Calon Adikku Menjadi Suamiku

Calon Adikku Menjadi Suamiku
CAMS-Ep 33


__ADS_3

"Aku-"


"Aku bilang enyah ya enyah! Apa kamu tidak menggunakan otakmu untuk berpikir?!" Teriak Deon tidak sabar.


Rain terkejut, wajahnya langsung berubah menjadi pucat pasi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dan menunggu Deon lebih marah lagi dia langsung pergi dari ruang tengah, membawa kakinya yang sakit melangkah tertatih-tatih masuk ke dalam kamar.


Begitu sampai di depan pintu kamar dia langsung memegang gagang pintu masuk tapi tidak segera masuk ke dalam. Dia mengepalkan tangan kirinya sambil bernafas cepat, menoleh ke belakang, dia melihat pundak lebar sang suami dengan ekspresi sendu di wajahnya.


Dia berharap sedetik saja Deon akan melihatnya, sekedar menatap singkat juga tidak apa-apa apalagi sampai meminta maaf, Rain sungguh berharap. Tapi harapan hanyalah harapan, jika tidak dibuat kecewa maka bukan harapan namanya.


Deon tidak pernah memalingkan wajahnya ke belakang, tidak, Deon tidak melakukannya.


Rain tersenyum kecut, kedua matanya kembali terasa perih dan mulai berkabut. Menghela nafas panjang, dia dengan kecewa masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu seerat mungkin. Setelah mengunci pintu dia tiba-tiba termenung menatap kamarnya, lemas, tubuhnya tanpa daya bersandar di sisi pintu dan jatuh merosot ke lantai seiring keluarnya cairan hangat dari sudut matanya.


"Apa aku benar-benar sanggup, Tuhan?" Adalah kata-kata pertama yang keluar dari mulut bengkaknya.


Apa dia sanggup?


Mereka baru saja menikah, hanya beberapa jam saja dan belum genap 24 jam. Namun dalam waktu singkat itu Deon telah berkali-kali membentak, memarahi, dan mengecewakannya.


"Apa aku benar-benar sanggup?" Tanyanya kecut,"Aku sebelumnya mengatakan tidak apa-apa tapi beberapa jam kemudian tiba-tiba aku berpikir... mungkin aku sebenarnya tidak sanggup?" Hatinya mulai gamang.


Dia bukanlah wanita yang tangguh, yang masih bisa tersenyum dan tertawa setelah direndahkan berkali-kali. Tidak, Tuhan tahu dia tidak sekuat itu dan bodohnya dia pernah melebih-lebihkan diri sendiri.


Dia mengatakan tidak apa-apa tapi setelah melewatinya tiba-tiba dia ragu masih baik-baik saja dan mampu untuk melewati semua ini.

__ADS_1


Dia pikir... mungkin dia tidak sekuat itu. Dia tidak sekuat para wanita di luar sana.


"Tuhan tahu aku tidak salah tapi masih disalahkan oleh semua orang, Tuhan tahu aku membutuhkan cinta tapi tidak pernah mendapatkan cinta dari semua orang, Tuhan tahu... betapa cemburunya aku kepada Almira tapi... tidak ada yang benar-benar mengerti perasaanku. Lantas, sampai kapan aku akan terus berjuang?"


Berjuang untuk keadilan yang dia impikan, berjuang untuk kasih sayang keluarga yang tidak pernah dia dapatkan, berjuang untuk cinta...cinta yang mereka renggut dengan paksa dari dalam hidupnya.


Lantas, sampai kapan Rain akan terus berjuang?


Apakah menyerah dan mengakhiri semua ini adalah pilihan yang baik?


Tapi bukankah semua ini masih belum cukup?


Rain masih belum cukup puas tinggal bersama Deon, melihat Deon di awal pagi dan di akhir malam, belum puas meluapkan perasaan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, maka haruskah Rain bertahan?


Sebentar saja, izinkan dia merasakan semua yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya walau hanya sedikit saja, Rain harusnya masih kuat'kan?


Dia meringkuk menyedihkan di depan pintu sementara kedua tangannya telah terangkat untuk membungkam mulutnya sendiri, mencegah suara isak tangisnya terdengar semakin besar dan membuat Deon terganggu.


Dia lelah,


Tapi sirkuit otaknya yang keras kepala memaksanya untuk bertahan sebentar saja. Pernikahan ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan maka sayang sekali bila dilewatkan. Kesempatan ini tidak akan sering datang di dalam hidup Rain, mungkin ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir di dalam hidupnya karena posisinya di sini...amat sangat tidak adil.


Benar, tidak adil.


Semua ini tidak adil.

__ADS_1


"Kumohon, Tuhan... kuat'kan lah hatiku sampai hari dimana semua ini seharusnya berakhir. Sebentar saja... hanya sebentar saja, aku ingin hidup dengan Deon..." Dia masih melambungkan kata-kata yang sama, doa yang sama, dan harapan yang sama.


Naif memang, jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun sadar jika dia adalah wanita yang bodoh. Bodoh karena perasaan bertepuk sebelah tangan yang telah mengakar dalam sedalam-dalamnya di hati.


Lucunya,


Meskipun dia menyadari semua kebodohan ini tapi hatinya menolak untuk menyerah sementara pikirannya berteriak untuk bertahan.


Hah, bukankah dia dengan segala jalan pikirannya sangat memuakkan?


Mau bagaimana lagi, ini adalah takdirnya dan dia tidak menemukan solusi untuk semua situasinya sekarang.


Rain, entahlah, hanya Tuhan yang tahu apakah ini sebuah keberuntungan untuk hidupnya karena bisa terikat dengan belahan jiwanya, atau justru sebaliknya, ini adalah sebuah kesialan untuk hidupnya karena harus terjebak di ranjang pesakitan,


... untuk yang kedua kalinya.


"Hiks..." Buram, pandangannya menjadi semakin buram saat rasa kantuk melanda.


Dinginnya malam yang menggigil tanpa permisi mulai merambat di atas kulit tipis Rain, dia kedinginan? Tidak, dia merasa baik-baik saja kecuali untuk hatinya... yang sudah lama kesepian.


Perlakuan kedua mata yang selalu bersinar lembut itu meredup, kelopak matanya menjadi berat, berat hingga ia tidak bisa mengangkatnya.


Lelah,


Dia akhirnya jatuh tertidur. Melupakan ranjangnya yang empuk dan meninggalkan selimutnya yang hangat. Saat ini tidur di depan pintu rasanya jauh lebih nyaman,

__ADS_1


Nyaman...Hem, siapa yang tahu apakah ini fakta atau mungkin hanya kata-kata penipuan di dalam hatinya untuk mengelabui sunyi.


Malangnya.


__ADS_2