
"Kenapa kamu diam, Rain?" Suara bias Bibi Mei kembali menarik Rain dari alam bawah sadarnya.
Rain tersadar, bola matanya bergerak linglung melihat Bibi Mei. Dia seperti dipaksa bangun dari sebuah mimpi buruk, sadar tapi masih belum bisa melepaskan diri dari pengaruh mimpi buruk itu.
"Kamu mengingatnya'kan? Aku tahu kamu mengingat kejadian hari itu jadi berhentilah berpura-pura tidak tahu?!" Bentak Bibi Mei dengan sorot mata yang tajam.
Rain sedih dan pada saat yang bersamaan ketakutan. Lehernya tanpa sadar mengkerut ingin bersembunyi dari Bibi Mei. Jujur saja Rain bukanlah orang yang pandai berbicara dan bermain kata-kata sehingga dihadapan sekelas Bibi Mei, dia tidak ada bedanya dengan manusia pengecut.
Rain tahu tapi sangat sulit untuk melepaskan dirinya dari 'gelar' pengecut ini karena itulah penyakitnya.
Dia sakit tapi tidak ada yang mau mengerti kondisinya.
"Aku baru mengingatnya... sebelum ini tidak ada yang mau memberitahuku mengenai Paman. Aku... sangat menyesal telah melibatkan Paman hari itu. Bila aku tahu Paman akan...hiks.." Ia menggigit bibirnya sekuat mungkin untuk menahan isak tangisnya.
Wajahnya pasti terlihat sangat memuakkan di mata Bibi Mei dan tangisan penyesalan ini tidak akan pernah bisa masuk ke dalam mata Bibi Mei, ia tahu seberapa buruk kesannya kepada Bibi Mei tapi bodohnya ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak menangis.
Dia sangat sedih mengetahui penyebab Paman mati adalah karena dirinya sendiri.
"Kamu sangat licik, Rain." Suara Bibi Mei terdengar putus asa.
Kenapa?
Tapi Rain tidak berani menatap Bibi Mei, bahkan sekedar bersuara untuk menimpali saja dia sangat ragu.
"Hari itu... kenapa bukan kamu saja yang mati?"
Deg
__ADS_1
Pikiran Rain langsung menjadi kosong, badannya menegang tidak bisa digerakkan namun air mata di pelupuk matanya tidak berhenti mengalir.
Kata-kata kejam ini,
Rain tidak menyangka suatu hari dia akan mendengarnya dari mulut seseorang yang dia labeli sebagai 'keluarga'.
"Kenapa bukan kamu, Rain? Bukankah hidupmu selama ini tidak ada gunanya? Kamu sakit mental dan tidak bisa disembuhkan, jadi kenapa bukan kamu saja yang mati?!"
Rain juga tidak tahu kenapa.
Seperti yang Bibi Mei bilang dia tidak ada gunanya hidup dan sangat menyusahkan karena gangguan psikologis yang sudah bertahun-tahun menggerogoti jiwanya. Rain bertanya-tanya,
Ya, mengapa aku tidak mati saja? Batinnya kosong.
Tidak ada yang benar-benar membutuhkan hidupnya di dunia ini lalu kenapa dia masih hidup?
Toh, hidup juga tidak berguna. Dia hanya membuat keluarganya semakin menderita. Benar, sakit mental.
Ironisnya.
"Seharusnya yang mati adalah kamu. Karena kehadiranmu di rumah semakin memperburuk keadaan, kamu menghancurkan kedamaian kami. Pertama, kamu merebut cinta suamiku lalu merenggut nyawanya, dan sekarang kamu merebut calon suami adikmu sendiri, memaksamu agar menikah denganmu! Apa kamu puas, sekarang?" Setiap kata Bibi Mei bagaikan sebuah pisau tak kasat mata untuk Rain.
Menggores hatinya terus menerus tanpa henti, menciptakan luka baru dan semakin membuat luka lama mengaga kembali basah.
"Mengapa ini salahku?" Bisik Rain linglung.
Mengapa ini menjadi salahnya?
__ADS_1
Paman jatuh cinta kepadanya, apa ini masih salah Rain?
Dia bahkan tidak pernah tahu perasaan Paman sebelum pengakuan hari itu tapi mengapa Bibi Mei menyalahkannya untuk kesalahan yang tidak pernah dia lakukan.
Mungkin... mungkin kematian Paman adalah salahnya tapi bagaimana dengan perasaan Paman?
Rain tidak tahu apa-apa.
Dan Deon juga pernikahan ini, sejak awal Rain tidak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara. Mereka semua asal membuat keputusan tanpa mempertimbangkan pendapatnya, jadi apakah ini masih menjadi salahnya?
"Bibi Mei..." Rain mengepalkan kedua tangannya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya bertatapan langsung dengan wajah sendu Bibi Mei.
Tanpa bertanya pun Rain tahu betapa hancur perasaan Bibi Mei saat ini. Tapi... Rain juga sama hancurnya.
"Aku menyesali kebodohan ku untuk kepergian Paman, aku mengakui bahwa hari itu adalah kesalahanku. Tapi..." Air mata kembali meluap dari sudut matanya,"Apa ini masih salah ku? Perasaan Paman kepadaku, apa ini masih salah ku? Pernikahan ku dan Deon, apa ini masih salah ku? Kalian..hiks.." Jantungnya sakit.
Dia lelah terus menerus disalahkan tapi bodohnya dia adalah orang yang pengecut, dia adalah orang yang pengecut!
Karena kondisi mentalnya dia selalu kesulitan berbicara, mengungkapkan kesedihan dihatinya dan kesulitan untuk meminta keadilan. Dia sakit, dia sakit!
Tapi mengapa mereka tidak mau mengerti situasinya padahal mereka semua tahu penyakitnya, mereka semua tahu bahwa dia bukanlah orang yang normal?!
Mengapa mereka begitu tidak adil?
"Kalian tidak mengizinkan ku berbicara dan membela diri. Setiap kali aku mengatakan kebenarannya kalian selalu menolak untuk percaya dan tetap mengecap ku sebagai orang yang salah. Memangnya kenapa? Terlepas kebenaran yang kalian tolak bukankah Deon harus...menikahi ku? Jadi kenapa aku-"
"Menjijikkan." Potong Bibi Mei muram.
__ADS_1
"Sebelumnya masih ada simpati dihati ku untukmu karena biar bagaimanapun kamu adalah keponakanku juga. Tapi sekarang setelah mendengarkan apa yang kamu katakan tadi aku tiba-tiba menyadari jika kamu adalah orang yang munafik, Rain. Kamu bertanya apa ini semua salahmu? Aku jawab, ya! Ini semua adalah salahmu!. Tapi kamu tidak tahu diri, Rain. Jika tidak, kamu pasti tidak akan tega menghancurkan kehidupan Almira. Jika kamu benar-benar memiliki hati kamu pasti tidak akan pernah membiarkan dirimu terus menerus memikirkan Deon, calon suami adikmu sendiri. Sadarlah, Rain! Deon kini sudah memiliki Almira dihatinya. Dia bukan lagi anak laki-laki yang selalu kamu tempeli kemana-mana! Deon akan segera menikah dengan Almira jadi kamu harus segera bangun! Bangunlah dari fantasi mu atau kalau tidak kenapa kamu tidak mati saja agar tidak ada lagi yang menderita karena perbuatan mu!"
Bangun atau matilah!