


Bibi Mei dan Bibi Lara pergi dengan ekspresi muram di wajah mereka. Mereka tidak sudi memberikan ucapan selamat kepadaku dan secara terus-menerus mengirimkan ku tatapan permusuhan.

__ADS_1


"Ck..ck..trik mu kali ini gagal, Kak Deon pasti sangat membencimu sejak hari dimana kamu menjebaknya. Hahaha.. sekalipun kamu berhasil menikahinya posisi Almira tidak akan pernah tergantikan dihatinya, sedangkan kamu? Kamu hanyalah istri sirinya. Kamu sama sekali tidak berharga dan bisa dicampakkan kapan saja. Jadi aku harap kamu jangan terlalu besar kepala." Setelah memberikan ku peringatan dia lantas pergi menyusul yang lain.


Rain... betapa tidak tahu malunya dirimu menginginkan hal yang sangat mustahil terjadi. Pantas saja kamu dicaci maki oleh mereka tanpa bisa membalas sepatah katapun.


Ya, bodohnya aku lagi-lagi tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya diam menerima semua kata-kata celaan dan cemoohan yang mereka layangkan kepadaku karena aku pikir apa yang mereka katakan tentangku adalah benar.


Aku sangat menjijikkan sampai-sampai Deon memberikanku sebuah cincin palsu yang mudah dihancurkan.


Benar, cincin ini...


Aku membuka genggaman tanganku, memperlihatkan cincin putih yang terlihat sangat indah dengan taburan berlian di atas tapi faktanya cincin ini adalah cincin imitasi. Sisi terdalam cincin mengalami retakan dan terlihat sangat mencolok apabila tidak digunakan.


Cincin ini palsu dan cincin palsu ini adalah hadiah pernikahan suamiku.

__ADS_1


__ADS_2