
Aku bangun pukul setengah 5 pagi. Begitu bangun aku terkejut saat menyadari bahwa aku selama ini tidur di lantai dan bukan di atas ranjang. Lalu, ingatan tentang semalam membanjiri kepalaku.
Semalam, sebelum menangis seperti orang gila aku dan Deon sempat berciuman. Sikap Deon tadi malam sama seperti malam 'kecelakaan' itu, agresif dan sedikit... posesif? Entahlah, itu hanya kenangan sesaat.
Lalu, tiba-tiba Deon menjadi marah kepadaku. Membentak ku dengan nada marah juga kasar, dan aku terbawa perasaan. Masuk ke dalam kamar hanya untuk menangis,
Hah...
Drama sekali. Rain, kamu sangat menyebalkan.
Tersenyum kecut, aku lalu bangun dari lantai dan mengambil pakaian baru dari lemari. Saat mengambil pakaian atensi ku tiba-tiba ditarik oleh jas hitam milik Deon. Jas ini adalah jas yang aku kotori dan karenanya Deon ingin membuangnya. Tapi aku tidak bisa membuangnya maka aku menyembunyikannya di dalam lemari, seperti ini.
"Sayang sekali aku tidak bisa melihatmu menyebut namaku di depan Papa saat akan menghalalkan ku. Saat itu kamu pasti terlihat sangat mempesona, Deon." Bisik ku menyesalkannya.
Salahkan tradisi keluargaku yang terlalu berbelit-belit atau mungkin itu karena kesepakatan antara Deon dan keluargaku sendiri yang tidak ingin terlalu membuang banyak waktu.
"Sigh, sudahlah. Aku tidak boleh merusak hari baruku dengan semua pikiran menyebalkan ini." Kataku berusaha mengusir semua pikiran berbelit ini.
Aku mengambil nafas panjang, menutup lemari dan membawa langkah ku masuk ke dalam kamar mandi.
1 jam kemudian aku sudah selesai membersihkan diri, mengganti baju, dan membersihkan kamar ku. Sebagai seorang istri aku sekarang memiliki kewajiban yang jauh lebih besar dari sebelum menikah jadi aku tidak boleh lalai dan bertindak ceroboh.
"Pagi, Bibi Siti. Dimana, Deon?" Sapa ku kepada Bibi Siti yang baru saja keluar dari dalam dapur dengan piring mengepul.
__ADS_1
Bau makanannya sangat lezat. Ini adalah sarapan pertamaku di rumah Deon, ehem... mungkin mulai sekarang aku bisa memanggilnya dengan sebutan rumahku juga.
"Pagi, non Rain. Tuan Deon masih belum keluar dari kamarnya." Bibi Siti melirik jam dinding yang terus-menerus berdetak ringan,"Mungkin sebentar lagi Tuan Deon akan segera keluar, non Rain."
Tepat setelah Bibi Siti mengatakannya, pintu kamar Deon tiba-tiba terbuka. Dia keluar dengan pakaian kantor yang sudah rapi dan berkelas, aura ditubuhnya tampak lebih berbeda dengan pakaian ini.
Aku tercengang, kedua tanganku spontan mengepal menelan rasa pahit di dalam mulutku. Dia sangat tampan hari ini dengan pakaian itu tapi kenapa Deon pergi ke kantor hari ini?
Bukankah dia seharusnya mengambil cuti pernikahan?
Tenggelam dalam lamunan, aku tidak menyadari bila wajah Deon langsung menjadi masam saat melihat semua makanan yang tersaji di atas meja. Keningnya berkerut tampak terganggu sebelum beralih melihatku,"Kamu membiarkan Bibi Siti yang memasak?"
Tersadar, aku buru-buru berkata,"Maaf, aku tidak bisa memasak. Tapi-"
Istri, yah. Semua yang Deon sebutkan tadi adalah kewajiban ku sebagai seorang istri. Bodohnya aku masih mengandalkan Bibi Siti.
"Maafkan aku, hari ini aku ceroboh dan melupakan kewajiban ku. Tapi setelah ini aku berjanji tidak akan ceroboh lagi dan menyelesaikan semua tugas-tugas." Ini murni kesalahan ku.
Deon anehnya tersenyum, tapi... kenapa aku merasa jika senyumannya terlihat tidak tulus. Atau mungkin bisa kubilang jika senyuman itu memiliki makna ejekan?
"Jangan meminta maaf terus karena maaf mu tidak bisa mengubah apapun. Cukup lakukan dengan tindakan mu agar aku bisa melihat kesungguhan mu dalam meminta maaf."
"Aku...aku berjanji tidak akan teledor lagi." Janji ku bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Dia kini tidak tersenyum lagi, bola matanya bergerak singkat seperti baru memikirkan sesuatu.
"Rain, rumah ini bukanlah rumah kedua orang tua mu. Mungkin di sana kamu diperlakukan selayaknya ratu yang disegani maka maaf, di sini kamu hanyalah seorang istri, tidak lebih. Jadi tolong perhatikan sikap mu di masa depan sebelum melakukan sesuatu."
Artinya jelas, aku harus melakukan semua kewajiban ku sebagai seorang istri yang baik, tidak boleh melakukan tindakan apapun di luar tugas sebagai seorang istri tanpa persetujuan dari Deon.
Jujur, aku senang. Meski Deon mengatakannya dengan wajah datar tapi semua kata-katanya berarti sebuah pengakuan bahwa aku adalah seorang istri, istrinya.
Maka bagaimana mungkin aku menolak melakukan semua perintahnya?
"Aku tahu, aku tidak akan ceroboh lagi di masa depan." Ku ulangi janji yang sama.
Dia memalingkan wajahnya dariku tanpa mengatakan sepatah katapun. Ku perhatikan bila dasi formal yang melingkari kerah bajunya telah diikat rapi, dengan kata lain dia tidak membutuhkan bantuan ku untuk mengikat simpul dasi.
Tas kerjanya juga sudah ditenteng di tangan kanan, tampak cukup berat karena mungkin ada banyak sekali dokumen di dalamnya.
"Bi Siti,"
"Ya, Tuan?" Bibi Siti menyapa Deon dengan senyuman lembut keibuan di wajah tuanya.
Perasaan hangat yang Bibi Siti bawa sangat menenangkan dan terlihat cukup bersahaja jadi orang-orangnya tidak akan ragu menyukainya, termasuk diriku sendiri.
Aku juga kagum dengan Bibi Siti karena dia tidak bersikap canggung setelah dimarahi oleh Deon semalam. Seharusnya aku mengikuti jejak Bibi Siti, kan?
__ADS_1
"Awasi dia di rumah."